/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Jumat, 29 Januari 2016

29 ke-60 (Satu Tahun Tanpamu)

Satu tahun telah berlalu sejak kepergianmu, dan aku masih saja ragu untuk meninggalkanmu. Aku masih bertanya-tanya pada hati, jika kamu sanggup berbahagia tanpaku, lantas mengapa aku masih saja menderita tanpamu? Apa karna kamu yang pertama? Apa karna kamu yang sudah dengan berani memulai segalanya? Apa karna kamu satu-satunya yang mampu membuka hatiku? Apa karna kamu satu-satunya yang mampu mendobrak seluruh pertahananku dulu? Apa karna kamu yang pertama sanggup meluluhkanku dengan tak berdayanya?

Satu tahun berlalu sejak kepergianmu, aku masih di rundung pilu, aku tetap berdiri di atas pijakanku, aku tetap tidak tahu kemana arah yang harus ku tuju. Aku kelu. Aku masih saja membisu. Berkali-kali aku mendengarkan lagu-lagu yang selalu kau nyanyikan dulu saat bersamaku. Terkadang, aku menangis mendengar setiap lirik katanya. Terkadang aku menangis setiap kali suaramu masih terdengar jelas di telingaku. Aku masih ingat setiap kata yang kau ucapkan ataupun yang kau nyanyikan. "Aku menggila", batinku.

Lima tahun sudah aku mencintaimu, dan aku ikhlas sepenuhnya menyayangimu dalam diamku. Satu tahun sudah ku lewati tanpamu. Satu tahun sudah aku berjalan tertatih melewati waktu tanpa hadirmu. Satu tahun berlalu dan aku masih menata hati yang sudah terlampau rapuh karna kehilanganmu. Satu tahun sudah aku lewati tanpa mendengar hangat suaramu. Satu tahun aku lewati gelapnya hari tanpamu. Satu tahun sudah aku lewati tanpa perseteruan denganmu. Satu tahun sudah aku merapuh. Dan satu tahun sudah aku membeku.

Hari ini adalah tanggal 29 ke-60. Tanggal 29 Januari kelima sejak aku berikan hatiku seluruhnya kepadamu. Satu tahun tanpamu. Yang aku ingat adalah, ini bukan pertama kalinya aku kehilanganmu, ini bukan pertama kalinya kau meninggalkanku, dan ini bukan tanggal 29 Januari pertama yang ku lalui tanpamu. Tapi yang tak bisa ku mengerti sampai detik ini hanyalah, kenapa aku masih belum terbiasa bernafas tanpamu meski kau berkali-kali pergi dari hidupku? Mengapa kepergianmu masih saja menyisakan sesak yang teramat menyakitkan di relungku?

Lima tahun, aku mengabdikan hatiku untukmu. Lima tahun ku serahkan seluruh hatiku untuk menyayangimu. Telah ku ikhlaskan jiwaku untuk mencintai segalamu. Lima tahun sudah, ku jadikan kau segalaku. Ku rasakan setiap desir perih yang ku nikmati untuk merindumu. Lima tahun aku menjadi pengawasmu tanpa pernah benar-benar merasa menjadi kekasihmu. Lima tahun ku habiskan persimpuhanku untuk penjagaanmu. Lima tahun sudah ku habiskan waktuku untuk mengkhawatirkan dan mencemaskanmu.

Lima tahun sudah, dan kini aku melepasmu sepenuhnya. Telah ku relakan kecewaku atas ingkarmu. Ku lepaskan segala ikatanku denganmu, baik ikatan janji maupun ikatan hati. Lima tahun telah ku persembahkan hatiku hanya untukmu meski kau telah menemukan alasan untuk meninggalkan setiamu. Aku relakan keinginanmu untuk pergi dari sisi. Lima tahun rasaku cukup untuk mencintamu, dan kini ku biarkan kau meninggalkanku. Aku diam tanpa kata terakhir melihat kepergianmu. Aku diam meski lara menjerit kesakitan.

29 Januari kelima; satu tahun tanpamu. Berdoalah agar aku tidak lagi menulis "tiga belas bulan sejak kepergianmu", "empat belas bulan sejak kepergianmu", sampai "dua tahun tanpamu" maupun "tiga tahun tanpamu". 29 ke-60, kini tiada lagi "kita". Aku meniadakanmu dalam hidupku. Aku meniadakan Rhevie dalam duniaku. Dongeng tentang bahagia yang ku tuliskan, ku hapus tak bersisa. Segala cerita kini menjadi air mata. Ku benam segala rasa yang masih ada. Ku relakan kau dan segala kenang yang masih tersisa.

Lima tahun telah berlalu. Ku ikhlaskan segala rasa yang ku punya untuk mencintaimu. Lima tahun telah berlalu, dan kau telah memilih pergi dariku. Lima tahun aku menyayangimu meski aku sering menyakitimu tanpa sadar. Kamu pergi dan aku tetap diam. Bintangku, pergilah tanpa pernah mengingat ada aku yang selalu menunggumu. Kini kau tak perlu lagi menyandingkan angka 01 dengan angka 13. Kini kau tak harus lagi menambahkan Vie di belakang Rhe. Cintaku, Bintangku, Harapanku, Mimpiku, Duniaku, Segalaku, ku ikhlaskan kamu dengan bahagiamu yang baru.





                Selamat tanggal 29 ke-60 untuk masa lalu. Selamat berpisah.

Jumat, 01 Januari 2016

Harapan Baru

Pergantian tahun telah tiba. Aku mengingat satu tahun yang lalu kita masih bersama, tapi kini aku merayakan tahun baru dengan keluargaku dan tanpamu, dan kamu dengan kekasih barumu mungkin ada harapan yang baru. Aku tanpamu, entah harus aku ibaratkan sebagai apa. Kini yang aku tahu hanyalah, aku dan kamu tak pernah ditakdirkan untuk bersatu. Apa aku yang terlalu sempurna untukmu, atau kamu yang memang tak pernah menginginkanku. Menyentuhmu saja kini bagaikan menggenggam asap.

Beberapa hari terakhir ini aku terlalu risau. Terlebih semenjak kamu berkata bahwa dirimu kini tak lebih baik dari kamu yang dulu. Aku begitu galau dan risau. Malam ini, entah bagaimana, aku merasakan ketakutan yang begitu mendalam. Kecemasan dan kekhawatiran seakan memelukku dengan begitu eratnya. Gelisah dan perasaan yang begitu kacau rupanya sukses melanda. Aku berfikir, apa kau baik-baik saja? Semoga kamu tidak melakukan apapun yang membuat dirimu menjadi semakin rusak.

Tahun yang baru, mungkin adalah awal yang baru bagi kamu, dan harapan yang baru untukku. Tapi lagi-lagi harus tetap kamu. Aku harap, awal yang baru mampu menuntunmu pada jalan yang baru. Jalan terang yang akan membawamu pada kedamaian. Jalan terang yang akan membimbingmu pada keharusan menjadikan diri sebagai pribadi yang lebih baik lagi. Tahukah kamu, saat kamu membiarkan dirimu terjatuh pada jurang kehancuran, saat itu juga kamu melukaiku dengan menusukkan jarum-jarum kekacauan dalam hidupku.

Aku tahu, bukan lagi menjadi tugasku untuk mengawasimu. Bukan lagi menjadi tugasku untuk selalu mengingatkanmu, atau bahkan menegormu ketika kamu melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu. Bukan lagi aku yang harus melakukan segala hal untuk menjagamu tetap berada dalam garis kebaikan. Dan untuk semua hal yang tak dapat aku lakukan, mampukah kamu berjanji agar kamu menghindari segala hal buruk yang mungkin begitu menggodamu? Sanggupkah kamu menjaga dirimu dengan sebaik-baiknya?

Disinilah aku, sayang, yang tak henti memohon perlindungan untukmu dari Penciptamu. Inilah puncak kecemasanku akan keadaanmu. Di awal tahun yang baru ini, aku berharap kamu selalu berada dalam lindungan-Nya. Aku harap kamu selalu mendapatkan segala yang terbaik untuk kehidupanmu. Berharap agar kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman selalu menyertai hatimu. Aku harap kamu terhindar dari segala keburukkan yang berada di sekitarmu, maupun yang akan kau lakukan. Aku harap kesuksesan semakin mudah kau dapatkan.

Segala hal yang ku takutkan dan aku cemaskan darimu, semoga tak pernah terjadi yang seperti itu. Meski luka dan kecewa masih merundungku, semoga kau tak merasakan yang ku rasakan. Dan andai aku dapat memohon di depanmu; aku mohon jagalah dirimu. Aku mohon jauhkan dirimu dari segala sesuatu yang mampu merusakmu. Aku mohon agar kamu mau membawa dirimu sendiri kedalam perubahan yang lebih baik. Jika kamu tidak pernah menginginkanku untuk mengatur hidupmu, maka bisakah kamu untuk tidak membiarkan dirimu sendiri terseret dalam arus kehancuran?




Dari aku yang mengharapkan surga untukmu.
Cute Blue Flying Butterfly>