/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Selasa, 22 Desember 2015

Tinta Hitam Masa Lalu

Ada begitu banyak tinta hitam dalam kisah masa laluku, dan aku tidak ingin memunafikkan diri. Sebagai seorang wanita, salah jika aku menganggap diriku bersih dan suci. Mungkin ada begitu banyak orang yang memandangku sebagai seorang gadis luar biasa. Mungkin ada begitu banyak orang yang memandangku sebagai wanita yang berpegang teguh pada pendiriannya. Tapi itu tak menutupi bahwa aku pun hanya manusia biasa yang memiliki banyak noda.

Apa yang ku takuti selama ini, jelas nampak dihadapan. Mungkin memang bukan aku yang mengalaminya, tapi bukankah segala sesuatu bisa saja terjadi? Jika itu terjadi dengannya, bukankah ada ribuan kemungkinan itu juga akan terjadi kepadaku? Apapun bisa terjadi kepada kita tanpa kita duga. Ya, sebagaimana kita hanya bisa merencanakan, tapi tetap Tuhan yang menentukan. Tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. Bukankah segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan?

Tak ada satu orang pun yang menginginkan kegelapan hadir dalam kisah hidupnya. Begitupun aku, dia dan mereka. Seperti halnya aku yang menginginkan cerita hidupku di warnai oleh warna-warna indah selayaknya pelangi, semua orang pun akan menginginkan hal yang sama. Tapi bukankah kita tidak akan bisa melihat pelangi sebelum awan hitam hadir menutupi indahnya langit biru dan menurunkan hujan? Bukankah sinar tak akan muncul jika sebelumnya tak ada kegelapan?

Sebagai seorang wanita yang memiliki tinta hitam dalam kisahnya. Sebagai seorang gadis yang menyimpan banyak kekelaman dalam hidupnya, mustahil jika aku bilang tak ada ketakutan dan kerisauan dalam setiap langkah kaki yang ku pijak. Adalah kebohongan jika aku bilang aku bisa tertawa tanpa beban setiap detiknya. Sedang ketakutan sibuk menjamah setiap bagian dari diriku. Sedang kegelisahan sibuk menyergapku. Apa pun bisa terjadi padaku ketika bayangan masa lalu tak henti membuntuti.

Pantaskah jika seorang wanita direndahkan hanya karna masa lalu yang ia punya? Pantaskah jika seorang wanita dihina hanya karna masa lalu yang ia bawa? Apa penyalahan harus menghujaninya ketika ia memang tak mampu menjaga kehormatannya? Bukankah seorang kekasih hadir untuk membuatnya lupa bahwa ia pernah ternoda? Bukankah seorang kekasih hadir untuk membawanya pada kesucian yang tak dapat ia ciptakan? Penjagaan yang tak dapat ia lakukan sendirian.

Ketakutan yang melandaku selama beberapa tahun terakhir, nyatanya kini dapat ku lihat jelas. Meski aku berusaha sekeras mungkin untuk merubah diri menjadi suci, tapi jika bayangan hitam masa lalu mengikuti, apakah di mata seseorang itu akan tetap berarti? Apa kesucian seseorang harus dilihat dari masa lalu yang ia bawa? Apa surga tak mau terbuka untuk wanita-wanita ternoda? Apa perubahan yang ku bawa di mata manusia tetap tak berguna?

Apa yang terjadi pada dirinya, jelas saja bisa terjadi padaku juga. Aku pun sama dengannya. Dan ketika penghinaan jatuh kepadanya, aku hanya mampu diam. Apa aku akan mengalami hal yang sama ketika aku melakukan kesalahan, dan perendahan atas masa laluku adalah satu-satunya hukuman yang harus ku terima? Tinta hitam yang tak dapat dihapuskan, baiknya di apakan? Masa lalu yang tak dapat ditinggalkan, baiknya di bagaimanakan? Kesalahan yang tak termaafkan, baiknya di apakan?

Aku bertanya kepadamu, teman yang mengetahui segala keburukkanku. Jika suatu saat nanti ada seseorang yang merendahkanku atas semua masa laluku, apa kau juga akan diam? Jika aku dipandang sebagai wanita ternoda, apa kau tidak akan melakukan apa-apa? Karna ketakutanku selama ini adalah, masa lalu yang ku bawa ternyata tak dapat diterima. Jika suatu saat nanti perendahan juga menghujaniku, masih bisakah aku berlindung di balik punggungmu?

Meski selama satu tahun lebih aku menyiapkan diri. Meski selama ini aku berusaha untuk memberanikan diri. Ketakutan tetap tak sungkan memelukku. Aku masih berdiri pada pijakkan yang sama. Maafkan aku jika aku tak mampu melangkah pada hidup yang baru. Maafkan aku jika amarah masih menguasaiku. Maafkan aku bahkan jika aku masih membenci diri sendiri. Maafkan aku jika aku masih enggan menyayangi diri sendiri. Aku hanya tidak tahu harus apa ketika masa lalu terlintas dalam ingatanku.

Untuk semua kesalahan yang tak termaafkan. Untuk semua masa lalu yang tak terelakkan. Maukah kau berjanji untuk tidak meninggalkan? Karna yang aku tahu hanya, aku tak sanggup jika harus melewatinya sendirian. Untuk semua luka lama yang tak tersembuhkan. Maukah kau tetap menemaniku meski semua orang menganggap amarahku hanyalah sifat kekanak-kanakkanku? Maukah kamu tetap memahami semua luka dan beban yang ku tanggung sendiri? Hingga seseorang yang mau menerima masa laluku dan bertanggung jawab atas masa depanku datang.



Tinta hitam masa lalu.

Sabtu, 19 Desember 2015

Yang Terjadi

Aku tahu, jauh di lubuk hatimu yang paling dalam kau menyalahkanku sepenuhnya. Aku tahu, kamu selama ini berfikir bahwa akulah penyebab semua kehancuran dan perpisahan kita. Aku tahu, kamu berfikir dulu aku pernah menyakitimu, menyia-yiakanmu, meninggalkanmu. Ya, itu kan yang ada di benakmu? Tapi tahukah kamu apa yang sebenarnya terjadi di antara kita? Bukankah kamu hanya berfikir aku melukaimu karna aku selalu mementingkan teman laki-lakiku daripada dirimu. Dan itulah kenapa kamu memilih pergi dan berhenti mempertahankanku untuk kemudian menemukan penggantiku yang lebih sempurna. Tahukah kamu, meninggalkanmu adalah hal paling menyakitkan untukku?

Pernahkah kamu berfikir apa aku pernah berada di posisi yang menyulitkan. Apa kamu tahu bagaimana rasanya berusaha agar teman dekatku tidak berfikir bahwa kehadiranmu membawaku pada perubahan yang membuatku lupa dengannya? Apa kamu tahu bagaimana rasanya berusaha agar kamu tidak merasa dinomorduakan olehku semenjak aku dekat dengannya lagi? Jika kamu terluka, tidakkah kamu tahu bahwa aku jauh lebih dulu terluka? Kita tidak bisa menyelamatkan dua orang sekaligus. Lantas bagaimana jika aku bilang itu bisa, karna yang dikorbankan adalah diriku sendiri. Hanya demi membuat kalian tidak saling menyalahkan, aku berusaha mati-matian untuk adil dengan kekasihku dan juga temanku.

Jika kamu berfikir aku menomorduakan dirimu dan mementingkan dirinya, mengapa tidak kamu ingat ini; aku tetap denganmu saat disekolah, aku tetap mendatangi kos-kosanmu sepulang sekolah hanya untuk menemanimu bermain ps dengan teman-temanmu, aku tetap makan berdua denganmu, aku tetap pulang sekolah denganmu, aku tetap mengangkat telpon darimu, aku tetap membalas pesan darimu secepat mungkin. Lantas bagian mana yang kau fikir aku menomorduakanmu, sayang? Lantas bagian mana yang kau fikir aku jauh lebih memilih dia daripada kamu, kekasih yang ku harapkan menjadi yang pertama dan terakhir untukku.

Kamu cemburu, aku tahu. Tapi aku hanya berbicara dengannya, aku tidak melakukan apapun yang kau tuduhkan. Jika cemburu menjadi alasanmu, tidakkah kamu tahu bahwa aku jauh lebih cemburu darimu? Kamu bebas berbicara dengan teman wanita manapun, tapi berbicara dengan satu teman laki-laki saja aku kau larang. Aku pun cemburu ketika melihatmu bercanda dengan teman wanita. Aku ingat kita pernah membeli rubik, lantas beberapa teman wanita di kelas sering meminjam rubikmu. Apa kau tahu bahwa aku cemburu ketika kamu mengajarkan mereka yang meminta di ajarkan cara memainkankan rubik itu olehmu? Bisakah kamu ingat baik-baik, sayang, apa aku pernah bilang bahwa aku tak suka kau terlalu dekat dengan mereka? Apa aku pernah bilang kepadamu bahwa aku cemburu? Aku yakin akan ketulusanmu untukku, aku hanya berfikir mereka hanya sekedar teman dan tidak akan mungkin merebutmu dariku.

Memang, salahku karna aku tak pernah berkata apapun tentang perasaanku. Aku tak pernah bilang bahwa aku cemburu. Aku tak pernah bilang bahwa aku tidak suka jika barang-barangmu disentuh oleh wanita lain selainku. Aku tidak pernah bilang jika aku marah. Aku bahkan tidak pernah bilang kalau aku kecewa setiap kali kamu mengingkari janji denganku hanya untuk bermain ps ataupun bermain futsal dengan teman-temanmu. Bahkan, aku tidak mengatakan aku mencintaimu sesering yang kau ucapkan padaku. Aku tidak mengatakan rindu sesering yang kau katakan padaku. Aku akui kesalahanku adalah tak pernah bisa jujur atas perasaanku padamu. Dan aku fikir aku hanya ingin memahamimu tanpa harus menuntut apapun darimu.

Aku hanya ingin menjadi yang terbaik untukmu. Kamu selalu menganggap aku cuek dan tak perduli. Setiap kali kita bertengkar, aku selalu pergi. Maaf jika menurutmu aku lari, tapi tahukah kamu bahwa aku hanya tidak ingin ada orang lain yang melihat amarahmu yang meluap-luap. Aku tidak ingin teman-teman berfikir bahwa kamu tidak bisa memperlakukanku dengan benar. Aku diam ketika kamu membentakku saat amarah menguasaimu, aku diam ketika kamu melontar segala tuduhan yang tidak aku lakukan, aku diam ketika beberapa kata-kata yang kasar kau ucapkan. Aku diam meski aku terluka dengan semua ucapmu. Maafkan aku jika memang kamu menganggap akulah yang memulai segalanya. Tapi tidak bisa kau lihat bahwa akulah yang paling terluka, jauh sebelum aku melukaimu.

Kamu berfikir akulah yang bermain-main, keseriusan dan komitmen mungkin tidak terlihat di dalam diriku. Tapi jika memang seperti itu, lantas mengapa aku menyanggupi ketika kamu memintaku berjanji menunggumu selama enam tahun? Jika memang aku mempermainkanmu, lantas mengapa aku mengiyakan segala janji yang kau ingin aku buat sendiri untuk kita, masa depan kita, pernikahan kita? Apa kau terlalu terluka dan kecewa? Tapi sudahkah kamu memikirkan luka dan kecewa yang juga ada di dalam hatiku?

Kamu berfikir aku selalu saja marah-marah dan menyalahkanmu. Aku harap kau ingat-ingat lagi, sejak kapan aku mulai tak tahan menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk dalam dada. Untuk ketidaksetiaanmu padaku. Untuk semua pengingkaran janjimu padaku. Untuk semua omong kosong yang kau ajukan untukku. Untuk semua kebohongan yang kau ciptakan untukku. Untuk segala yang kau sembunyikan di belakangku. Bisakah kau ingat apa yang telah terjadi di antara kita selama 4 tahun ini? Bisakah kau ingat bahwa aku berusaha memahami segala keadaanmu. Aku mengkhawatirkanmu setiap detik. Aku di bunuh waktu atas ketidakhadiranmu di sisiku dan setiap kali aku temukan kamu, kamu tengah berbahagia dengan wanita lain selainku.

Maaf jika semua amarahku nyatanya membuatmu pergi. Tapi tidak bisakah kau ingat sekali lagi, apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu bahkan ketika kata-kata kasarmu menghujaniku? Apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu ketika segala bentakan dan tuduhan kau lontarkan padaku? Apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu ketika kamu tak pernah mempercayaiku dan menganggap semua jawaban atas pertanyaanmu hanyalah kebohonganku? Aku tak pernah membohongimu, sayang. Ku letakkan kejujuran di atas cinta kita meski kau tak percaya.

Maaf jika kemarahan dan egoku tak dapat aku tahan. Maaf jika segala yang ku lakukan justru membuatmu pergi meninggalkanku dan mengubur dalam-dalam semua janji yang kau buat sendiri. Maaf jika emosiku tak dapat ku bungkam. Mungkin seharusnya aku diam ketika semua ketakutan menyergapku. Mungkin seharusnya aku memendam semua rasa yang berkecamuk dalam dada seperti yang sebelumnya aku lakukan, sehingga mungkin kamu akan tetap disini. Mungkin seharusnya aku menahan diri dari segala ketakutanku bahwa kamu akan meninggalkanku (lagi), dan diam-diam kamu mendekati wanita lain yang jauh lebih bisa berada di sampingmu daripada aku yang hanya mampu mengirimkan doa-doa keselamatanmu. 

Mungkin memang seharusnya aku menahan segala ketakutan bahwa kamu akan kembali melukaiku dengan cara yang sama. Mungkin seharusnya aku memendam ketakutanku atas ketidaksetiaanmu padaku. Atau sebenarnya mungkin aku yang sadar dari awal, aku bukanlah seseorang yang kau harapkan, yang kau dambakan, dan yang ingin kau perjuangkan dan kau pertahankan kehadirannya. Mungkin sebenarnya aku sadar, dari awal aku tak pernah menjadi pilihan dan prioritas utamamu. Mungkin sebenarnya aku sadar bahwa aku tak pernah spesial di matamu.  Ampuni aku yang menghancurkan segalanya.

Rabu, 16 Desember 2015

Maaf Untukmu dan Kekasihmu

Awalnya aku tak yakin kau akan datang. Tapi apa yang ada di depan mata justru tak dapat aku sangka. Kamu hadir, dan kata-kata yang terlontar dari bibir ibuku saat melihat kedatanganmu adalah "anak lanangku datang". Seketika jantungku berdetak di atas batas kenormalan saat aku melihat punggungmu dari pintu kamar. Tak ada rasa yang dapat aku deskripsikan, entah senang, sedih, atau apapun semacamnya. Tapi yang aku tahu hanya, kau hadir di antara kami semalam.

Ketidaknyamananku hadir saat aku harus mengizinkan kamu bermalam dirumahku. Bagaimana mungkin kamu bermalam dirumah wanita yang telah menjadi bagian dari masa lalumu, sedangkan kamu memiliki dia yang mungkin telah kau pilih untuk dijadikan masa depan. Satu hal yang bisa membuatku tenang, setidaknya dengan bermalam dirumahku, aku terbebas dari rasa khawatirku jika kamu pulang selarut itu meskipun perasaan tak enak dengan kekasihmu juga menghantuiku. Sampaikan maafku pada kekasihmu karena telah membawamu masuk kedalam lingkaran masa lalu.

Hati wanita mana yang tak terluka jika mengetahui kekasihnya menemui masa lalunya. Tak ada satu orang wanita pun yang benar-benar rela berbagi, dan aku sangat mengetahui bagaimana rasanya membagi sesuatu yang hanya ingin menjadi satu-satunya milikku. Sampaikan maafku pada kekasihmu, karena mungkin dia bisa berfikir aku menginginkanmu. Kesadaranku hanyalah, aku tak pernah yakin aku pernah menjadi bagian terpenting di hidupmu.

Melihatmu. Diam-diam aku menata hati yang telah berserakan agar tidak menjadi bercucuran ke berbagai arah yang tak dapat aku jangkau.

Pagi ini, perasaanku saja atau memang, kamu menyanyikan lagu-lagu yang seakan-akan kau memintaku untuk melupakanmu; aku tak tahu. Tahukah kamu, aku ingin menggenggam tanganmu ketika tanganmu mengusap lembut pipiku, tapi bayangan ketika dia menggenggam tanganmu menyita seluruh keinginanku. Aku menahan diriku agar tidak menguasaimu. Aku menahan diriku agar tidak terlalu menginginkanmu kembali.

Saat berdua denganmu, menunggu hujan reda, kamu meminta izin agar bisa memelukku sekali dan untuk yang terakhir kali. Apa kau tahu? Saat kamu tak henti mengatakan betapa hancurnya kamu saat ini membuatku ingin beranjak dari sofa yang kutiduri untuk kemudian memelukmu dengan erat dan berkata "cukup, jangan bilang gitu lagi, kamu nggak tahu kalo semua kata-kata kamu bikin jantung aku berdebar kencang, sekujur tubuh bergetar, tenagaku seakan terkuras, dan aku ketakutan."

Andai kamu tahu, aku menahan air mata agar tidak tumpah ketika kamu tak henti mengatakan betapa parahnya keadaanmu sekarang. Aku menahan tubuhku agar tidak terlalu gemetar. Aku berusaha menjaga hatiku agar tetap tenang. Aku berusaha bertahan dari ketakutan yang kau hadirkan. Kamu tak pernah tahu, apapun bisa terjadi kepadaku ketika aku mengetahui kau tidak sedang baik-baik saja. 

Andai kamu mengetahui bahwa semua yang kau ucapkan hanya mampu membuatku semakin sulit untuk melepaskan. Buruknya kamu, hanya menimbulkan keinginanku untuk melindungimu, menjagamu, membebaskanmu dari semua belenggu yang mengikatmu. Dan aku kembali sadar, aku tak punya kuasa untuk itu. Aku hanyalah masa lalumu, dia yang memilikimu seutuhnya. Dan kamu tak akan pernah tahu bahwa aku akan selalu kacau.

Kamu memintaku untuk melupakanmu, menghapusmu dan mencari yang lebih baik darimu. Maafkan aku jika mencintai dan merindukanmu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan di matamu. Tapi aku mohon, beri aku waktu. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk meniadakan kehadiranmu dari hidupku. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi sepertimu, yang bisa dengan mudahnya menggantikan aku dengan siapapun selainku.

Semampuku, permintaanmu akan aku penuhi. Melupakanmu, menghapusmu, dan menemukan penggantimu yang lebih baik akan aku lakukan. Keinginanmu akan aku laksanakan ketika aku benar-benar siap. Aku pergi jika memang itu inginmu. Dan sampaikan maafku pada kekasihmu karena aku telah mencintaimu dan merindukanmu. Sampaikan maafku pada kekasihmu karena telah mencemaskan dan mengkhawatirkanmu. Sampaikan maafku pada kekasihmu karena telah meminjammu hari ini.

Sampai kau mengantarku, bisakah aku memastikan bahwa aku tak akan pernah muncul di hadapanmu lagi. Bisakah aku memastikan bahwa itu adalah pertemuan terakhir kita. Dan dengan air mata aku melewati gerbang kampus, ku ucapkan selamat tinggal untukmu, ku tutup hatiku rapat-rapat darimu. Terimakasih, segalaku.



Dari masa lalumu

Jumat, 11 Desember 2015

Ketika Pergi dan Hilang Selalu Berdampingan

Ada begitu banyak perasaan yang menghinggapi hati. Marah, kesal, kecewa, sedih, semua bertumpuk menjadi satu. Tak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Aku tak pernah tahu bagaimana caraku mengekspresikan perasaan. Hingga segalanya semakin tumbuh menjadi lebih besar dan tak tertahankan. Aku tidak pernah tahu apa aku harus meledak-ledakkan amarahku. Aku tidak tahu apa aku harus meluapkan kekecewaanku. Aku tidak tahu apa aku harus melepaskan kesedihanku. Aku tidak tahu bagaimana caranya.

Aku punya teman yang memahami kesedihanku ketika aku kehilangan sosok ayah. Kamu teman ceritaku yang begitu aku sayangi. Kamu mengerti rasanya kehilangan saat kepergian datang. Kamu adalah satu yang tak pernah ingin aku lupakan. Tapi bagaimana jika kau sendiri yang pergi, dan hilang adalah satu-satunya rasa yang kemudian datang. Iya, aku tak memiliki apapun untuk aku timpalkan atas segala hilang yang datang.

Aku tak yakin aku baik-baik saja sejak kau pergi. Awalnya memang, tapi tahun demi tahun berlalu dan aku terluka oleh penggantimu. Ayahanda, lalu kamu, teman-teman, kemudian dia. Haruskah aku terjerembab dalam rasa kehilangan sejak kepergianmu dan mereka semua dari dunia yang ku anggap surga? Haruskah aku terpasung dalam ketakutan yang tak biasa? Tapi nyata telah berbeda. Kamu tak lagi ada dalam dunia. Kamu pergi, dan hilang adalah teman kehampaan yang kau hadirkan. Aku ingin kau kembali, menemani aku yang merindukan kehadiranmu.





Dari aku yang membutuhkan hadirmu, mas.

Senin, 07 Desember 2015

10 Bulan Setelah Kepergianmu

Desember. Tidak terasa tahun yang baru akan segera kembali terlewati. Jelas saja aku tak pernah menginginkan semua yang terjadi di saat tahun baru sebelumnya muncul di ingatanku. Aku tak ingin lagi mengingat pernah ada kamu dalam duniaku. Aku tak pernah ingin mengingat aku pernah kau buat sangat bahagia sebelum akhirnya kau buat terluka. Jelas saja aku tak pernah ingin mengingat aku pernah kau buat merasa istimewa sebelum akhirnya aku menyadari bahwa aku tak berharga. Jelas saja aku tak pernah menginginkan segalanya terjadi seperti ini.

Sejak saat itu. Sejak kau memilih pergi dari kehidupanku dan memilih wanita yang tak pernah ku tahu jelas asal usulnya, aku masih diam-diam menangisimu, aku masih diam-diam merindukanmu, meskipun terkadang aku diam-diam membencimu. Siapa yang bisa menyangka bahwa kau yang terlihat begitu tulus menyayangiku, nyatanya adalah orang yang paling berani melukaiku. Siapa yang bisa menyangka bahwa kamu yang terlihat begitu menginginkanku, nyatanya hanya sebuah drama yang berhasil kau mainkan dengan begitu lihai.

11 bulan telah berlalu sejak hilangnya kabarmu. 10 bulan telah berlalu sejak kau mengatakan bosan dan ingin sendiri. 9 bulan telah berlalu sejak aku mengetahui kenyataan bahwa keputusanmu pergi dariku adalah keinginanmu untuk memiliki wanita lain yang kau cintai. Bulan-bulan telah berlalu sebagaimana mestinya, lantas bagaimana dengan luka yang ku tanggung deritanya? Jika bulan demi bulan telah berlalu sebagaimana mestinya, lantas mengapa kesedihan tak juga berlalu seperti yang seharusnya? Kenapa lara masih saja merana?

Aku masih saja memimpikanmu. Kamu tak pernah mampu aku gapai, bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku ingat, beberapa kali mimpi yang hampir sama hinggap dalam tidurku. Aku menggunakan dress berwarna putih polos berlengan pendek, rambutku terurai begitu saja, apa aku terlihat cantik saat berada di mimpi itu? Aku tak yakin. Aku berada di tempat yang sangat gelap, aku sendiri, dan ada banyak jalan mengelilingiku. Mana arah yang harus aku pilih, aku tak tahu. Aku berteriak apakah ada orang selain aku disana, tapi tak ada jawaban.

Aku melihat sosok yang tak aku kenal berjalan di salah satu jalan yang ada di depanku, tapi ketika aku terbangun dan mengingat mimpi itu, aku tahu sosok yang ku lihat itu adalah kamu. Aku ingat, aku berteriak memanggilmu padahal aku tak mengenalmu (dalam mimpi itu), aku mengejarmu, tapi entah kenapa meskipun aku sudah berlari, kamu tetap berada sangat jauh dariku. Hingga aku lelah mengejar sosok yang dalam mimpi tidak aku kenali, aku berbalik arah, aku kembali ke tempat dimana aku berada sebelumnya. Aku menangis dalam ketakutan yang sangat dalam. Aku tak ingin berada di tempat gelap itu sendirian.

Mimpi yang menghampiriku, apakah mengibaratkan posisiku dalam realita? Apa aku benar-benar tak mampu beranjak dari tempat ini? Apa aku memang tidak mempunyai keberanian untuk menentukan arah mana yang harus aku tuju semenjak kau memilih pergi dariku? Apa aku memang benar-benar berada dalam kegelapan meskipun aku berjalan di siang hari? Apakah mimpi itu adalah bukti ketakutan yang menyelimuti? Apa aku benar-benar takut untuk melangkah? Apa aku benar-benar takut untuk melanjutkan hidup setelah kehilanganmu?

Apakah wajar atau tidak bahwa aku masih dalam kekalutan yang sangat dalam meskipun telah lama kau pergi? Aku akui kekalahanku. Aku pernah sangat memperjuangkanmu di saat kamu mati-matian tidak memperdulikanku. Aku pernah sangat mencintaimu di saat kamu mati-matian mencintai wanita lain. Aku pernah sangat menganggap serius hubungan kita disaat kamu menganggap hubungan kita tak berharga. Aku pernah sangat menjadikanmu segalanya disaat kamu tak pernah menganggapku ada. Aku pernah sangat menginginkanmu disaat kamu membuangku tanpa kata.

Aku tak tahu harus apa ketika aku selalu berusaha mempercayai dusta yang kau buat. Aku tak tahu harus apa ketika semua kenangan yang selalu ku abadikan dalam ingatan, nyatanya harus aku musnahkan. Aku tidak tahu harus apa ketika harapan yang sinarnya selalu berusaha aku nyalakan, nyatanya harus aku padamkan. Aku tidak tahu harus apa ketika cerita kita berakhir dengan sia-sia. Aku akui, aku masih berada dalam kekacauan yang teramat menyedihkan.





Dari wanita yang pernah kau buang tanpa kata.

Minggu, 15 November 2015

Salah

Kenyataan baru apa lagi yang aku hadapi saat ini? Ketika bahkan teman dekatmu sendiri yang mengatakannya kepadaku bahwa selama ini bukan hanya aku wanitamu. Ada banyak wanita yang kamu bawa, entah itu hanya untuk sekedar berjalan-jalan atau makan. Hatiku sudah sangat berantakan, kini aku berusaha menata hati dengan sangat hati-hati, kemudian mendengar pernyataan dari teman dekatmu sendiri. Sanggupkah kamu membayangkan hancurnya perasaanku sekarang? Hatiku kembali berserakan. Mendengar pernyataan bahwa ucapan yang kamu lontarkan selama ini kepadaku hanyalah dusta. Entah. Apa aku harus mempercayai pernyataan teman dekatmu sendiri, atau mempercayai kamu yang sudah terbukti telah mengkhianati hati yang kau bawa pergi. Tubuhku lemas, jantungku tak bisa berdetak dengan normal, beribu macam hal berkecamuk dalam fikiran; aku kacau.

Aku fikir air mataku telah habis. Aku fikir air mataku tak lagi bersisa sehingga tidak ada sesuatu apapun lagi darimu yang mampu membuatnya mengalir. Aku fikir hatiku telah mati rasa. Kenyataan yang ada di depan mata adalah, aku kembali menitikan air mata. Air mata yang selama ini aku fikir telah habis terkuras, kini harus berderai kembali dengan begitu deras. Aku hanya mampu duduk di sudut kamar, terisak dalam sesak yang begitu menyakitkan. Lelah tak menyadarkanku bahwa malam tengah menjemput. Aku sibuk berkecimpung dalam kesedihan yang tak mengenakkan. Bagaimana bisa ini kembali terjadi, setelah semua yang aku lalui, aku fikir aku sudah terbebas dari bayangan menyakitkan tentangmu. Aku tak sanggup membayangkan kamu bersama yang lain. Aku tidak mampu membayangkan kamu berlalu lalang dengan wanita yang berbeda-beda.

Aku salah. Aku telah menaruh harapan yang besar selama ini padamu. Dan betapa hancurnya aku setiap kali aku mengingat empat tahun yang ku lalui dengan begitu banyak impian. Aku sanggup berdiri menunggumu, aku sibuk merindukanmu, aku heboh dengan kecintaanku padamu; aku buang-buang waktu. Aku mencintai laki-laki yang tak punya hati. Aku menghabiskan malam dengan menangis sendirian. Aku tak pernah menyangka, kau sanggup memperlakukanku seperti ini. Aku kembali berada pada titik terendahku. Aku berusaha untuk berdiri, tapi kenapa selalu ada darimu yang mampu meruntuhkanku? Cinta yang mana yang selama ini kau tunjukkan padaku, aku tidak tahu. Semua rasa yang kau sebutkan terasa begitu semu. Bukankah kamu yang menawarkan kebahagiaan? Tapi kenapa kau sendiri yang menciptakan neraka dalam dunia yang kau bawakan?

Tiga tahun yang lalu, kamu memintaku untuk berjanji menunggumu selama enam tahun, dan kamu akan datang membawa banyak kebahagiaan yang aku dambakan, kau berjanji akan menikahiku ketika enam tahun yang ku janjikan telah tiba. Kamu berjanji bahwa aku hanyalah satu-satunya wanita yang kau cintai. Kamu berjanji bahwa hatimu takkan pernah berpaling. Kamu berjanji akulah wanita terakhir untukmu. Kamu berjanji akan setia sampai kau kembali. Tahukah kamu betapa aku sangat ingin berteriak di hadapanmu dan juga di hadapan semua orang? "Apanya yang kau sebut bahagia? Apanya yang enam tahun? Apanya yang satu-satunya? Apanya yang terakhir? Apanya yang setia?", semua itu hanya omong kosong. Semua yang kau ucapkan hanya dongeng pengantar tidur yang kau ciptakan untukku.

Aku mencintai orang yang salah, dan aku salah. Aku tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan, karna kenyataan yang ada adalah selama empat tahun ini aku menyayangi orang yang salah, aku mempertahankan orang yang salah, dan semua yang telah aku lakukan hanyalah sia-sia. Aku akui, aku bodoh. Aku menaruh harapan yang begitu besar kepadamu, tapi aku bukan satu-satunya yang kau panggil dengan sebutan "sayang", aku bukan satu-satunya pelukan yang kau punya, tanganku bukan satu-satunya genggamanmu. Aku bukan satu-satunya kesayanganmu. Aku tak pernah menjadi segalamu. Semua itu hanya ada dalam bayanganku. Semua kebahagiaan yang pernah terjadi hanya ada dalam mimpi tidurku. Ya, mana mungkin semua itu ada dalam kenyataan?

Aku tidak cantik, aku tak memiliki tubuh yang bagus, aku tidak pintar, aku tidak memiliki apapun yang bisa kau banggakan. Ada banyak tinta hitam yang mewarnai kisah masa laluku, dan aku tak ingin memunafikkan diri. Aku suka pelangi, aku ingin kisah hidupku dipenuhi dengan warna-warna indah selayaknya pelangi yang ku cintai. Tapi aku tak bisa, tinta hitam masa lalu tak akan pernah bisa aku hapuskan. Dan sekarang, apa lagi yang bisa aku tunjukkan kepadamu? Karna memang tak ada hal indah dalam diriku yang mampu aku jadikan alat untuk menarik hatimu. Luka yang ada pun tak sanggup aku hilangkan. Bagaimana laki-laki sepertimu yang bisa memikat hati banyak wanita bisa menjadikan aku sebagai satu-satunya? Aku hanyalah bata yang berharap kau jadikan permata. Pernikahan dan kebahagiaan yang aku dambakan, takkan pernah mampu kau wujudkan.

Minggu, 01 November 2015

Jera

Kita saling diam, kita berbicara, kita bertengkar, kita bercanda, kita tertawa, kita menangis bersama. Sejak saat itu, bahagiamu menjadi bahagiaku, sedihmu menjadi sedihku, dan sakitmu juga menjadi sakitku. Aku melukis banyak mimpi. Aku membangun banyak harapan darimu. Aku menulis banyak kebahagiaan bersamamu. Aku membuat dongengku sendiri dengan adanya kamu di dalamnya. Aku selalu menantikan matahari terbit saat senja mulai masuk. Bertemu denganmu adalah hal yang ingin segera aku lakukan. Aku ingin menjadi rumahmu, satu-satunya tempat yang kau tuju untuk pulang. Aku ingin menjadi satu-satunya pelukan yang kau punya, seperti halnya kamu menjadi satu-satunya pelukan yang ku punya. Aku ingin menjadi satu-satunya genggamanmu untuk mengisi sela-sela jemarimu, seperti halnya tanganmu yang menjadi satu-satunya genggamanku. Aku ingin menjadi satu-satunya sandaranmu, seperti halnya pundakmu yang menjadi satu-satunya sandaranku. Aku ingin berjalan disampingmu, dan aku akan berlari secepat mungkin ke arahmu ketika kamu dalam bahaya. Aku ingin menjadi satu-satunya kesayanganmu. Aku ingin menjadi segalamu dan semua yang kamu butuhkan. Aku ingin menjadi duniamu.

Waktu berlalu, begitu juga kamu, kenangan dan kisah kita. Sikapku menyusahkanmu. Perlahan kamu pergi menjauh. Dan aku.... Aku berjalan di belakangmu. Aku berlari mengejar punggungmu yang semakin menjauhiku. Aku memanggil-manggil namamu. Aku berteriak tapi kamu tetap tidak mendengarkan. Hingga aku jauh dari ketertinggalanku, kamu tetap tak mau tahu. Sedetikpun kamu tak menoleh ke arahku. Aku melihatmu mencari-cari. Aku melihatmu berlari dari satu tempat ke tempat yang lain. Hatiku melihat hatimu singgah dari satu hati ke hati yang lainnya. Kamu meninggalkanku. Cintamu pudar, bayanganku kau hapuskan, namaku kau hilangkan. Aku kau lupakan. Tanpa pernah kamu sadari, perlahan aku berjalan mengikutimu, dalam diam aku mengawasimu, melalui Tuhan aku melindungimu. Tanpa aku sadari, hatiku patah. Aku terluka. Dan kamu.... Kamu tetap tak berhenti berlari kesana-kemari mencari sesuatu yang tak pasti. Tak sadarkah kamu, bahwa ada aku yang menunggu kepulanganmu. Aku menunggu bahagia yang kau janjikan. Aku menunggumu dengan kosongnya pelukan.

Tahun semakin berganti. Kamu datang dan pergi sesuka hati. Kamu berjalan tanpa pernah melihat ke arahku, meskipun aku berjalan disampingmu. Langkahku terhenti ketika aku menyadari, hatimu telah pergi, aku tidak benar-benar berada di sisi. Aku bertanya-tanya, dimana aku? Dan sejak saat itu aku tahu, kamu telah mengusirku dari istana hatimu. Semakin jauh kamu melangkah tanpa menyadari bahwa aku telah berhenti berjalan, semakin aku menyadari, aku tak pernah menjadi rumahmu, ragaku tidak pernah menjadi satu-satunya pelukanmu, tanganku tidak pernah menjadi satu-satunya genggamanmu, pundakku tidak pernah menjadi satu-satunya sandaranmu. Aku tidak pernah berjalan di sampingmu, tapi aku selalu berjalan di belakangmu, mengejarmu. Aku tidak pernah menjadi satu-satunya kesayanganmu. Aku tidak pernah menjadi segalamu. Aku tidak pernah menjadi duniamu. Sekujur tubuhku lemah saat aku menyadari bahwa aku tidak pernah menjadi sesuatu yang penting untukmu. Aku tak berdaya saat aku menyadari kehadiranku tak pernah kau anggap ada. Aku bukan apa-apa.

Kesadaranku tentang arti diriku bagimu semakin sempurna. Mengetahui aku tak pernah benar-benar ada membuatku semakin terluka. Aku bertahan dalam deraan yang semakin menyiksa. Aku melindungi hati agar tidak terlalu patah. Namun kenyataan yang ada kini berbeda. Mimpi yang ku lukis, harapan yang ku bangun, kebahagiaan yang ku tulis, dongeng yang ku buat. Segalanya hancur seketika. Pertahananku roboh tak tersisa. Hatiku berserakan dan aku hanya diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Entah harus aku rapihkan atau aku biarkan. Entah harus aku sapu atau aku tata kembali menjadi satu. Aku tak tahu. Dan tahukah kamu bahwa kini aku sudah jera? Aku tidak tahu kesalahan apa yang aku perbuat sehingga membuatmu memilih akhir seperti ini untuk kita. Kita? Yaa. Mungkin memang "kita" tak pernah benar-benar ada. Semua yang kita lewati, nyatanya telah kau lupa, atau selama ini hanya aku yang berusaha mengingatnya? Dan kini aku tahu satu hal, kepergianmu berhasil membuatku jera.

Kamis, 29 Oktober 2015

29 ke-57

29. Apa yang istimewa dari angka itu? Aku berusaha melupakan hal istimewa apa yang terikat dengan angka 29. Yaa. Segalanya dimulai ketika aku dan kamu membuka lembaran bersama, menjalani segalanya berdua. Tapi mungkin bersama dan berdua bukan lagi kata yang pantas untuk kenyataan yang ada di depan mata. Tanggal 29. Apa yang spesial dari tanggal 29? Tanggal yang memulai kebahagiaanku. Ketika kau ulurkan tanganmu. Saat dimana pundakmu menjadi satu-satunya sandaranku, tanganmu menjadi satu-satunya genggamanku, ragamu menjadi satu-satunya dekapan yang ku punya. Tanggal 29 adalah hari dimana aku memulai bahagia yang sebelumnya tak pernah aku temui. Saat dimana kamu menjadi satu-satunya tujuanku.


Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun. Berjalan, kemudian berlalu. Rasa sayang tak lagi menjadi buah manis bagi hati. Cinta membuat segalanya menjadi terpasung dan terkekang. Pertengkaran demi pertengkaran mulai menghiasi cinta kita. Entah. Pertengkaran itu harus aku sebut sebagai hiasan cantik untuk hubungan kita, atau sebagai bom bunuh diri untuk kita berdua. Semua tak lagi sama. Segalanya tidak lagi seindah saat pertama. Kamu, laki-laki yang mampu merebut hati ini. Kamu perlahan menjauh, berubah menjadi sosok yang tidak mampu aku kenali. Datang, kemudian pergi, silih berganti. Dan aku semakin melihat punggungmu semakin menjauh dariku sejak kau hadirkan dia di antara kita. Dia yang kau pilih untuk menggantikanku, mungkin adalah saat pertama kalinya untukku berhenti berjalan di belakangmu. Kehadiran dia mungkin adalah kado pertama darimu untuk hubungan kita, dan hadiah terakhirmu untukku. Perpisahan yang kau pilihkan sebagai akhir dari tujuan kita, adalah tanda bahwa hatimu tidak lagi berada di tempat yang dahulu.


Hari ini adalah tanggal 29 ke-57. Tanggal 29 ke sekian kalinya aku kehilanganmu. Hari ini adalah hari pertama kalinya aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah menjadi rumahmu, tempat kepulanganmu. Pertama kalinya aku menyadari, kita tidak akan pernah kembali seperti dulu. Dan untuk pertama kalinya, kamu bukan lagi menjadi tujuanku. Aku telah berhenti berjalan di belakangmu sejak kau hadirkan dia sebagai pemilik hatimu yang baru. Aku telah berhenti mengikutimu, berhenti berlari mengejarmu. Kamu adalah segalaku, tapi kamu menghentikan itu. Hari ini adalah tanggal 29 ke-57. Hari dimana aku tanpamu tapi tetap mengingatmu untuk kemudian menghapusmu dan melupakanmu. Hari dimana aku berharap tak ada lagi kamu dalam duniaku.





Selamat tanggal 29 ke-57 untuk masa lalu.

Senin, 30 Maret 2015

Ketidak-nyamananmu

Kamu hadir hari ini menemuiku dan atas permintaanku. Aku berniat memberikanmu sesuatu yang aku miliki; sebuah lampu musik kesayanganku yang dihadiahkan olehnya sebagai kado ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Kenapa harus kamu? Karna aku ragu memberikannya kepada orang lain, karna hanya kamu satu-satunya orang yang aku percayai hingga saat ini. Ketika semua orang yang aku percayai, mengkhianatiku, aku kehilangan kepercayaan kepada semua orang yang aku kenali, dan satu-satunya kepercayaan yang masih ada hanyalah kepercayaanku kepadamu.

Kamu sampai dirumahku, melihatku dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Aku menyambut kehadiranmu dengan wajah penuh kesedihan, mata yang sembab, dan pipi yang dipenuhi dengan air mata yang mengering. Terlihat jelas di matamu, sebuah tanda tanya mengapa aku sampai seperti itu, kau melihatku dengan tatapan kasihan.

"kenapa?" kau mulai bertanya.

"gapapa." jawabku.

"bohong. itu kenapa nangis?"

"siapa yang nangis siih!"

"kenapa?" kau terus menanyakan hal yang sama.

"gapapa."

"bisa banget siih malingin muka kaya gitu pas lagi di tanya!" 

"di bilangin gapapa juga, lagian siapa yang nangis tahu." aku berbohong.

"mana lampu yang mau di kasih ke gw?"

"ada di atas, di kamar."

"yaudah ambil giih, gw ikut ke atas yaa?"

"yaudah ke atas aja."

Aku mengambil lampu itu dari lemari, kemudian memasangnya, dan menunjukkannya kepadamu. Aku tahu kau menginginkannya setelah melihatnya. 

"lucu juga yaa?" katamu.

"itu kado ulang tahun dari dia." pernyataanku.

"ini kado dari dia? trus kenapa di kasih ke gw?" kau mulai mengajukan pertanyaan yang membingungkanku menjawabnya.

"gapapa." tak ada jawaban lain yang bisa aku lontarkan.

"sini ikut gw." kau menarikku menuju kamar.

"kenapa siiih?"

"sekarang gw tanya sama lu, kalo ini pemberian dia, kenapa lu kasih ke gw?"

"yaa terus mau di kasih ke siapa lagi?" aku berusaha menahan air mataku.

"sekarang gw tanya sama lu, apa yang lu rasain pas gw nyalain lampu ini?" nada suaramu terdengar pelan tapi begitu tegas di telingaku. Kemudian kau menyalakan lampu musik itu.

aku tak kuasa menahan air mata yang kian membendung, aku hanya bisa menangis membelakangimu.

"sekarang jawab pertanyaan gw, ada apa?"

"gak ada apa-apa, beneran." aku berusaha membela diriku sendiri.

"gw banting yaa niih lampu?" 

"Adit, jangaaaannn!" air mataku mulai mengalir, dan aku terduduk di kasur.

"yaudah jawab, kalo gak di jawab juga gw banting beneran ini lampu!"

"Adit, jangaaann, jangan di banting." aku hanya bisa menangis.

"bangun, songong kan gw lagi ngomong lu malah duduk."

Aku berdiri menghampirinya, tepat di hadapannya, dengan tatapan sendu aku menatapnya.

"ada apa?" kau kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

"gw gatau mau jawab apa." 

"Dita, pacaran kalo berantem itu wajar, gw juga begitu sama cewe gw."

"gw udah putus sama dia."

"kapan?"

"akhir januari kita anniv yang ke-4 tahun, seminggu setelah itu dia bilang bosen dan mau sendiri dulu. tapi sekarang dia mungkin udah punya pacar, Dit."

aku memalingkan wajahku darinya, bersandar di tembok kamar, dan menangis tanpa ada jawaban untuk pernyataanmu.

"kuat, Dita, kuat. lu gak boleh begini terus. ayo, lu harus kuat, gak boleh nangis."

aku hanya terdiam, entah apa yang harus aku katakan padamu.

"yaudah, kalo udah putus, yaudah. lu anak baik, Dita, pasti lu bakal dapetin yang lebih baik dari dia."

"iyaa." 

Kau memelukku yang hanya bisa menangis. Aku berharap, aku bisa kuat seperti yang kau katakan. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku percayai setelah aku kehilangan kepercayaan kepada orang-orang di sekelilingku.

Kita menonton film kartun bersama. Aku kuat jika ada kamu, tapi saat kau pergi, aku kembali rapuh. Nyaman rasanya berada di sampingmu ketika aku benar-benar tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Hingga waktunya kau untuk pulang.

"Dit, lampunya kok gak di bawa?" tanyaku.

"gw gak bawa tas, Dita. ribet aahh bawanya. Fiyan aja tuuh suruh bawa.

"oohh yaudah, di jaga yaa, Yan."

"iyaa gw jagain." tegas Fiyan.

Aku merasakan ada keraguan di hatimu untuk membawa lampu musik yang aku berikan. Seharusnya, aku tidak memberitahumu bahwa itu adalah hadiah pemberian darinya. Mengingat sebelumnya kau menginginkan lampu musik itu, tapi kau menolaknya dengan cara yang begitu halus. Aku mengerti apa yang kau rasakan, ketidaknyamananmu jika harus mengambil barang pemberiannya dari tanganku. Aku mengerti apa yang kau pikirkan, kau tidak bisa mengambilnya, karna kau tahu, itu adalah benda berharga kesayanganku yang di hadiahkan olehnya. Tak apa, Aku memahamimu.

Minggu, 29 Maret 2015

Pesan untuk Masa Lalu

Selalu ada pertanyaan dari orang-orang yang mengetahui kisah kita, kapan aku akan meninggalkanmu, kapan aku akan memutuskan untuk pergi darimu, dan kapan aku akan melepasmu. Semua pertanyaan itu telah aku jawab, bahwa akan ada saatnya aku akan pergi. Saat aku untuk pergi adalah saat dimana kamu telah menemukan pendamping hidupmu yang baru, seorang wanita yang jauh lebih sempurna dan lebih baik dariku, seseorang yang kau pilih untuk menggantikan posisiku sebagai kekasihmu. Itulah saat dimana tugasku selesai.

Hari ini adalah hari dimana aku mengetahui segalanya, semua kenyataan yang ada; kau telah menemukannya, kekasih hatimu, penggantiku. Sebuah dilema besar untukku, mengetahui begitu cepatnya kamu melupakan semua tentang kita, begitu cepatnya kau gantikan posisiku dengan dia. Untuk semua luka yang kau goreskan, ini yang kesekian. Bosan kau jadikan alasan untuk memutuskan hubungan kita, ingin sendiri kau jadikan pernyataan untuk keyakinan. Ingin sendiri? Apakah pernyataan itu sesuai dengan kenyataan yang ku dapati saat ini, sayang? Apa kau yakin, bosan dan ingin sendiri adalah kejujuranmu? Apakah bukan karna ada wanita lain yang kau cintai? Lalu dia, dengan rentang waktu yang belum cukup lama dari perpisahan kita, semua ucapanmu dusta?

Seharusnya aku tidak perlu heran. Mimpi yang mendatangiku beberapa minggu yang lalu, adalah pertanda bahwa kau memang benar-benar telah melupakanku. Mimpi itu terasa sangat menyakitkan, dan kini menjadi kenyataan. Aku melihatmu sedang bercerita denganku, kau tertawa, begitu bahagia. Tapi kemudian kau melihat ke arah seseorang, dan kau menghampirinya. Sedangkan aku hanya melihatmu pergi dengan wanita itu tanpa melihat ke arahku.

Kasihku, kenapa harus terulang lagi masa lalu? Kau selalu pergi dengan wanita yang ku tahu, ia lebih sempurna dariku. Aku harus kembali mengalah, dan tak mampu berbuat apa-apa. Kau selalu pergi meninggalkanku sendirian di persimpangan. Ketakutanku selama ini menjadi kenyataan. Apapun yang aku lakukan, takkan pernah bisa membuat hatimu merasa tercukupi, aku tak mampu mencukupkan hatimu. Aku berusaha memahami keadaanmu, tapi aku tak mampu melepasmu untuk yang kesekian kalinya.

Empat tahun, lebih dari seribu hari aku menemanimu tanpa pernah sedikitpun beranjak pergi meninggalkanmu. Dari kamu memiliki sebuah kendaraan, kemudian memiliki pendapatan dari hasil mengajar pramuka, ketika kamu tinggal di sebuah kontrakan, kemudian memiliki pekerjaan yang layak. Aku merasakan semua yang kau rasakan selama ini. Aku merasakan kegelisahan yang kau rasakan dan sesuatu yang kau pikirkan. Aku mengenalmu dengan sangat baik.

Cintaku, adanya tiba waktuku untuk pergi dari hidupmu, pastilah sebuah tanda bahwa tugasku menemanimu dan selalu ada untukmu telah selesai. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi seperti yang kau harapkan. Maaf aku tak bisa selamanya berada di sisimu untuk selalu menjagamu. Maafkan aku yang tak pernah bisa membuat hatimu tercukupkan dengan kehadiranku. Entah kenapa, hati ini begitu gelisah, tidak tenang, takut, cemas, dan khawatir ketika mengetahui kau telah memiliki kekasih baru. Dia yang kau pilih pastilah seseorang yang terbaik menurutmu, tapi aku tak memiliki kuasa apapun untuk menahan segala kekhawatiran dan ketakutanku akan hal itu. Sesuatu yang buruk yang akan kau lakukan, atau yang akan menimpamu, aku tak memiliki kekuatan untuk membayangkan semua itu.

Sayang, aku tahu satu hal, dia yang kau pilih pastilah yang kau harapkan untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya. Jagalah kesetiaanmu untuknya, jangan kau ulangi kesalahan yang dulu kau lakukan ketika denganku. Aku menyayangimu, kebencian yang membelenggu hatiku tidak akan pernah bisa membuatku lupa, bahwa aku begitu menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Jadilah laki-laki yang hebat, kuatkanlah hatimu untuk segala apapun yang akan terjadi. Selamat tinggal, sayang. Selamat tinggal, kekasihku. Selamat tinggal, masa laluku.

Kamis, 26 Februari 2015

Tiga Minggu Setelah Kepergianmu

Aku menulis ini ketika pagi membangunkanku dari mimpi yang tak pernah bisa ku temukan maknanya. Selalu kamu yang hadir; entah kenapa. Aku menulis ini ketika aku sadar tak ada lagi rasa yang besar dalam hati ini untuk kamu atau siapapun. Aku menulis ini ketika aku benar-benar berpikir bahwa kamu telah menemukan seseorang yang bisa jauh lebih mencintaimu, menyayangimu, memahamimu dan menerima segala kekuranganmu daripada aku. Seseorang yang tentunya jauh lebih sempurna dariku yang telah berganti status menjadi ‘mantan kekasih’.

Rasanya seperti baru kemarin kau duduk disampingku dan berkata bahwa kau mempunyai rasa yang sama denganku; nyaman ketika bersamaku,  bahagia hanya bersamaku, aku satu-satunya dalam hati dan pikiranmu. Jelas kau berhasil menerbangkanku setinggi langit, meskipun hatiku merasa bahwa hatimu merasakan hal yang sebaliknya. Tapi kemudian kau justru menghilang tanpa kabar. Lalu hadir dengan kata bosan yang kau lontarkan. Jelas pernyataanmu membuatku terhempas dengan begitu keras. Memang salahku yang dengan begitu berani menganggap kau benar-benar memiliki rasa yang sama. Tapi kenyataannya justru berbeda. Aku kembali terluka.

Aku hanya pelarian dari mantan kekasihmu yang tak mampu kau gapai. Aku hanya persinggahan dari tempat yang kau anggap tak memiliki kenyamanan. Aku hanya orang yang kau datangi untuk kemudian kau tinggal pergi. Betapa bodohnya aku mencintai seseorang yang bahkan tak pernah bisa memutuskan kepada siapa hatinya memilih.

Dulu aku tak pernah mau memberimu kesempatan untuk kembali menyatukan hati. Dulu aku tak ingin mengabaikan perkataan teman-temanku yang mencoba menjauhiku dari laki-laki sepertimu. Dulu aku tak ingin mengingat kembali janji yang selalu kau beri tanpa bukti. Tapi apa daya jika hati masih ingin mencoba.

Betapa aku menyadari, tak ada keseriusan yang benar-benar mau kau berikan. Kau hanya tunjukkan aku pada sebuah permainan. Bagaimana bisa aku bertahan dengan orang yang mengucapkan sayang pada banyak orang, memperjuangkan orang yang menambatkan cinta pada dua hati, dan mempertahankan orang yang berkata rindu pada setiap individu; aku menahan orang yang selalu ingin pergi.

Aku memang sudah tenggelam terlalu dalam, berada dalam kesesakkan yang teramat menyakitkan. Kau selalu datang membawa janji, kemudian pergi meninggalkan luka yang harus ku tanggung sendiri; begitu seterusnya hingga aku lelah, hingga hatiku berdarah-darah. Seharusnya aku tak pernah menerima uluran tanganmu yang datang untuk menjanjikan membawaku pada kebahagiaan. Seharusnya aku tak menanggapi sapa lembutmu yang ternyata hanya menganggapku sebagai mainanmu. Seharusnya aku tak membuka (lagi) pintu yang sebelumnya ku tutup rapat untukmu. Sehingga aku tak perlu (lagi) kerepotan mengurusi hati yang kau buat berantakan.

Ada banyak pertanyaan dalam hati selama ini yang sulit ku tanyakan padamu. Dan kini ku temukan jawabannya tanpa harus ku tanyakan langsung padamu. Kau tak pernah memiliki perasaan sedalam yang kuberikan, kau tak pernah menaruh rindu seperti yang sering ku lakukan, dan kau tak pernah berniat menjadikanku yang terakhir untukmu. Aahh, pernahkah kau menjadi seseorang yang selalu diabaikan, sosok yang selalu di letakkan pada nomor kesekian?

Aku tak pernah lagi menangisi kepergianmu, meski banyak sendu yang kau titipkan pada kalbu. Entah kenapa, mungkin pergi sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam agendamu, dan kepergianmu sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam agendaku. Terhitung yang kesekian kalinya kau pergi tanpa permisi, hingga tak ada air mata yang tersisa untukmu lagi. Semua terasa semu; abu-abu. Aku telah terlatih dengan peristiwa kehilanganmu, sehingga aku tak perlu mempelajari lagi bagaimana aku harus berjalan tanpamu. Aku hanya perlu belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, untuk tidak mengorbankan berlian untuk seseorang yang tak memiliki nilai.

Jika kau ingin pergi, maka pergilah! Tapi berjanjilah; aku adalah orang terakhir yang kau sakiti, yang hatinya selalu kau hiasi dengan goresan luka, yang wajahnya selalu kau hiasi dengan deraian air mata, yang hidupnya selalu kau hiasi dengan derita. Berjanjilah setelah aku, wanita yang kau miliki akan kau bahagiakan, yang kau hormati cintanya, yang kau hargai kehadirannya, dan kau utamakan kepentingannya. 

Minggu, 22 Februari 2015

Tak Ada yang Tersisa

Malam yang menyejukkan dengan taburan bintang di langit, apa ada yang lebih baik dari semua itu? Di sebuah tempat, aku menunggu seseorang; sahabat karib, teman terbaik. Terdengar jelas suara langkah kaki yang telah ku hafal dengan baik.

          “lama gak ketemu!”  sapaku.

          “hai Dit!”

          (aku tersenyum mendengar suaranya)

         “Ditaaa!”  Adit menyebut namaku dengan tegas dan berdiri di sampingku.

          “apa?”

          “gw dateng, dan lo masih aja mempertahankan posisi lo”

          “emang seharusnya gimana?”  aku menoleh ke-arahnya.

          “yaa setidaknya lo berbalik arah buat ngeliat gw!”

          (aku kembali tersenyum)

          “gimana kabar lo?”

          “baik, lo sendiri?”

          “menurut lo?”  aku kembali melemparkan pertanyaan.

Diam. Hanya suara semilir angin yang berhembus diantara kita berdua, seakan-akan sibuk dengan pemikiran masing-masing; entah apa.

          “ada apa?”  Adit mulai bertanya.

          “gak ada apa-apa. Emang ada apa?”

          “ada hawa yang beda.”

          “hawa? Hawa apa?”

          “hawa suram yang memancar keluar dari diri lo.”  ledeknya.

          “hahaha, sial.” 

          “Ditaaaa....”

          “iyaa Adiiiiiiitttt....”

          (kami saling menoleh, kemudian tertawa)

          “pasti ada yang terjadi selama gw gak ada, iyaa kan?”

          “Adit, semua baik-baik aja, itu cuma perasaan lo aja.”

          “dan perasaan gw gak mungkin salah kan, dit?”

       “Adit, udah deeh, masih aja hobby menebak-nebak. Gak ada yang terjadi.”

          “terus apa kabar sama hati lo?”

          “hati gw? Baik-baik aja”

          “Ditaa, gw tau kook.”

          “tau apa?”

          “tau kalo lo lagi berusaha nyembunyiin sesuatu dari gw.”

          “nyembunyiin apa?”

Suasana kembali hening. Aku tau apa yang Adit maksud, dan ke arah mana pembicaraannya. Aku hanya tak ingin mengungkitnya saat ini.

          “gw kenal sama lo gak satu-dua hari, gak satu-dua bulan, bahkan tahun.”

          “iyaa gw tau, terus kenapa?”

          “yaa itu berarti lo tau kalo gak ada yang bisa lo sembunyiin dari gw.”

          “nyembunyiin apa siih, Dit?”

          “Ditaaaa.....”  ada nada kesal dari ucapannya.

          “hhhhhhhhh”  aku hanya menghela nafas.

          “lo di putusin lagi kan?”

          “Adit, tolong ralat kata-kata lo. gw gak pernah di putusin, dit.”

          “gak pernah di putusin, cuma ditinggalin? Itu sama aja, Dita.”

          “seharusnya itu bukan lagi jadi hal yang mengherankan buat lo!”

          “yaa emang bukan.”

          “trus letak permasalahannya dimana?”

          “yaa di diri lo.”

          “Adiiiitttt....”

          “Ditaaa....”  Adit memotong perkataanku terlebih dahulu.

“dia selalu ninggalin gw di persimpangan. Apa dia anggep perasaan gw cuma sebagai candaan?”  aku meninggikan nada suaraku.

“gw percaya lo udah berusaha sebaik mungkin, Dita.”

“apa ada yang salah di diri gw?”

“Dita, jangan bilang begitu!”

“lo juga ninggalin gw, Dit. Lo pergi dan gw laluin semuanya sendiri.”

“maaf.”  Suaranya terdengar lirih.

“udahlah, Dit. Gw gak mau ngungkit semuanya.”

Aku tahu dan aku berusaha memahami kesibukanmu. Aku mengetahui, setelah ini, kau pun akan pergi lagi, berkutat dengan dunia barumu yang tidak akan pernah bisa aku masuki.

          “gw cuma punya waktu buat ketemu lo sekarang.”

          “gw tau. Setelah ini lo bakal pergi lagi kan?”

          “Dita, selama gw disini, lo bisa keluarin semua yang lo rasain.”

          “apa gw harus cerita sama lo?”

          “iyaa, selama lo masih nganggep gw temen lo.”

          (aku hanya menanggapinya dengan tersenyum)

Angin tak berhenti berhembus, menyejukkan hati yang sedang kacau, dan pikiran yang berkecamuk. Kami hanya terdiam, merasakan semilir angin dan melihat banyak bintang yang hadir menemani kami.

          “Ditaaa...”

          “yaaaa....”

          “trus sekarang gw bisa ngelakuin apa buat lo?”

          “lo bisa meluk gw, Dit.”

          “apa itu bisa bikin lo tenang.”

“setidaknya itu bisa bikin gw ngerasa sedikit lebih baik.”  Aku tersenyum ke arahnya.

(Adit tersenyum, kemudian memelukku)


Tak ada yang lebih baik dari pelukkan yang kau hadirkan untuk menenangkanku. Aku merasa memilikimu ketika aku berada dalam dekapanmu, tapi setelah kau melepasnya, aku kembali tersadar, kau harus pergi (lagi) memasuki dunia barumu yang tidak ada aku di dalamnya. Duniaku sepi sejak kau pergi. Aku menjajaki kehidupanku tanpamu. Tapi peluk yang kau hadirkan malam itu, membuatku merasa aku masih memiliki tempat dalam pikiranmu. Sahabatku, tak ada yang tersisa sejak dia memilih pergi dan kau pun pergi, dan aku sendiri.


Cute Blue Flying Butterfly>