Air hujan turun satu persatu, membasahi apapun yang berada di bawahnya, perlahan, hingga awan memutuskan menjatuhkan semua airnya. Langit seakan sedang berduka, atau bagi seseorang yang kini pasrah membiarkan tubuhnya diguyur oleh jutaan tetes air hujan yang jatuh ke tanah, langit sedang membantunya menyamarkan air mata yang sudah sedari tadi mengaliri pipinya.
Bagi Nadya, langit selalu merefleksikan perasaannya. Entah bagaimana, yang ia tahu hanya langit biru selalu mampu mendamaikan hatinya yang tenang, dan kini langit mendung yang menumpahkan airnya telah membantunya menutupi kesenduan wajahnya, meski tidak dengan hatinya. Sepertinya langit memang sangat pantas menjadi sahabatnya, begitu selalu pikirnya.
Nadya berdiri di tengah taman yang hanya ada dirinya di sana. Memang siapa yang mau datang ke taman di saat hujan? Orang bodoh mana yang ingin menikmati dinginnya air hujan ketika ada selimut tebal yang lebih menghangatkan? Hanya Nadya, atau mungkin anak-anak kecil yang kemungkinan besar sedang merengek kepada orang tuanya agar diizinkan mandi hujan.
Nadya seakan mati rasa. Ia bahkan tidak merasakan dingin pada tubuhnya meski angin yang tak bersahabat sudah menusuk-nusuk setiap inci tubuhnya. Karena jauh di dalam sana, ada rasa yang lebih menguasai dirinya, seakan mematikan seluruh inderanya. Ia tidak mampu merasakan apa-apa selain sakit di hatinya. Nadya gagal menjaga hatinya. Nadya lupa memperhitungkan kapan hatinya akan dijatuhkan.
Seharusnya Nadya sadar bahwa, ketika ia menerima uluran seseorang, ia harus siap dilepaskan kapan saja.
Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ketika hari pernikahannya hanya tinggal menunggu waktu empat minggu, dan naasnya ia harus mendapati prianya sedang melepas rindu dengan masa lalu. Apa masa lalu memang harus selalu menjadi belenggu? Sialnya memang selalu seperti itu.
Nadya berjalan dengan langkah perlahan, ia memutuskan untuk pulang setelah puas mengeluarkan seluruh tangisannya bersama hujan. Hujan pun telah mereda, meski masih menyisakan rintik-rintiknya. Mengiringi Nadya menuju rumahnya yang tak jauh dari sana.
Yang dibutuhkan Nadya saat ini hanyalah istirahat, tak hanya raganya, tapi juga hatinya. Entah bagaimana ia harus mengatakan kepada seluruh keluarganya, atau meminta kepada pihak prianya untuk membatalkan segala rencana yang telah tersusun hampir sempurna. Itu akan ia pikirkan nanti, setelah lelah yang dirasa setidaknya berkurang meski sedikit saja.
Setelah sampai di rumah yang ia tinggali, Nadya langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menanggapi panggilan dari kakaknya, Rega, yang menatapnya khawatir melihat adiknya seperti anak kucing yang tersesat di tengah hujan. Tidak ada orang tuanya di rumah ini, karena mereka tinggal di Bandung. Ah, Bandung. Sepertinya bukan ide buruk kalau ia meninggalkan kota ini dan kembali tinggal bersama orang tuanya setelah kekacauan ini berakhir.
Bagaimana cara mengakhirinya?
Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Nadya meringkuk di atas kasurnya, kembali menangis. Memikirkan bagaimana caranya ia bertahan, atau bagaimana caranya ia bisa melewati fase dimana ia akan semakin terluka ketika harus kembali melihat calon mantan calon suaminya.
Ingatannya kembali, saat di mana ia memasuki rumah kekasihnya dan mendapati prianya sedang memeluk wanita lain yang merupakan masa lalu yang tak seharusnya kembali. Pintarnya, Nadya langsung memilih pergi, merasa tidak membutuhkan konfirmasi. Memang apa yang perlu dijelaskan kalau pengkhianatan sudah jelas di depan mata. Tapi hati tetaplah hati, ia tidak bisa memungkiri kalau sepenuh hatinya telah dicuri.
Sekarang Nadya mengerti, kenapa pria itu menghilang seakan ditelan bumi. Kenapa pria itu tidak lagi menghubunginya, mengirimkan pesan singkat padanya, mendatanginya pun tidak, mengabaikan setiap panggilan darinya, mengabaikan keberadaannya.
***
Sekarang, di sinilah Nadya berada, berhadapan dengan si pemberi luka yang menatapnya dengan sorot meminta penjelasan.
Dia baru datang setelah Nadya membatalkan rencana mereka? Nadya bahkan berani bertaruh kalau pria itu tidak akan datang jika ia tidak mendapatkan kabar batalnya hari penting yang seharusnya akan segera datang. Seharusnya.
Nadya memang sudah menyiapkan diri untuk menghadapi pria yang saat ini berada di urutan terakhir dari daftar orang yang ingin Nadya temui. Sayangnya, ia belum menyiapkan hati untuk menahan luka yang bahkan belum sembuh dari sebuah perih. Bukankah cepat atau lambat Nadya memang harus menghadapinya?
"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Nadya pada akhirnya setelah dirasanya kalau pria tersebut tidak mau terlebih dahulu membuka suara.
"Kamu benar-benar membatalkan pernikahan kita yang hanya tinggal satu bulan lagi, Na?" tanyanya dengan tatapan yang tidak bisa Nadya artikan. Bahkan Nadya tidak berniat untuk membaca maksud dari setiap tatapan yang akan pria itu berikan.
"Aku anggap itu sebagai pertanyaan retorik"
"Kenapa?"
"Kenapa aku anggap sebagai pertanyaan retorik?"
"Kenapa kamu membatalkannya?" tanya pria berkaca mata tersebut.
"Kenapa kamu baru datang?" bukan jawaban yang diberikan, Nadya justru balik bertanya.
"Na, aku tanya kamu dan kamu balik nanya? Cuma karena aku gak pernah dateng dan kamu batalin pernikahan kita?"
Dengan menahan luka yang ingin kembali menganga, Nadya memandang pria yang telah mampu memporak-porandakan hatinya dengan sempurna.
Nadya menggeleng sebelum membalas pertanyaan dari mantan kekasihnya. "Kamu bukan cuma nggak datang, tapi juga nggak memberikan aku kabar. Kamu kemana aja selama dua minggu ini?"
"Dan aku pikir kamu akan senang dengan aku yang membatalkan acara pernikahan kita!" lanjut Nadya sambil menatap serius pria bermata coklat dihadapannya.
"Senang? Apa kamu gila? Pernikahan kita cuma tinggal sebulan, persiapan udah hampir sempurna, dan kamu dengan seenaknya membatalkannya? Seharusnya kamu paham kalau aku sibuk! Seharusnya kamu ngerti kalau aku benar-benar sibuk sebelum-"
"Sibuk dengan masa lalu kamu yang kembali?" potong Nadya dengan seringai yang terbit di bibirnya saat melihat reaksi dari pria yang sebelumnya sibuk melontarkan kalimat-kalimat dusta.
"Ma-maksud kamu apa?" tanya pria itu dengan terbata.
"Aku anggap aku sudah memberikan kamu jawaban atas pertanyaan kenapa aku membatalkan acara kita" ucap Nadya yang sudah bangun dari posisi duduknya, dan siap untuk meninggalkan pria yang masih berusaha mencerna ucapan yang Nadya lontarkan.
"Aku tidak pernah mentolerir sebuah pengkhianatan, Ta! Kita sudah berakhir, dan bukan aku yang mengakhirinya, tapi kamu! Bukan sejak aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita-"
Ada jeda yang Nadya berikan, namun ketika pria bernama Tirta yang tak lain adalah mantan kekasihnya itu masih terpaku di tempatnya, Nadya memilih untuk melanjutkan kalimatnya, "tapi sejak kamu memutuskan untuk kembali menemuinya. Kamu sudah lebih dulu mengakhiri kita sejak hari dimana kamu mengizinkan dia kembali ke hidup kamu".
Merasa sudah cukup dengan apa yang harusnya Nadya katakan, Nadya memilih pergi, tidak hanya meninggalkan tempat pertemuan mereka, tapi juga meninggalkan sang pria dan kehidupannya.
Di tempat itu mereka bertemu, dan di tempat itu juga mereka berakhir. Nadya pergi, bukan membawa pulang kembali hati yang telah dicuri, ia justru membawa bongkahan luka yang diberi. Tanpa hati, ia melangkahkan kaki, membawa jutaan kenangan yang berlomba-lomba memasuki ingatannya. Karena seharusnya, ia tidak pernah memberikan seluruh hatinya kepada pria yang bahkan tidak mengejarnya di saat seharusnya ia mengatakan kalimat penuh permohonan maaf. Seharusnya.
"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Nadya pada akhirnya setelah dirasanya kalau pria tersebut tidak mau terlebih dahulu membuka suara.
"Kamu benar-benar membatalkan pernikahan kita yang hanya tinggal satu bulan lagi, Na?" tanyanya dengan tatapan yang tidak bisa Nadya artikan. Bahkan Nadya tidak berniat untuk membaca maksud dari setiap tatapan yang akan pria itu berikan.
"Aku anggap itu sebagai pertanyaan retorik"
"Kenapa?"
"Kenapa aku anggap sebagai pertanyaan retorik?"
"Kenapa kamu membatalkannya?" tanya pria berkaca mata tersebut.
"Kenapa kamu baru datang?" bukan jawaban yang diberikan, Nadya justru balik bertanya.
"Na, aku tanya kamu dan kamu balik nanya? Cuma karena aku gak pernah dateng dan kamu batalin pernikahan kita?"
Dengan menahan luka yang ingin kembali menganga, Nadya memandang pria yang telah mampu memporak-porandakan hatinya dengan sempurna.
Nadya menggeleng sebelum membalas pertanyaan dari mantan kekasihnya. "Kamu bukan cuma nggak datang, tapi juga nggak memberikan aku kabar. Kamu kemana aja selama dua minggu ini?"
"Dan aku pikir kamu akan senang dengan aku yang membatalkan acara pernikahan kita!" lanjut Nadya sambil menatap serius pria bermata coklat dihadapannya.
"Senang? Apa kamu gila? Pernikahan kita cuma tinggal sebulan, persiapan udah hampir sempurna, dan kamu dengan seenaknya membatalkannya? Seharusnya kamu paham kalau aku sibuk! Seharusnya kamu ngerti kalau aku benar-benar sibuk sebelum-"
"Sibuk dengan masa lalu kamu yang kembali?" potong Nadya dengan seringai yang terbit di bibirnya saat melihat reaksi dari pria yang sebelumnya sibuk melontarkan kalimat-kalimat dusta.
"Ma-maksud kamu apa?" tanya pria itu dengan terbata.
"Aku anggap aku sudah memberikan kamu jawaban atas pertanyaan kenapa aku membatalkan acara kita" ucap Nadya yang sudah bangun dari posisi duduknya, dan siap untuk meninggalkan pria yang masih berusaha mencerna ucapan yang Nadya lontarkan.
"Aku tidak pernah mentolerir sebuah pengkhianatan, Ta! Kita sudah berakhir, dan bukan aku yang mengakhirinya, tapi kamu! Bukan sejak aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita-"
Ada jeda yang Nadya berikan, namun ketika pria bernama Tirta yang tak lain adalah mantan kekasihnya itu masih terpaku di tempatnya, Nadya memilih untuk melanjutkan kalimatnya, "tapi sejak kamu memutuskan untuk kembali menemuinya. Kamu sudah lebih dulu mengakhiri kita sejak hari dimana kamu mengizinkan dia kembali ke hidup kamu".
Merasa sudah cukup dengan apa yang harusnya Nadya katakan, Nadya memilih pergi, tidak hanya meninggalkan tempat pertemuan mereka, tapi juga meninggalkan sang pria dan kehidupannya.
Di tempat itu mereka bertemu, dan di tempat itu juga mereka berakhir. Nadya pergi, bukan membawa pulang kembali hati yang telah dicuri, ia justru membawa bongkahan luka yang diberi. Tanpa hati, ia melangkahkan kaki, membawa jutaan kenangan yang berlomba-lomba memasuki ingatannya. Karena seharusnya, ia tidak pernah memberikan seluruh hatinya kepada pria yang bahkan tidak mengejarnya di saat seharusnya ia mengatakan kalimat penuh permohonan maaf. Seharusnya.