/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Rabu, 30 Maret 2016

the feel in video

Hai masa lalu, lama tak berjumpa denganku, apa kau tak ingat aku? Tak apa jika memang begitu. Biar aku perkenalkan diriku. Ini aku, serpihan kecil dari masa lalumu, wanita yang sudah dengan berani memasuki hidupmu dan mencoba merubahmu, wanita yang sudah dengan lancang mencintai dan merindukan tanpa batas. Aku adalah wanita yang kau tinggalkan tanpa penjelasan atas kesalahan apa yang telah aku lakukan. Akulah wanita yang kau hukum tanpa henti, membiarkanku bertahun-tahun bertanya dalam hati, menyalahkan diri, kesalahan apa yang membuatmu pergi?

Jika kau berhasil menghapus ingatanmu tentangku, selamat! Tapi aku tidak melakukan hal yang sama denganmu. Aku masih mengingat sekecil apapun darimu. Apa kau mau tahu segala hal tentangmu yang masih melekat di memoriku? Akan aku ingatkan. Aku ingat bagaimana suaramu ketika kau sedang mengantuk, ataupun saat kau terbangun dari tidurmu. Aku ingat bagaimana raut wajahmu yang sedang menahan kantuk, ataupun raut wajahmu yang baru tersadar dari tidurmu. Suaramu, wajahmu, caramu tertawa, emosimu, amarahmu, sabarmu, tangismu, aku tahu.

Hai masa lalu, aku bahkan masih ingat sebanyak apa keringatmu saat kau makan dengan sambal yang ku pikir takkan baik untuk kesehatanmu. Aku bahkan ingat bagaimana caramu makan dan minum. Hal yang takkan pernah bisa ku lupakan adalah saat kau berkata "aku punya kabar baik, aku diterima kerja, besok aku udah mulai kerja" dengan tersenyum, atau saat kau kesulitan di awal-awal kamu bekerja dan kamu menangis karna kamu belum terbiasa dengan semua pekerjaan yang semakin menumpuk tapi pekerjaan satu saja belum kau selesaikan, dan saat kamu datang kepadaku dengan begitu cerianya kamu berkata "sekarang aku kerjanya udah cepet dong, udah bisa, udah gak lama lagi" (it's my happiness, you know?).

Semua tentangmu, takkan mungkin bisa aku jabarkan. Begitupun rasa yang kau tinggalkan. Inilah aku,  yang hatinya kau hukum bertahun-bertahun. Inilah rasaku.


Rabu, 23 Maret 2016

Dearest

Ayah. Sosok yang memiliki begitu banyak makna, tapi tak ku temukan makna itu dalam duniaku. Cinta pertama yang ku miliki sejak aku terlahir di fana. Tapi dimana kau? Tak ada. Ragamu tak lagi bisa ku sentuh, wujudmu tak bisa lagi ku lihat, dan suaramu tak lagi dapat ku dengar. Ayah, Cinta sejati yang murni. Amarahmu yang membuktikan kenakalanku, kini tak lagi ku saksikan sejak enam setengah tahun yang lalu. Rangkulanmu tak bisa lagi ku rasakan sejak kau pergi. Seharusnya kau tetap disini.

Ayahanda, seharusnya sosokmu tetap ada, tetap setia, tetap menjaga tubuh kecil ini yang tak sekuat perlindunganmu. Seharusnya tak kau tinggalkan aku secepat itu. Seharusnya kau tak pergi saat aku baru memasuki usia remaja, sehingga takkan kau biarkan aku terperosok pada jurang kegelapan. Seharusnya tak kau biarkan aku berdiri dalam keputus-asaan saat ini. Seharusnya kau ada untuk mengajarkanku menjadi wanita yang tangguh, tapi kau pergi meninggalkan banyak ketakutan dalam duniaku.

Ayahanda kekasihku, kepergianmu membuatku takut akan kesalahan-kesalahan yang akan aku lakukan. Ketakutanku akan memilih jalan, memilih pasangan, menentukan arah tujuan, kau tinggalkan aku sendirian dengan segala ketakutan yang kau timbulkan karna ketidak-hadiranmu. Keputus-asaan yang keadaan ciptakan, lantas bagaimana caraku meniadakan? Bagaimana aku bertahan dalam setiap terpaan keresahan? Karna seharusnya kau ada untuk ajarkan aku segalanya, segala yang tak ku bisa.

Duhai cinta pertamaku, bukankah seharusnya kau masih disini, memarahi setiap laki-laki yang berusaha mendekati putri kecilmu? Melindungiku dari setiap bahaya yang ada? Bukankah seharusnya kau ajarkan aku terlebih dahulu, segala sesuatu yang bersifat semu. Bukankah seharusnya kau beritahu aku terlebih dahulu, bahwa tak sembarang laki-laki boleh mendekatiku? Bukankah seharusnya kau tidak pergi secepat itu? Meninggalkanku dengan segala hal yang belum ku tahu? Bukankah seharusnya tak kau biarkan ada satu orang pun yang bisa melukai hati putrimu?

Wahai ayahanda tercinta, sosok yang selalu mengorbankan segalanya demi sebuah bahagia untukku, bidadari kecilmu. Kau pergi di saat aku masih sangat membutuhkanmu. Kau tinggalkan aku di saat aku memerlukan perlindunganmu. Kau tak ada untuk menuntunku kembali saat aku hilang arah. Tak kau tunjukkan dimana letak cahaya bahagia yang selalu ingin kau berikan itu. Karna tak mungkin kau biarkan aku jatuh, terbelenggu dan terinjak. Karna tak kau berikan aku kekuatan yang selalu kau pancarkan untuk melindungiku.

Duhai ayah, andai kau tahu, meski kau berada di dunia yang berbeda, aku berharap kau kembali, berharap kau tetap ada di sisi. Karna tak ada yang dapat diharapkan dari seorang gadis yang beranjak dewasa tanpa bimbingan ayahnya, kakak laki-laki pun tak punya. Segala sesuatu yang ada, perlahan menghilang tak bersisa.


Sabtu, 19 Maret 2016

Di Sebrang Jalan

Di sebrang jalan, aku berdiri sendiri. Yaa, hampir setiap hari, di pinggir jalan itu aku berdiri, dengan seragam putih abu-abu aku menunggu angkutan umum, tapi bukan sekedar itu aku berdiri bahkan sampai setengah jam berlalu dan angkutan umum berbelas kali melewatiku. Ada yang lebih membuatku menunggu. Seseorang yang ku tahu ia bukan milikku. Dengan tatapan nanar aku melihat ke sebrang jalan, dengan diam tetap menunggu meski tahu ia takkan datang.

Jantungku berdebar tak karuan seakan ia akan datang, tapi bahkan sampai hati pilu aku pulang menelan kekecewaan. Ia tak akan pernah bersusah payah berlari mengejarku seperti aku mengejarnya bukan? Dia tetap tidak akan datang meski berjam-jam aku menantinya datang. Sebrang jalan itu tetap kosong, tetap tak ada laki-laki berkulit hitam dan bertubuh besar yang sosoknya selalu aku nantikan. Aku tetap berdiri dalam kehampaan yang begitu menyakitkan. Dia tak pernah datang.

Bulan, bahkan tahun berganti, dan aku tetap berada di sebrang jalan dengan harapan yang menggumpal. Laki-laki yang genggamannya telah menjadi milik adik kelasku itu tetap tak pernah berada di hadapan. Ia tetap menjadi laki-laki yang sosoknya tak akan pernah mampu aku gapai. Sosok yang meski bertahun-tahun aku berada di sisinya, segala keadaannya aku tetap ada, tapi tak pernah bisa ku miliki hatinya. Hati yang tak pernah bisa menjadikanku segalanya.

Aku berjalan melewati setiap lorong jalan sekolahan dengan keadaan hati yang patah, yang setiap detiknya semakin parah, kemudian aku berdiri di sebrang jalan itu, berharap ia akan berlari untuk mengejarku, dan aku bisa melihatnya berdiri di sebrang jalan itu. Laki-laki yang setiap detiknya aku cintai, yang sosoknya ku cemaskan setiap saat, tak pernah ku dapatkan bahagianya. Seseorang yang pernah meneteskan air matanya di bahuku, ia tak pernah berlari ke arahku walau hanya untuk sebuah temu.

Dengan harapan aku membayangkan, dia berlari ke arahku, dia berdiri di sebrang jalan itu, dan aku berada di sebrangnya menantinya. Aku membayangkan laki-laki yang alisnya sedikit terpotong itu menatapku di sebrang jalan, tersenyum dengan sinar cinta di matanya, menghampiriku yang tengah menunggunya. Aku membayangkan ia datang, ia hadir dengan segala harapan yang sebelumnya ia janjikan. Tapi tidak, mungkin memang aku yang terlalu menginginkan hadirnya disana.

Selama apapun aku berdiri menantinya, ia takkan datang. Ia tak pernah berlari mengejarku seperti aku yang selalu mengejarnya. Ia takkan pernah hadir meski hanya untuk sebuah temu. Meski rindu menyulut jiwaku, meski janji banyak ia beri, dia tak pernah berada di sebrang jalan itu untuk menemuiku. Ia tak pernah tahu ada aku yang hampir setiap hari menunggunya. Dia tak pernah tahu ada aku yang selalu mengharapkan kedatangannya. Di sebrang jalan itu, pertama kali aku menunggunya untuk pulang sekolah bersama. Di sebrang jalan itu, aku selalu menantinya.

Cute Blue Flying Butterfly>