/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Senin, 30 Maret 2015

Ketidak-nyamananmu

Kamu hadir hari ini menemuiku dan atas permintaanku. Aku berniat memberikanmu sesuatu yang aku miliki; sebuah lampu musik kesayanganku yang dihadiahkan olehnya sebagai kado ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Kenapa harus kamu? Karna aku ragu memberikannya kepada orang lain, karna hanya kamu satu-satunya orang yang aku percayai hingga saat ini. Ketika semua orang yang aku percayai, mengkhianatiku, aku kehilangan kepercayaan kepada semua orang yang aku kenali, dan satu-satunya kepercayaan yang masih ada hanyalah kepercayaanku kepadamu.

Kamu sampai dirumahku, melihatku dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Aku menyambut kehadiranmu dengan wajah penuh kesedihan, mata yang sembab, dan pipi yang dipenuhi dengan air mata yang mengering. Terlihat jelas di matamu, sebuah tanda tanya mengapa aku sampai seperti itu, kau melihatku dengan tatapan kasihan.

"kenapa?" kau mulai bertanya.

"gapapa." jawabku.

"bohong. itu kenapa nangis?"

"siapa yang nangis siih!"

"kenapa?" kau terus menanyakan hal yang sama.

"gapapa."

"bisa banget siih malingin muka kaya gitu pas lagi di tanya!" 

"di bilangin gapapa juga, lagian siapa yang nangis tahu." aku berbohong.

"mana lampu yang mau di kasih ke gw?"

"ada di atas, di kamar."

"yaudah ambil giih, gw ikut ke atas yaa?"

"yaudah ke atas aja."

Aku mengambil lampu itu dari lemari, kemudian memasangnya, dan menunjukkannya kepadamu. Aku tahu kau menginginkannya setelah melihatnya. 

"lucu juga yaa?" katamu.

"itu kado ulang tahun dari dia." pernyataanku.

"ini kado dari dia? trus kenapa di kasih ke gw?" kau mulai mengajukan pertanyaan yang membingungkanku menjawabnya.

"gapapa." tak ada jawaban lain yang bisa aku lontarkan.

"sini ikut gw." kau menarikku menuju kamar.

"kenapa siiih?"

"sekarang gw tanya sama lu, kalo ini pemberian dia, kenapa lu kasih ke gw?"

"yaa terus mau di kasih ke siapa lagi?" aku berusaha menahan air mataku.

"sekarang gw tanya sama lu, apa yang lu rasain pas gw nyalain lampu ini?" nada suaramu terdengar pelan tapi begitu tegas di telingaku. Kemudian kau menyalakan lampu musik itu.

aku tak kuasa menahan air mata yang kian membendung, aku hanya bisa menangis membelakangimu.

"sekarang jawab pertanyaan gw, ada apa?"

"gak ada apa-apa, beneran." aku berusaha membela diriku sendiri.

"gw banting yaa niih lampu?" 

"Adit, jangaaaannn!" air mataku mulai mengalir, dan aku terduduk di kasur.

"yaudah jawab, kalo gak di jawab juga gw banting beneran ini lampu!"

"Adit, jangaaann, jangan di banting." aku hanya bisa menangis.

"bangun, songong kan gw lagi ngomong lu malah duduk."

Aku berdiri menghampirinya, tepat di hadapannya, dengan tatapan sendu aku menatapnya.

"ada apa?" kau kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

"gw gatau mau jawab apa." 

"Dita, pacaran kalo berantem itu wajar, gw juga begitu sama cewe gw."

"gw udah putus sama dia."

"kapan?"

"akhir januari kita anniv yang ke-4 tahun, seminggu setelah itu dia bilang bosen dan mau sendiri dulu. tapi sekarang dia mungkin udah punya pacar, Dit."

aku memalingkan wajahku darinya, bersandar di tembok kamar, dan menangis tanpa ada jawaban untuk pernyataanmu.

"kuat, Dita, kuat. lu gak boleh begini terus. ayo, lu harus kuat, gak boleh nangis."

aku hanya terdiam, entah apa yang harus aku katakan padamu.

"yaudah, kalo udah putus, yaudah. lu anak baik, Dita, pasti lu bakal dapetin yang lebih baik dari dia."

"iyaa." 

Kau memelukku yang hanya bisa menangis. Aku berharap, aku bisa kuat seperti yang kau katakan. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku percayai setelah aku kehilangan kepercayaan kepada orang-orang di sekelilingku.

Kita menonton film kartun bersama. Aku kuat jika ada kamu, tapi saat kau pergi, aku kembali rapuh. Nyaman rasanya berada di sampingmu ketika aku benar-benar tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Hingga waktunya kau untuk pulang.

"Dit, lampunya kok gak di bawa?" tanyaku.

"gw gak bawa tas, Dita. ribet aahh bawanya. Fiyan aja tuuh suruh bawa.

"oohh yaudah, di jaga yaa, Yan."

"iyaa gw jagain." tegas Fiyan.

Aku merasakan ada keraguan di hatimu untuk membawa lampu musik yang aku berikan. Seharusnya, aku tidak memberitahumu bahwa itu adalah hadiah pemberian darinya. Mengingat sebelumnya kau menginginkan lampu musik itu, tapi kau menolaknya dengan cara yang begitu halus. Aku mengerti apa yang kau rasakan, ketidaknyamananmu jika harus mengambil barang pemberiannya dari tanganku. Aku mengerti apa yang kau pikirkan, kau tidak bisa mengambilnya, karna kau tahu, itu adalah benda berharga kesayanganku yang di hadiahkan olehnya. Tak apa, Aku memahamimu.

Minggu, 29 Maret 2015

Pesan untuk Masa Lalu

Selalu ada pertanyaan dari orang-orang yang mengetahui kisah kita, kapan aku akan meninggalkanmu, kapan aku akan memutuskan untuk pergi darimu, dan kapan aku akan melepasmu. Semua pertanyaan itu telah aku jawab, bahwa akan ada saatnya aku akan pergi. Saat aku untuk pergi adalah saat dimana kamu telah menemukan pendamping hidupmu yang baru, seorang wanita yang jauh lebih sempurna dan lebih baik dariku, seseorang yang kau pilih untuk menggantikan posisiku sebagai kekasihmu. Itulah saat dimana tugasku selesai.

Hari ini adalah hari dimana aku mengetahui segalanya, semua kenyataan yang ada; kau telah menemukannya, kekasih hatimu, penggantiku. Sebuah dilema besar untukku, mengetahui begitu cepatnya kamu melupakan semua tentang kita, begitu cepatnya kau gantikan posisiku dengan dia. Untuk semua luka yang kau goreskan, ini yang kesekian. Bosan kau jadikan alasan untuk memutuskan hubungan kita, ingin sendiri kau jadikan pernyataan untuk keyakinan. Ingin sendiri? Apakah pernyataan itu sesuai dengan kenyataan yang ku dapati saat ini, sayang? Apa kau yakin, bosan dan ingin sendiri adalah kejujuranmu? Apakah bukan karna ada wanita lain yang kau cintai? Lalu dia, dengan rentang waktu yang belum cukup lama dari perpisahan kita, semua ucapanmu dusta?

Seharusnya aku tidak perlu heran. Mimpi yang mendatangiku beberapa minggu yang lalu, adalah pertanda bahwa kau memang benar-benar telah melupakanku. Mimpi itu terasa sangat menyakitkan, dan kini menjadi kenyataan. Aku melihatmu sedang bercerita denganku, kau tertawa, begitu bahagia. Tapi kemudian kau melihat ke arah seseorang, dan kau menghampirinya. Sedangkan aku hanya melihatmu pergi dengan wanita itu tanpa melihat ke arahku.

Kasihku, kenapa harus terulang lagi masa lalu? Kau selalu pergi dengan wanita yang ku tahu, ia lebih sempurna dariku. Aku harus kembali mengalah, dan tak mampu berbuat apa-apa. Kau selalu pergi meninggalkanku sendirian di persimpangan. Ketakutanku selama ini menjadi kenyataan. Apapun yang aku lakukan, takkan pernah bisa membuat hatimu merasa tercukupi, aku tak mampu mencukupkan hatimu. Aku berusaha memahami keadaanmu, tapi aku tak mampu melepasmu untuk yang kesekian kalinya.

Empat tahun, lebih dari seribu hari aku menemanimu tanpa pernah sedikitpun beranjak pergi meninggalkanmu. Dari kamu memiliki sebuah kendaraan, kemudian memiliki pendapatan dari hasil mengajar pramuka, ketika kamu tinggal di sebuah kontrakan, kemudian memiliki pekerjaan yang layak. Aku merasakan semua yang kau rasakan selama ini. Aku merasakan kegelisahan yang kau rasakan dan sesuatu yang kau pikirkan. Aku mengenalmu dengan sangat baik.

Cintaku, adanya tiba waktuku untuk pergi dari hidupmu, pastilah sebuah tanda bahwa tugasku menemanimu dan selalu ada untukmu telah selesai. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi seperti yang kau harapkan. Maaf aku tak bisa selamanya berada di sisimu untuk selalu menjagamu. Maafkan aku yang tak pernah bisa membuat hatimu tercukupkan dengan kehadiranku. Entah kenapa, hati ini begitu gelisah, tidak tenang, takut, cemas, dan khawatir ketika mengetahui kau telah memiliki kekasih baru. Dia yang kau pilih pastilah seseorang yang terbaik menurutmu, tapi aku tak memiliki kuasa apapun untuk menahan segala kekhawatiran dan ketakutanku akan hal itu. Sesuatu yang buruk yang akan kau lakukan, atau yang akan menimpamu, aku tak memiliki kekuatan untuk membayangkan semua itu.

Sayang, aku tahu satu hal, dia yang kau pilih pastilah yang kau harapkan untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya. Jagalah kesetiaanmu untuknya, jangan kau ulangi kesalahan yang dulu kau lakukan ketika denganku. Aku menyayangimu, kebencian yang membelenggu hatiku tidak akan pernah bisa membuatku lupa, bahwa aku begitu menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Jadilah laki-laki yang hebat, kuatkanlah hatimu untuk segala apapun yang akan terjadi. Selamat tinggal, sayang. Selamat tinggal, kekasihku. Selamat tinggal, masa laluku.
Cute Blue Flying Butterfly>