Aku menulis ini ketika pagi
membangunkanku dari mimpi yang tak pernah bisa ku temukan maknanya. Selalu kamu
yang hadir; entah kenapa. Aku menulis ini ketika aku sadar tak ada lagi rasa
yang besar dalam hati ini untuk kamu atau siapapun. Aku menulis ini ketika aku
benar-benar berpikir bahwa kamu telah menemukan seseorang yang bisa jauh lebih
mencintaimu, menyayangimu, memahamimu dan menerima segala kekuranganmu daripada
aku. Seseorang yang tentunya jauh lebih sempurna dariku yang telah berganti
status menjadi ‘mantan kekasih’.
Rasanya seperti baru kemarin kau
duduk disampingku dan berkata bahwa kau mempunyai rasa yang sama denganku; nyaman
ketika bersamaku, bahagia hanya
bersamaku, aku satu-satunya dalam hati dan pikiranmu. Jelas kau berhasil
menerbangkanku setinggi langit, meskipun hatiku merasa bahwa hatimu merasakan
hal yang sebaliknya. Tapi kemudian kau justru menghilang tanpa kabar. Lalu hadir
dengan kata bosan yang kau lontarkan. Jelas pernyataanmu membuatku terhempas
dengan begitu keras. Memang salahku yang dengan begitu berani menganggap kau
benar-benar memiliki rasa yang sama. Tapi kenyataannya justru berbeda. Aku kembali
terluka.
Aku hanya pelarian dari mantan
kekasihmu yang tak mampu kau gapai. Aku hanya persinggahan dari tempat yang kau
anggap tak memiliki kenyamanan. Aku hanya orang yang kau datangi untuk kemudian
kau tinggal pergi. Betapa bodohnya aku mencintai seseorang yang bahkan tak
pernah bisa memutuskan kepada siapa hatinya memilih.
Dulu aku tak pernah mau memberimu
kesempatan untuk kembali menyatukan hati. Dulu aku tak ingin mengabaikan
perkataan teman-temanku yang mencoba menjauhiku dari laki-laki sepertimu. Dulu aku
tak ingin mengingat kembali janji yang selalu kau beri tanpa bukti. Tapi apa
daya jika hati masih ingin mencoba.
Betapa aku menyadari, tak ada
keseriusan yang benar-benar mau kau berikan. Kau hanya tunjukkan aku pada
sebuah permainan. Bagaimana bisa aku bertahan dengan orang yang mengucapkan
sayang pada banyak orang, memperjuangkan orang yang menambatkan cinta pada dua
hati, dan mempertahankan orang yang berkata rindu pada setiap individu; aku
menahan orang yang selalu ingin pergi.
Aku memang sudah tenggelam
terlalu dalam, berada dalam kesesakkan yang teramat menyakitkan. Kau selalu
datang membawa janji, kemudian pergi meninggalkan luka yang harus ku tanggung
sendiri; begitu seterusnya hingga aku lelah, hingga hatiku berdarah-darah. Seharusnya
aku tak pernah menerima uluran tanganmu yang datang untuk menjanjikan membawaku
pada kebahagiaan. Seharusnya aku tak menanggapi sapa lembutmu yang ternyata
hanya menganggapku sebagai mainanmu. Seharusnya aku tak membuka (lagi) pintu
yang sebelumnya ku tutup rapat untukmu. Sehingga aku tak perlu (lagi) kerepotan
mengurusi hati yang kau buat berantakan.
Ada banyak pertanyaan dalam hati
selama ini yang sulit ku tanyakan padamu. Dan kini ku temukan jawabannya tanpa
harus ku tanyakan langsung padamu. Kau tak pernah memiliki perasaan sedalam
yang kuberikan, kau tak pernah menaruh rindu seperti yang sering ku lakukan,
dan kau tak pernah berniat menjadikanku yang terakhir untukmu. Aahh, pernahkah
kau menjadi seseorang yang selalu diabaikan, sosok yang selalu di letakkan pada
nomor kesekian?
Aku tak pernah lagi menangisi
kepergianmu, meski banyak sendu yang kau titipkan pada kalbu. Entah kenapa,
mungkin pergi sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam agendamu, dan kepergianmu
sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam agendaku. Terhitung yang kesekian
kalinya kau pergi tanpa permisi, hingga tak ada air mata yang tersisa untukmu
lagi. Semua terasa semu; abu-abu. Aku telah terlatih dengan peristiwa
kehilanganmu, sehingga aku tak perlu mempelajari lagi bagaimana aku harus
berjalan tanpamu. Aku hanya perlu belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang
sama, untuk tidak mengorbankan berlian untuk seseorang yang tak memiliki nilai.
Jika kau ingin pergi, maka
pergilah! Tapi berjanjilah; aku adalah orang terakhir yang kau sakiti, yang
hatinya selalu kau hiasi dengan goresan luka, yang wajahnya selalu kau hiasi
dengan deraian air mata, yang hidupnya selalu kau hiasi dengan derita. Berjanjilah
setelah aku, wanita yang kau miliki akan kau bahagiakan, yang kau hormati
cintanya, yang kau hargai kehadirannya, dan kau utamakan kepentingannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar