Di sebrang jalan, aku berdiri sendiri. Yaa, hampir setiap hari, di pinggir jalan itu aku berdiri, dengan seragam putih abu-abu aku menunggu angkutan umum, tapi bukan sekedar itu aku berdiri bahkan sampai setengah jam berlalu dan angkutan umum berbelas kali melewatiku. Ada yang lebih membuatku menunggu. Seseorang yang ku tahu ia bukan milikku. Dengan tatapan nanar aku melihat ke sebrang jalan, dengan diam tetap menunggu meski tahu ia takkan datang.
Jantungku berdebar tak karuan seakan ia akan datang, tapi bahkan sampai hati pilu aku pulang menelan kekecewaan. Ia tak akan pernah bersusah payah berlari mengejarku seperti aku mengejarnya bukan? Dia tetap tidak akan datang meski berjam-jam aku menantinya datang. Sebrang jalan itu tetap kosong, tetap tak ada laki-laki berkulit hitam dan bertubuh besar yang sosoknya selalu aku nantikan. Aku tetap berdiri dalam kehampaan yang begitu menyakitkan. Dia tak pernah datang.
Bulan, bahkan tahun berganti, dan aku tetap berada di sebrang jalan dengan harapan yang menggumpal. Laki-laki yang genggamannya telah menjadi milik adik kelasku itu tetap tak pernah berada di hadapan. Ia tetap menjadi laki-laki yang sosoknya tak akan pernah mampu aku gapai. Sosok yang meski bertahun-tahun aku berada di sisinya, segala keadaannya aku tetap ada, tapi tak pernah bisa ku miliki hatinya. Hati yang tak pernah bisa menjadikanku segalanya.
Aku berjalan melewati setiap lorong jalan sekolahan dengan keadaan hati yang patah, yang setiap detiknya semakin parah, kemudian aku berdiri di sebrang jalan itu, berharap ia akan berlari untuk mengejarku, dan aku bisa melihatnya berdiri di sebrang jalan itu. Laki-laki yang setiap detiknya aku cintai, yang sosoknya ku cemaskan setiap saat, tak pernah ku dapatkan bahagianya. Seseorang yang pernah meneteskan air matanya di bahuku, ia tak pernah berlari ke arahku walau hanya untuk sebuah temu.
Dengan harapan aku membayangkan, dia berlari ke arahku, dia berdiri di sebrang jalan itu, dan aku berada di sebrangnya menantinya. Aku membayangkan laki-laki yang alisnya sedikit terpotong itu menatapku di sebrang jalan, tersenyum dengan sinar cinta di matanya, menghampiriku yang tengah menunggunya. Aku membayangkan ia datang, ia hadir dengan segala harapan yang sebelumnya ia janjikan. Tapi tidak, mungkin memang aku yang terlalu menginginkan hadirnya disana.
Selama apapun aku berdiri menantinya, ia takkan datang. Ia tak pernah berlari mengejarku seperti aku yang selalu mengejarnya. Ia takkan pernah hadir meski hanya untuk sebuah temu. Meski rindu menyulut jiwaku, meski janji banyak ia beri, dia tak pernah berada di sebrang jalan itu untuk menemuiku. Ia tak pernah tahu ada aku yang hampir setiap hari menunggunya. Dia tak pernah tahu ada aku yang selalu mengharapkan kedatangannya. Di sebrang jalan itu, pertama kali aku menunggunya untuk pulang sekolah bersama. Di sebrang jalan itu, aku selalu menantinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar