/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Senin, 24 Oktober 2016

Untitle

Hai sepi.

Hai sunyi.

Hai senyap.

Hai hening.

Hai hampa.

Hai semua lawan dari bising dan ramai.

Aku menyapa sepi, sunyi, senyap, dan semua hal yang mungkin maknanya sama. Tapi bagaimana bisa aku menyapa semuanya, jika aku adalah hampa itu sendiri? Bukankah, sebuah kediaman memang tak pernah akan bisa berbaur dengan riuh? Maka, aku yang diam, akan dengan senang hati membenci ramai.

Entah sejak kapan, aku kembali pada aktivitas awalku; menuliskan segala perasaan yang tak akan pernah bisa terucapkan pada laman kosong ini. Menciptakan banyak kata yang sesungguhnya tak pernah aku ingini karena ia berasal dari perasaan yang juga tak diingini. Entah sejak kapan, aku mulai berpikir untuk kembali pada teman tak kasat mata ini. Bercerita pada laman kosong yang hanya bisa membuat segala bentuk perasaanku menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh khalayak ramai, sedang aku sendiri membenci ramai.

Menulis seakan aku berbicara dan bercerita, sedangkan realita membuatku enggan berkata. Hanya mengamati apa yang terjadi dalam hening, tanpa komentar apapun, kemudian dilanda bingung yang semakin lama semakin tak menentu. Dihadapkan pada pilihan memang tak pernah menyenangkan, apalagi jika pilihan itu memang tak pernah diharapkan. 

Aku memilih untuk bertahan pada zona nyamanku, yang juga ku pikir merupakan zona aman bagiku. Tapi, aku memang tak pernah bisa menghindar selamanya dari apa yang memang sudah menjadi kewajibanku, bukan? Ketika aku harus menjalankan kewajiban itu, tapi tak bisa memilih melalui apa aku ingin menjalankannya, dan hanya ada satu atau dua yang seakan menawarkan bantuan agar segalanya menjadi mudah. Tapi tidak! segalanya memang akan terlihat mudah, tapi tidak menjadi mudah dengan apa yang aku pikirkan. 

Segalanya memang menjadi lebih rumit seperti biasanya setiap kali aku mencari tahu sebelum memilih. Kebimbangan berhasil menggerogoti hati, dan waktu terus menghimpitku. Waktu dan ragu menjadi dua hal yang menyebalkan dan bercampur menjadi satu. Itu memuakkan ketika aku bahkan tidak mempunyai siapapun untuk diajak bicara. Menyebalkan setiap kali kenyataan berhasil menamparku kembali ke dasar jurang, kalau aku memang tidak memiliki apapun untuk dijadikan arah tujuan. 

Aku benci. Benci ketika aku menyadari kalau aku sedang berada di bawah tekanan. Tertekan dengan semua yang tidak aku inginkan memang suatu hal yang tidak aku akui perasaannya. Aku benci. Dan aku lebih membenci lagi ketika aku tidak bisa menangis meski hanya untuk masalah yang sangat kecil mengingat dulu aku bahkan bisa menangis berkali-kali dalam sehari hanya untuk hal sepele. Aku benci ketika aku merasa sangat depresi, padahal seharusnya tidak seperti itu. Aku benci ketika aku seakan membutuhkan obat penenang hanya untuk melupakan apa yang mengganggu pikiran.

Menangis adalah yang bisa aku lakukan hanya jika aku membaca kisah roman picisan, dan itu menggelikan ketika aku bahkan tidak bisa menangis di saat keadaan di sekitar begitu merepotkan sekaligus menyedihkan. Karena saat keadaan seakan terasa mencekam, yang aku dengar adalah nada dingin hati yang terus mengatakan "jangan menangis!", "jangan sedih!", "jangan lemah", "kau sudah terlalu banyak menghabiskan air matamu, dan jangan lakukan lagi!", "jangan perlihatkan kerapuhanmu dengan air mata sialan itu!", "jangan biarkan hatimu terluka lagi!", dan jangan-jangan lainnya yang berhasil merubah wajahku menjadi seorang yang seakan tak berperasaan.

Saat melihat sekitar begitu terluka dengan keadaan, dan banyak air mata yang menggenang berangsur keluar, aku menjadi lebih terlihat menyedihkan karena satu-satunya yang seakan tidak simpati dengan keadaan. Aku hanya bisa menatap kosong entah pada objek apa yang bisa aku jadikan, dan batinku bertanya "kenapa?". "kenapa aku tidak menangis seperti mereka?", "kenapa aku tidak merasakan sedih atau sakit yang sama?", "kenapa aku satu-satunya yang terlihat kejam dengan tidak mengeluarkan air mata?", dan kenapa-kenapa lainnya yang hanya akan membuat kepalaku berat, dan aku tahu, semua pikiran itu takkan singgah sebentar dalam otakku.

Memang menyedihkan ketika kau harus membuat benteng kokoh di dalam hatimu, dan tidak pernah membiarkan siapapun berani menghancurkannya. Memang memilukan ketika sebagian hatimu telah berhasil kau bekukan. Memang mengenaskan ketika kau berhasil terlihat sebagai orang yang tak berperasaan. Tapi tidak! Aku tidak semenyedihkan itu, tidak sememilukan itu, dan tidak semengenaskan itu. Aku senang menjalani peranku. Peran yang tak akan berhasil membuat siapapun berani mengambil kepingan terakhir yang aku miliki. Atau memang sebenarnya aku tidak memiliki apapun lagi.

Sekali lagi, aku membiarkan diriku tertarik kembali ke sisi gelap jalan. Dan berteriak "anybody help me!" adalah hal bodoh yang aku lakukan di saat aku tahu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku sekali lagi ketika aku memang tidak memiliki siapapun yang mengenalku, membacaku semudah dia membaca buku kesukaannya, dan bersedia menjadi arah yang ku tuju ketika aku tidak tahu harus berlari ke arah mana dan pada siapa.

Aku membencinya.


Sabtu, 15 Oktober 2016

Unspoken Words

Hai bintang yang tertutup awan.
Hai malam yang hitam legam.

Ada saat dimana, rasa tak nyaman hinggap di dalam dada, menusuk dan merasuk dengan tekanan yang begitu menyakitkan. Ada saat dimana harapan yang diimpikan, lenyap dalam nyata yang tak ingin di singgah. Ada saat dimana angan menjadi lebih menyenangkan dari sekedar realita yang banyak mengandung tipu daya. Ada saat dimana kata "andai" menjadi lebih berharga dari pada "sebenarnya".

Di sudut kamar dengan langit-langit yang terlihat begitu lusuh, aku meringkuk. Bukan karena berpikir kapan angin kencang akan merobohkan atap rumah, ataupun kapan rumah setengah layak ini di rebut paksa oleh orang yang memaksakan keinginannya. Namun satu yang mampu merobohkan segala pertahanan yang ada dalam diri dengan seketika, dan hal itu yang selalu orang-orang sebut dengan "keyakinan".

Aku ragu. Ragu yang begitu mengepung jiwa tak pernah mampu aku buat lumpuh. Berusaha menutup mata dengan segala yang ada di sekitar, membekukan perasaan hanya karena lelah dengan luka yang selalu dengan mudah orang-orang torehkan, menulikan telinga dari semua suara yang terdengar menyakitkan, menekankan beribu kalimat hanya untuk menguatkan, menahan segala lelah yang menyerbu datang. Segalanya sungguh menyulitkan.

Kenapa harus mereka yang mudah? Kenapa harus aku yang susah? Kenapa mereka bisa? Kenapa aku tidak bisa? Kenapa mereka diizinkan? Kenapa aku tidak diperbolehkan? Kenapa harus mereka? Kenapa harus aku? Kenapa yang aku pertanyakan begitu memuakkan. Dan kenapa-kenapa lainnya yang akan timbul setelahnya begitu menjijikan. Aku..... lelah.

Aku berdiri dengan sisa-sisa keyakinan yang berusaha ku teguhkan. Berusaha percaya pada apa yang sebelumnya aku percayakan. Aku ingin kepercayaanku tidak menipis lebih dari yang sebelumnya. Aku ingin bicara dan berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin berlari dan kabur, tapi tak ada yang di tuju. Sejenak, tak bisakah aku bersandar dalam lelah? Tak bisakah takdir berpihak sedikit saja? 

Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak berguna? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak bisa melakukan apa-apa? Adakah yang tahu bagaimana rasanya, bersembunyi di balik wajah datar dan tak perduli? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak punya pijakan di saat kerapuhan tak lagi dapat di tahan? Aku..... tak tahan.

Adakah yang tahu, ketika satu-satunya harapanmu memilih pergi? Adakah yang tahu, ketika satu-satunya pijakan memilih menyerah dan tak bertahan? Adakah yang tahu, ketika kau tak memiliki genggaman untuk menguatkan? 

Untuk segalanya, segala yang tak pernah bisa aku lakukan, segala yang tak pernah bisa aku pertahankan. Aku..... minta maaf.

Untuk semua, semua yang tak pernah menyerah untuk menghadang, aku mohon..... berhentilah.

Berhentilah merapuhkanku, merapuhkan kami.

Berhentilah menjatuhkanku, menjatuhkan kami.

Berhentilah menyakitiku, menyakiti kami.

Aku, Kami. Kami yang tak dapat berdiri kokoh.

Aku Mohon.




Selasa, 04 Oktober 2016

Hai kamu! (Hai aku!)

Hai malam.
Hai mendung.
Hai ragu.
Hai bimbang.
Hai takut.
Hai semua yang mengekung jiwa.

Bagaimana jika dalam kehidupanmu, bukan dirimulah yang menguasai? Bagaimana jika dalam setiap detik yang kau lewati, bukan dirimulah yang melewati? Bagaimana jika dalam duniamu, tak pernah ada kesempatan yang bisa kau ambil dengan tenang dan tanpa tantang? Bagaimana jika kau selalu diberikan pilihan yang tak pernah kau inginkan? Bagaimana jika, ketika kau memiliki satu-satunya pilihan yang kau inginkan dan harapkan, tapi kemudian satu-satunya pilihan itu sendiri yang memilih pergi dan meninggalkan?!

Hai, jiwa yang selalu berusaha melarikan diri! Hai, jiwa yang selalu diam-diam menangis dalam hati! Hai, jiwa yang selalu memendam setiap teriakan yang meronta meminta keluar! Hai, kamu yang berusaha meninggalkan dirimu yang dulu hanya demi mengubur luka yang sakitnya tak pernah mereda! Hai, kamu yang lupa bagaimana caranya tertawa dengan bahagia! Hai, kamu yang tak lagi ingat caranya tersenyum tulus tanpa pura-pura! Hai, hati yang membeku! Hai!

Kamu! Iya, kamu! Kamu yang telah lama berlari untuk memenuhi apa yang telah menjadi wajibmu, pada akhirnya menulislah tempat pulangmu, putih kosonglah yang menjadi tujuanmu, kata-katalah yang menjadi sandaran letihmu. Hai, kamu! Redamlah segala ragu yang memenuhi relungmu, kuburlah takutmu dalam malam yang menghantarkan hangat dan dingin secara bersamaan, pisahkan raga dan jiwa sejenak dalam lelap hingga mereka ingat siapa yang terlebih dahulu membutuhkan!

Hai, kamu yang hampa! Kamu yang mencintai hening dan sepi, kamu yang merindui tenang dan damai. Senyap telah menjadi duniamu, bukan? Maka, kembalilah pada duniamu, lepaskan topeng yang kau gunakan saat berada pada keramaian dan kegaduhan. Dunia tak sejahat itu untuk melulu membiarkanmu berada dalam paksa yang tak ingin kau rasa. Jika memang menulislah satu-satunya kehidupan yang kau punya, maka menulislah. Jika kau tak bisa menggapai jiwa yang ingin kau jadikan cita, kaburlah pada apa yang ingin kau baca dan berlarilah pada apa yang kau ingin buat cerita.

Hai, jiwa! Beristirahatlah!



***

Tell yourself that everything will be fine. Because no one knows you, loves you, and understands you as you do.



Jumat, 06 Mei 2016

Lima Belas Bulan Berlalu

Malam dan hari yang cukup sepi. Di kamarku yang gelap aku menyendiri, lagu don't you remember dari Adele berkumandang mengisi sela-sela kesunyian kamarku. Aku harap, hujan tidak terjadi di kamarku. Aku tidak tahu kenapa sampai detik ini, lagu itu masih sanggup membuat ingatanku tentangmu menguat, dan tentang kepergianmu yang tanpa aku ketahui dengan jelas alasannya-- begitu kuat menelusup memoriku. Aku benci saat-saat dimana aku bisa lebih membenci diriku sendiri daripada membenci orang lain, dan terutama kamu. Yaa, kamu-- dan akan selalu tentang kamu, entah sampai kapan. Aku telah berusaha untuk menahan diri agar tidak lagi menulis semua tentangmu, tentang kepergianmu, dan juga tentang betapa luka yang ku dapatkan karna kehilanganmu masih menganga tanpa ada tanda-tanda kesembuhan. Tapi Tuan, apakah yang aku dapatkan saat aku menahan diri untuk tidak menulis lagi semua tentang kita? Maukah kamu mengetahui bahwa yang aku dapatkan hanyalah rasa sakit yang semakin menjalar ke setiap aliran darah dan ke setiap ujung syarafku? Kenapa Tuan? Kenapa kehilangan sosok murahan sepertimu bisa begitu menyakitkan? Kenapa kepergian manusia yang tak punya hati sepertimu bisa begitu memilukan?

Sudah terhitung sejak keputusanmu meninggalkanku lima belas bulan yang lalu. Lima belas bulan yang ku jalani dengan penuh derita. Dan kini lagu don't you remember dari Adele berganti, lagu I'm not the only one dari Sam Smith kini menemani malamku, menemaniku menulis tentang betapa masih terlukanya aku mengingatmu. Lagu yang justru mengingatkanku tentang bagaimana kau menyembunyikan wanita itu dariku, yang kemudian kau tinggalkan aku demi bersamanya. Ya, lagu yang semakin membuatku teringat akan hari dimana kamu memutuskan untuk meninggalkanku demi wanita yang belum lama kau kenal-- kini membuatku semakin muak akan kenangan yang kau berikan di hari anniversarry kita yang ke empat. Tentu saja aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Yaa, ini memang bukan salahmu, juga bukan salahnya, tapi ini salahku yang sudah terlalu menganggapmu menjadi bagian terpenting di hidupku-- yang sudah menganggapmu menjadi duniaku, hingga kau pergi dan aku.......... aku menjadi tak menentu. Ini bukan salahmu, tentu saja. Jika saja aku tak menganggap segala yang kau janjikan adalah keseriusan, aku takkan menjadi gadis yang hampir kehilangan kewarasannya hanya karna kepergian seseorang yang tak punya hati sepertimu.

Aku pikir aku bisa melupakanmu dengan segala kesibukkan kuliahku yang semakin memadatkan waktu. Aku pikir aku bisa segera melenyapkanmu dari ingatanku dengan tugas-tugas kuliahku. Aku pikir dengan judul-judul skripsi yang ku siapkan dan yang akan dilanjutkan dengan pembuatan proposal skripsi bisa membuatku meng-enyahkanmu dari duniaku. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika namamu masih saja berotasi di otakku sebelum aku beranjak tidur? Tapi apa yang bisa aku lakukan jika bayanganmu masih saja mampir di setiap mimpiku? Apa yang harus aku lakukan , Tuan, dengan kehadiranmu di setiap lelapku yang selalu saja membuatku terbangun dari tidur dalam keadaan yang sama? Dengan air mata yang hinggap di mata, apa yang bisa aku lakukan untuk segala yang..... ah, sudahlah. Beribu kali aku jelaskan dan aku ceritakan padamu pun takkan bisa membuatmu mengerti. Bukankah laki-laki sepertimu takkan pernah bisa memahami siksa hati yang kau ciptakan untuk gadis sepertiku? Bukankah memang sudah hobbimu berlari dari satu wanita ke wanita yang lain? Bukankah memang sudah kebiasaanmu singgah dari satu hati ke hati yang lain? Bukankah kau memang tak pernah bisa bertahan pada satu hati, Tuan?

Maukah kamu mengetahui satu hal saja? Bahwa aku tumbuh dengan harapan setiap detiknya. Aku menanamkan harapan yang sama di setiap jengkal kehidupanku, dan itu adalah harapan betapa aku tidak menginginkan pertemuan kita terjadi. Maafkan aku, Tuan, bukan aku tidak menghargai setiap hal yang kau beri untuk membahagiakanku dulu, tapi aku hanya tidak menginginkan hal berharga apapun darimu menelusup di setiap memori ingatanku. Mengingat betapa aku mencintaimu setiap detik. Mengingat betapa aku merindukanmu di setiap hela nafasmu. Mungkin laki-laki sepertimu hanya bisa berpikir betapa berlebihannya aku terhadapmu, tapi tidak pernahkah kau lihat cinta yang begitu melekat memang tak pernah lepas dari sebuah kata berlebihan seperti yang pikirkan. Maafkan aku, Tuan yang kini telah mampu mencapai kesuksesannya, maafkan aku karna aku tak bisa menelaah maksud awalmu memasuki kehidupanku. Ya, andai saat itu aku tidak tergiur dengan harapan suci yang kau berikan, mungkin aku takkan jadi segila ini hidup tanpamu. Aku mulai meyakinkan diriku betapa kau sudah bahagia dengan kekasihmu yang baru, dan aku menjadi semakin berusaha lebih keras untuk meyakinkan hatiku bahwa kepulanganmu menjadi sesuatu yang mustahil untuk aku rindu.

Aku menjadi semakin takut saat malam mulai menyelimutiku, aku mulai terbiasa menahan kantuk hanya untuk menunda tidurku, aku menjadi semakin takut setiap kali aku terbangun dan mengingat kau hadir di mimpiku. Sungguh, aku tidak ingin tidur malam ini. Sungguh, aku benci ketika aku harus tersadar dari tidurku dalam keadaan air mata yang sudah berlinang. Kamu tentu tidak tahu betapa aku ingin berteriak dan menangis setiap kali kau mampir di setiap lelapku. Kamu tentu tidak tahu betapa mimpi tentangmu selalu mengingatkanku untuk tidak lagi mencintaimu seperti dulu. Tapi mungkin kamu juga tidak tahu betapa aku ingin berhenti mencintaimu. Aku benci harus tetap mencintaimu disaat kau membuangku dengan begitu keji. Lihatlah, Tuan, betapa keadaan mempermainkanku dengan begitu kejam. Mungkin memang sudah niat takdir untuk menghempaskanku dengan sangat kasar. Atau kamu memang seseorang yang suka menjadikan keadaan sebagai wadah untuk membuat alasan untuk kemudian pergi meninggalkan? Jika takdir tidak mengizinkanmu pulang, lantas mengapa takdir tetap tak menghilangkan rasa yang telah datang? Kenapa, Tuan? Kenapa bahkan setelah lima belas bulan berlalu rasaku untukmu masih tetap sama seperti dulu? Kenapa, Tuan? Kenapa seperti itu? Bukankah sungguh tak adil untukku, saat kau bisa begitu bahagia tanpaku, lantas aku masih tetap sengsara karna kehilanganmu. Jelaskan padaku, Tuan. Jelaskan kenapa aku masih begitu merasakan hangat peluk yang telah lama kau tinggalkan! Tak bisakah aku mendapat sedikit saja jawaban?



Selamat malam untukmu, Tuan
Dari wanita yang kau tinggalkan tanpa alasan, 
yang diam-diam masih mengharapkanmu pulang

Rabu, 30 Maret 2016

the feel in video

Hai masa lalu, lama tak berjumpa denganku, apa kau tak ingat aku? Tak apa jika memang begitu. Biar aku perkenalkan diriku. Ini aku, serpihan kecil dari masa lalumu, wanita yang sudah dengan berani memasuki hidupmu dan mencoba merubahmu, wanita yang sudah dengan lancang mencintai dan merindukan tanpa batas. Aku adalah wanita yang kau tinggalkan tanpa penjelasan atas kesalahan apa yang telah aku lakukan. Akulah wanita yang kau hukum tanpa henti, membiarkanku bertahun-tahun bertanya dalam hati, menyalahkan diri, kesalahan apa yang membuatmu pergi?

Jika kau berhasil menghapus ingatanmu tentangku, selamat! Tapi aku tidak melakukan hal yang sama denganmu. Aku masih mengingat sekecil apapun darimu. Apa kau mau tahu segala hal tentangmu yang masih melekat di memoriku? Akan aku ingatkan. Aku ingat bagaimana suaramu ketika kau sedang mengantuk, ataupun saat kau terbangun dari tidurmu. Aku ingat bagaimana raut wajahmu yang sedang menahan kantuk, ataupun raut wajahmu yang baru tersadar dari tidurmu. Suaramu, wajahmu, caramu tertawa, emosimu, amarahmu, sabarmu, tangismu, aku tahu.

Hai masa lalu, aku bahkan masih ingat sebanyak apa keringatmu saat kau makan dengan sambal yang ku pikir takkan baik untuk kesehatanmu. Aku bahkan ingat bagaimana caramu makan dan minum. Hal yang takkan pernah bisa ku lupakan adalah saat kau berkata "aku punya kabar baik, aku diterima kerja, besok aku udah mulai kerja" dengan tersenyum, atau saat kau kesulitan di awal-awal kamu bekerja dan kamu menangis karna kamu belum terbiasa dengan semua pekerjaan yang semakin menumpuk tapi pekerjaan satu saja belum kau selesaikan, dan saat kamu datang kepadaku dengan begitu cerianya kamu berkata "sekarang aku kerjanya udah cepet dong, udah bisa, udah gak lama lagi" (it's my happiness, you know?).

Semua tentangmu, takkan mungkin bisa aku jabarkan. Begitupun rasa yang kau tinggalkan. Inilah aku,  yang hatinya kau hukum bertahun-bertahun. Inilah rasaku.


Rabu, 23 Maret 2016

Dearest

Ayah. Sosok yang memiliki begitu banyak makna, tapi tak ku temukan makna itu dalam duniaku. Cinta pertama yang ku miliki sejak aku terlahir di fana. Tapi dimana kau? Tak ada. Ragamu tak lagi bisa ku sentuh, wujudmu tak bisa lagi ku lihat, dan suaramu tak lagi dapat ku dengar. Ayah, Cinta sejati yang murni. Amarahmu yang membuktikan kenakalanku, kini tak lagi ku saksikan sejak enam setengah tahun yang lalu. Rangkulanmu tak bisa lagi ku rasakan sejak kau pergi. Seharusnya kau tetap disini.

Ayahanda, seharusnya sosokmu tetap ada, tetap setia, tetap menjaga tubuh kecil ini yang tak sekuat perlindunganmu. Seharusnya tak kau tinggalkan aku secepat itu. Seharusnya kau tak pergi saat aku baru memasuki usia remaja, sehingga takkan kau biarkan aku terperosok pada jurang kegelapan. Seharusnya tak kau biarkan aku berdiri dalam keputus-asaan saat ini. Seharusnya kau ada untuk mengajarkanku menjadi wanita yang tangguh, tapi kau pergi meninggalkan banyak ketakutan dalam duniaku.

Ayahanda kekasihku, kepergianmu membuatku takut akan kesalahan-kesalahan yang akan aku lakukan. Ketakutanku akan memilih jalan, memilih pasangan, menentukan arah tujuan, kau tinggalkan aku sendirian dengan segala ketakutan yang kau timbulkan karna ketidak-hadiranmu. Keputus-asaan yang keadaan ciptakan, lantas bagaimana caraku meniadakan? Bagaimana aku bertahan dalam setiap terpaan keresahan? Karna seharusnya kau ada untuk ajarkan aku segalanya, segala yang tak ku bisa.

Duhai cinta pertamaku, bukankah seharusnya kau masih disini, memarahi setiap laki-laki yang berusaha mendekati putri kecilmu? Melindungiku dari setiap bahaya yang ada? Bukankah seharusnya kau ajarkan aku terlebih dahulu, segala sesuatu yang bersifat semu. Bukankah seharusnya kau beritahu aku terlebih dahulu, bahwa tak sembarang laki-laki boleh mendekatiku? Bukankah seharusnya kau tidak pergi secepat itu? Meninggalkanku dengan segala hal yang belum ku tahu? Bukankah seharusnya tak kau biarkan ada satu orang pun yang bisa melukai hati putrimu?

Wahai ayahanda tercinta, sosok yang selalu mengorbankan segalanya demi sebuah bahagia untukku, bidadari kecilmu. Kau pergi di saat aku masih sangat membutuhkanmu. Kau tinggalkan aku di saat aku memerlukan perlindunganmu. Kau tak ada untuk menuntunku kembali saat aku hilang arah. Tak kau tunjukkan dimana letak cahaya bahagia yang selalu ingin kau berikan itu. Karna tak mungkin kau biarkan aku jatuh, terbelenggu dan terinjak. Karna tak kau berikan aku kekuatan yang selalu kau pancarkan untuk melindungiku.

Duhai ayah, andai kau tahu, meski kau berada di dunia yang berbeda, aku berharap kau kembali, berharap kau tetap ada di sisi. Karna tak ada yang dapat diharapkan dari seorang gadis yang beranjak dewasa tanpa bimbingan ayahnya, kakak laki-laki pun tak punya. Segala sesuatu yang ada, perlahan menghilang tak bersisa.


Sabtu, 19 Maret 2016

Di Sebrang Jalan

Di sebrang jalan, aku berdiri sendiri. Yaa, hampir setiap hari, di pinggir jalan itu aku berdiri, dengan seragam putih abu-abu aku menunggu angkutan umum, tapi bukan sekedar itu aku berdiri bahkan sampai setengah jam berlalu dan angkutan umum berbelas kali melewatiku. Ada yang lebih membuatku menunggu. Seseorang yang ku tahu ia bukan milikku. Dengan tatapan nanar aku melihat ke sebrang jalan, dengan diam tetap menunggu meski tahu ia takkan datang.

Jantungku berdebar tak karuan seakan ia akan datang, tapi bahkan sampai hati pilu aku pulang menelan kekecewaan. Ia tak akan pernah bersusah payah berlari mengejarku seperti aku mengejarnya bukan? Dia tetap tidak akan datang meski berjam-jam aku menantinya datang. Sebrang jalan itu tetap kosong, tetap tak ada laki-laki berkulit hitam dan bertubuh besar yang sosoknya selalu aku nantikan. Aku tetap berdiri dalam kehampaan yang begitu menyakitkan. Dia tak pernah datang.

Bulan, bahkan tahun berganti, dan aku tetap berada di sebrang jalan dengan harapan yang menggumpal. Laki-laki yang genggamannya telah menjadi milik adik kelasku itu tetap tak pernah berada di hadapan. Ia tetap menjadi laki-laki yang sosoknya tak akan pernah mampu aku gapai. Sosok yang meski bertahun-tahun aku berada di sisinya, segala keadaannya aku tetap ada, tapi tak pernah bisa ku miliki hatinya. Hati yang tak pernah bisa menjadikanku segalanya.

Aku berjalan melewati setiap lorong jalan sekolahan dengan keadaan hati yang patah, yang setiap detiknya semakin parah, kemudian aku berdiri di sebrang jalan itu, berharap ia akan berlari untuk mengejarku, dan aku bisa melihatnya berdiri di sebrang jalan itu. Laki-laki yang setiap detiknya aku cintai, yang sosoknya ku cemaskan setiap saat, tak pernah ku dapatkan bahagianya. Seseorang yang pernah meneteskan air matanya di bahuku, ia tak pernah berlari ke arahku walau hanya untuk sebuah temu.

Dengan harapan aku membayangkan, dia berlari ke arahku, dia berdiri di sebrang jalan itu, dan aku berada di sebrangnya menantinya. Aku membayangkan laki-laki yang alisnya sedikit terpotong itu menatapku di sebrang jalan, tersenyum dengan sinar cinta di matanya, menghampiriku yang tengah menunggunya. Aku membayangkan ia datang, ia hadir dengan segala harapan yang sebelumnya ia janjikan. Tapi tidak, mungkin memang aku yang terlalu menginginkan hadirnya disana.

Selama apapun aku berdiri menantinya, ia takkan datang. Ia tak pernah berlari mengejarku seperti aku yang selalu mengejarnya. Ia takkan pernah hadir meski hanya untuk sebuah temu. Meski rindu menyulut jiwaku, meski janji banyak ia beri, dia tak pernah berada di sebrang jalan itu untuk menemuiku. Ia tak pernah tahu ada aku yang hampir setiap hari menunggunya. Dia tak pernah tahu ada aku yang selalu mengharapkan kedatangannya. Di sebrang jalan itu, pertama kali aku menunggunya untuk pulang sekolah bersama. Di sebrang jalan itu, aku selalu menantinya.

Sabtu, 20 Februari 2016

Karna Kalian (Lebih dari Cukup)



Aku berjalan di kegelapan,, aku tertatih dalam keterpurukkan,, aku tenggelam di laut keputus-asaan,, aku terdampar di pulau kebencian,, aku.....hampir tak terselamatkan..

Kalian datang..

Kalian duduk di hadapan,, menggapai setiap jemari yang bergetar,, membangunkanku dari kesedihan,, menatihku yang semakin kelelahan..

Kalian hadir,, merangkulku dengan harapan baru,, memelukku dengan mimpi baru,, menghangatkan hatiku yang terlampau sendu..

Senyum,, tawa,, canda,, kalian ajarkan padaku yang sebelumnya telah lupa..

Aku tak tahu cara bahagia..

Kalian tarik aku perlahan,, keluar dari sisi gelap jalan,, aku terselamatkan..

Luka dan air mata aku nikmati desir perihnya..

Kalian ajarkan aku bahagia di atas siksa derita..

Kalian membuatku kembali berharga saat aku hanya menjadi sebuah bara..

Kalian menjadikanku berlian di dalam kubangan..

Kalian membawaku kala yang lainnya membuangku..

Kalian sembuhkan aku dari kegilaan yang mengepung jiwaku..

Kalian menarikku untuk kembali menatap langit biru..

Terlihat secercah harapan yang sangat di rindu..

Aku kembali tersenyum tersipu malu..

Kalian mengeluarkanku dari kegelapan yang membuatku kelu..

Melalui senyum,, hatiku berseru..

Jumat, 29 Januari 2016

29 ke-60 (Satu Tahun Tanpamu)

Satu tahun telah berlalu sejak kepergianmu, dan aku masih saja ragu untuk meninggalkanmu. Aku masih bertanya-tanya pada hati, jika kamu sanggup berbahagia tanpaku, lantas mengapa aku masih saja menderita tanpamu? Apa karna kamu yang pertama? Apa karna kamu yang sudah dengan berani memulai segalanya? Apa karna kamu satu-satunya yang mampu membuka hatiku? Apa karna kamu satu-satunya yang mampu mendobrak seluruh pertahananku dulu? Apa karna kamu yang pertama sanggup meluluhkanku dengan tak berdayanya?

Satu tahun berlalu sejak kepergianmu, aku masih di rundung pilu, aku tetap berdiri di atas pijakanku, aku tetap tidak tahu kemana arah yang harus ku tuju. Aku kelu. Aku masih saja membisu. Berkali-kali aku mendengarkan lagu-lagu yang selalu kau nyanyikan dulu saat bersamaku. Terkadang, aku menangis mendengar setiap lirik katanya. Terkadang aku menangis setiap kali suaramu masih terdengar jelas di telingaku. Aku masih ingat setiap kata yang kau ucapkan ataupun yang kau nyanyikan. "Aku menggila", batinku.

Lima tahun sudah aku mencintaimu, dan aku ikhlas sepenuhnya menyayangimu dalam diamku. Satu tahun sudah ku lewati tanpamu. Satu tahun sudah aku berjalan tertatih melewati waktu tanpa hadirmu. Satu tahun berlalu dan aku masih menata hati yang sudah terlampau rapuh karna kehilanganmu. Satu tahun sudah aku lewati tanpa mendengar hangat suaramu. Satu tahun aku lewati gelapnya hari tanpamu. Satu tahun sudah aku lewati tanpa perseteruan denganmu. Satu tahun sudah aku merapuh. Dan satu tahun sudah aku membeku.

Hari ini adalah tanggal 29 ke-60. Tanggal 29 Januari kelima sejak aku berikan hatiku seluruhnya kepadamu. Satu tahun tanpamu. Yang aku ingat adalah, ini bukan pertama kalinya aku kehilanganmu, ini bukan pertama kalinya kau meninggalkanku, dan ini bukan tanggal 29 Januari pertama yang ku lalui tanpamu. Tapi yang tak bisa ku mengerti sampai detik ini hanyalah, kenapa aku masih belum terbiasa bernafas tanpamu meski kau berkali-kali pergi dari hidupku? Mengapa kepergianmu masih saja menyisakan sesak yang teramat menyakitkan di relungku?

Lima tahun, aku mengabdikan hatiku untukmu. Lima tahun ku serahkan seluruh hatiku untuk menyayangimu. Telah ku ikhlaskan jiwaku untuk mencintai segalamu. Lima tahun sudah, ku jadikan kau segalaku. Ku rasakan setiap desir perih yang ku nikmati untuk merindumu. Lima tahun aku menjadi pengawasmu tanpa pernah benar-benar merasa menjadi kekasihmu. Lima tahun ku habiskan persimpuhanku untuk penjagaanmu. Lima tahun sudah ku habiskan waktuku untuk mengkhawatirkan dan mencemaskanmu.

Lima tahun sudah, dan kini aku melepasmu sepenuhnya. Telah ku relakan kecewaku atas ingkarmu. Ku lepaskan segala ikatanku denganmu, baik ikatan janji maupun ikatan hati. Lima tahun telah ku persembahkan hatiku hanya untukmu meski kau telah menemukan alasan untuk meninggalkan setiamu. Aku relakan keinginanmu untuk pergi dari sisi. Lima tahun rasaku cukup untuk mencintamu, dan kini ku biarkan kau meninggalkanku. Aku diam tanpa kata terakhir melihat kepergianmu. Aku diam meski lara menjerit kesakitan.

29 Januari kelima; satu tahun tanpamu. Berdoalah agar aku tidak lagi menulis "tiga belas bulan sejak kepergianmu", "empat belas bulan sejak kepergianmu", sampai "dua tahun tanpamu" maupun "tiga tahun tanpamu". 29 ke-60, kini tiada lagi "kita". Aku meniadakanmu dalam hidupku. Aku meniadakan Rhevie dalam duniaku. Dongeng tentang bahagia yang ku tuliskan, ku hapus tak bersisa. Segala cerita kini menjadi air mata. Ku benam segala rasa yang masih ada. Ku relakan kau dan segala kenang yang masih tersisa.

Lima tahun telah berlalu. Ku ikhlaskan segala rasa yang ku punya untuk mencintaimu. Lima tahun telah berlalu, dan kau telah memilih pergi dariku. Lima tahun aku menyayangimu meski aku sering menyakitimu tanpa sadar. Kamu pergi dan aku tetap diam. Bintangku, pergilah tanpa pernah mengingat ada aku yang selalu menunggumu. Kini kau tak perlu lagi menyandingkan angka 01 dengan angka 13. Kini kau tak harus lagi menambahkan Vie di belakang Rhe. Cintaku, Bintangku, Harapanku, Mimpiku, Duniaku, Segalaku, ku ikhlaskan kamu dengan bahagiamu yang baru.





                Selamat tanggal 29 ke-60 untuk masa lalu. Selamat berpisah.

Jumat, 01 Januari 2016

Harapan Baru

Pergantian tahun telah tiba. Aku mengingat satu tahun yang lalu kita masih bersama, tapi kini aku merayakan tahun baru dengan keluargaku dan tanpamu, dan kamu dengan kekasih barumu mungkin ada harapan yang baru. Aku tanpamu, entah harus aku ibaratkan sebagai apa. Kini yang aku tahu hanyalah, aku dan kamu tak pernah ditakdirkan untuk bersatu. Apa aku yang terlalu sempurna untukmu, atau kamu yang memang tak pernah menginginkanku. Menyentuhmu saja kini bagaikan menggenggam asap.

Beberapa hari terakhir ini aku terlalu risau. Terlebih semenjak kamu berkata bahwa dirimu kini tak lebih baik dari kamu yang dulu. Aku begitu galau dan risau. Malam ini, entah bagaimana, aku merasakan ketakutan yang begitu mendalam. Kecemasan dan kekhawatiran seakan memelukku dengan begitu eratnya. Gelisah dan perasaan yang begitu kacau rupanya sukses melanda. Aku berfikir, apa kau baik-baik saja? Semoga kamu tidak melakukan apapun yang membuat dirimu menjadi semakin rusak.

Tahun yang baru, mungkin adalah awal yang baru bagi kamu, dan harapan yang baru untukku. Tapi lagi-lagi harus tetap kamu. Aku harap, awal yang baru mampu menuntunmu pada jalan yang baru. Jalan terang yang akan membawamu pada kedamaian. Jalan terang yang akan membimbingmu pada keharusan menjadikan diri sebagai pribadi yang lebih baik lagi. Tahukah kamu, saat kamu membiarkan dirimu terjatuh pada jurang kehancuran, saat itu juga kamu melukaiku dengan menusukkan jarum-jarum kekacauan dalam hidupku.

Aku tahu, bukan lagi menjadi tugasku untuk mengawasimu. Bukan lagi menjadi tugasku untuk selalu mengingatkanmu, atau bahkan menegormu ketika kamu melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu. Bukan lagi aku yang harus melakukan segala hal untuk menjagamu tetap berada dalam garis kebaikan. Dan untuk semua hal yang tak dapat aku lakukan, mampukah kamu berjanji agar kamu menghindari segala hal buruk yang mungkin begitu menggodamu? Sanggupkah kamu menjaga dirimu dengan sebaik-baiknya?

Disinilah aku, sayang, yang tak henti memohon perlindungan untukmu dari Penciptamu. Inilah puncak kecemasanku akan keadaanmu. Di awal tahun yang baru ini, aku berharap kamu selalu berada dalam lindungan-Nya. Aku harap kamu selalu mendapatkan segala yang terbaik untuk kehidupanmu. Berharap agar kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman selalu menyertai hatimu. Aku harap kamu terhindar dari segala keburukkan yang berada di sekitarmu, maupun yang akan kau lakukan. Aku harap kesuksesan semakin mudah kau dapatkan.

Segala hal yang ku takutkan dan aku cemaskan darimu, semoga tak pernah terjadi yang seperti itu. Meski luka dan kecewa masih merundungku, semoga kau tak merasakan yang ku rasakan. Dan andai aku dapat memohon di depanmu; aku mohon jagalah dirimu. Aku mohon jauhkan dirimu dari segala sesuatu yang mampu merusakmu. Aku mohon agar kamu mau membawa dirimu sendiri kedalam perubahan yang lebih baik. Jika kamu tidak pernah menginginkanku untuk mengatur hidupmu, maka bisakah kamu untuk tidak membiarkan dirimu sendiri terseret dalam arus kehancuran?




Dari aku yang mengharapkan surga untukmu.
Cute Blue Flying Butterfly>