Hai sunyi.
Hai senyap.
Hai hening.
Hai hampa.
Hai semua lawan dari bising dan ramai.
Aku menyapa sepi, sunyi, senyap, dan semua hal yang mungkin maknanya sama. Tapi bagaimana bisa aku menyapa semuanya, jika aku adalah hampa itu sendiri? Bukankah, sebuah kediaman memang tak pernah akan bisa berbaur dengan riuh? Maka, aku yang diam, akan dengan senang hati membenci ramai.
Entah sejak kapan, aku kembali pada aktivitas awalku; menuliskan segala perasaan yang tak akan pernah bisa terucapkan pada laman kosong ini. Menciptakan banyak kata yang sesungguhnya tak pernah aku ingini karena ia berasal dari perasaan yang juga tak diingini. Entah sejak kapan, aku mulai berpikir untuk kembali pada teman tak kasat mata ini. Bercerita pada laman kosong yang hanya bisa membuat segala bentuk perasaanku menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh khalayak ramai, sedang aku sendiri membenci ramai.
Menulis seakan aku berbicara dan bercerita, sedangkan realita membuatku enggan berkata. Hanya mengamati apa yang terjadi dalam hening, tanpa komentar apapun, kemudian dilanda bingung yang semakin lama semakin tak menentu. Dihadapkan pada pilihan memang tak pernah menyenangkan, apalagi jika pilihan itu memang tak pernah diharapkan.
Aku memilih untuk bertahan pada zona nyamanku, yang juga ku pikir merupakan zona aman bagiku. Tapi, aku memang tak pernah bisa menghindar selamanya dari apa yang memang sudah menjadi kewajibanku, bukan? Ketika aku harus menjalankan kewajiban itu, tapi tak bisa memilih melalui apa aku ingin menjalankannya, dan hanya ada satu atau dua yang seakan menawarkan bantuan agar segalanya menjadi mudah. Tapi tidak! segalanya memang akan terlihat mudah, tapi tidak menjadi mudah dengan apa yang aku pikirkan.
Segalanya memang menjadi lebih rumit seperti biasanya setiap kali aku mencari tahu sebelum memilih. Kebimbangan berhasil menggerogoti hati, dan waktu terus menghimpitku. Waktu dan ragu menjadi dua hal yang menyebalkan dan bercampur menjadi satu. Itu memuakkan ketika aku bahkan tidak mempunyai siapapun untuk diajak bicara. Menyebalkan setiap kali kenyataan berhasil menamparku kembali ke dasar jurang, kalau aku memang tidak memiliki apapun untuk dijadikan arah tujuan.
Aku benci. Benci ketika aku menyadari kalau aku sedang berada di bawah tekanan. Tertekan dengan semua yang tidak aku inginkan memang suatu hal yang tidak aku akui perasaannya. Aku benci. Dan aku lebih membenci lagi ketika aku tidak bisa menangis meski hanya untuk masalah yang sangat kecil mengingat dulu aku bahkan bisa menangis berkali-kali dalam sehari hanya untuk hal sepele. Aku benci ketika aku merasa sangat depresi, padahal seharusnya tidak seperti itu. Aku benci ketika aku seakan membutuhkan obat penenang hanya untuk melupakan apa yang mengganggu pikiran.
Menangis adalah yang bisa aku lakukan hanya jika aku membaca kisah roman picisan, dan itu menggelikan ketika aku bahkan tidak bisa menangis di saat keadaan di sekitar begitu merepotkan sekaligus menyedihkan. Karena saat keadaan seakan terasa mencekam, yang aku dengar adalah nada dingin hati yang terus mengatakan "jangan menangis!", "jangan sedih!", "jangan lemah", "kau sudah terlalu banyak menghabiskan air matamu, dan jangan lakukan lagi!", "jangan perlihatkan kerapuhanmu dengan air mata sialan itu!", "jangan biarkan hatimu terluka lagi!", dan jangan-jangan lainnya yang berhasil merubah wajahku menjadi seorang yang seakan tak berperasaan.
Saat melihat sekitar begitu terluka dengan keadaan, dan banyak air mata yang menggenang berangsur keluar, aku menjadi lebih terlihat menyedihkan karena satu-satunya yang seakan tidak simpati dengan keadaan. Aku hanya bisa menatap kosong entah pada objek apa yang bisa aku jadikan, dan batinku bertanya "kenapa?". "kenapa aku tidak menangis seperti mereka?", "kenapa aku tidak merasakan sedih atau sakit yang sama?", "kenapa aku satu-satunya yang terlihat kejam dengan tidak mengeluarkan air mata?", dan kenapa-kenapa lainnya yang hanya akan membuat kepalaku berat, dan aku tahu, semua pikiran itu takkan singgah sebentar dalam otakku.
Memang menyedihkan ketika kau harus membuat benteng kokoh di dalam hatimu, dan tidak pernah membiarkan siapapun berani menghancurkannya. Memang memilukan ketika sebagian hatimu telah berhasil kau bekukan. Memang mengenaskan ketika kau berhasil terlihat sebagai orang yang tak berperasaan. Tapi tidak! Aku tidak semenyedihkan itu, tidak sememilukan itu, dan tidak semengenaskan itu. Aku senang menjalani peranku. Peran yang tak akan berhasil membuat siapapun berani mengambil kepingan terakhir yang aku miliki. Atau memang sebenarnya aku tidak memiliki apapun lagi.
Sekali lagi, aku membiarkan diriku tertarik kembali ke sisi gelap jalan. Dan berteriak "anybody help me!" adalah hal bodoh yang aku lakukan di saat aku tahu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku sekali lagi ketika aku memang tidak memiliki siapapun yang mengenalku, membacaku semudah dia membaca buku kesukaannya, dan bersedia menjadi arah yang ku tuju ketika aku tidak tahu harus berlari ke arah mana dan pada siapa.
Aku membencinya.
