/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Kamis, 26 Februari 2015

Tiga Minggu Setelah Kepergianmu

Aku menulis ini ketika pagi membangunkanku dari mimpi yang tak pernah bisa ku temukan maknanya. Selalu kamu yang hadir; entah kenapa. Aku menulis ini ketika aku sadar tak ada lagi rasa yang besar dalam hati ini untuk kamu atau siapapun. Aku menulis ini ketika aku benar-benar berpikir bahwa kamu telah menemukan seseorang yang bisa jauh lebih mencintaimu, menyayangimu, memahamimu dan menerima segala kekuranganmu daripada aku. Seseorang yang tentunya jauh lebih sempurna dariku yang telah berganti status menjadi ‘mantan kekasih’.

Rasanya seperti baru kemarin kau duduk disampingku dan berkata bahwa kau mempunyai rasa yang sama denganku; nyaman ketika bersamaku,  bahagia hanya bersamaku, aku satu-satunya dalam hati dan pikiranmu. Jelas kau berhasil menerbangkanku setinggi langit, meskipun hatiku merasa bahwa hatimu merasakan hal yang sebaliknya. Tapi kemudian kau justru menghilang tanpa kabar. Lalu hadir dengan kata bosan yang kau lontarkan. Jelas pernyataanmu membuatku terhempas dengan begitu keras. Memang salahku yang dengan begitu berani menganggap kau benar-benar memiliki rasa yang sama. Tapi kenyataannya justru berbeda. Aku kembali terluka.

Aku hanya pelarian dari mantan kekasihmu yang tak mampu kau gapai. Aku hanya persinggahan dari tempat yang kau anggap tak memiliki kenyamanan. Aku hanya orang yang kau datangi untuk kemudian kau tinggal pergi. Betapa bodohnya aku mencintai seseorang yang bahkan tak pernah bisa memutuskan kepada siapa hatinya memilih.

Dulu aku tak pernah mau memberimu kesempatan untuk kembali menyatukan hati. Dulu aku tak ingin mengabaikan perkataan teman-temanku yang mencoba menjauhiku dari laki-laki sepertimu. Dulu aku tak ingin mengingat kembali janji yang selalu kau beri tanpa bukti. Tapi apa daya jika hati masih ingin mencoba.

Betapa aku menyadari, tak ada keseriusan yang benar-benar mau kau berikan. Kau hanya tunjukkan aku pada sebuah permainan. Bagaimana bisa aku bertahan dengan orang yang mengucapkan sayang pada banyak orang, memperjuangkan orang yang menambatkan cinta pada dua hati, dan mempertahankan orang yang berkata rindu pada setiap individu; aku menahan orang yang selalu ingin pergi.

Aku memang sudah tenggelam terlalu dalam, berada dalam kesesakkan yang teramat menyakitkan. Kau selalu datang membawa janji, kemudian pergi meninggalkan luka yang harus ku tanggung sendiri; begitu seterusnya hingga aku lelah, hingga hatiku berdarah-darah. Seharusnya aku tak pernah menerima uluran tanganmu yang datang untuk menjanjikan membawaku pada kebahagiaan. Seharusnya aku tak menanggapi sapa lembutmu yang ternyata hanya menganggapku sebagai mainanmu. Seharusnya aku tak membuka (lagi) pintu yang sebelumnya ku tutup rapat untukmu. Sehingga aku tak perlu (lagi) kerepotan mengurusi hati yang kau buat berantakan.

Ada banyak pertanyaan dalam hati selama ini yang sulit ku tanyakan padamu. Dan kini ku temukan jawabannya tanpa harus ku tanyakan langsung padamu. Kau tak pernah memiliki perasaan sedalam yang kuberikan, kau tak pernah menaruh rindu seperti yang sering ku lakukan, dan kau tak pernah berniat menjadikanku yang terakhir untukmu. Aahh, pernahkah kau menjadi seseorang yang selalu diabaikan, sosok yang selalu di letakkan pada nomor kesekian?

Aku tak pernah lagi menangisi kepergianmu, meski banyak sendu yang kau titipkan pada kalbu. Entah kenapa, mungkin pergi sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam agendamu, dan kepergianmu sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam agendaku. Terhitung yang kesekian kalinya kau pergi tanpa permisi, hingga tak ada air mata yang tersisa untukmu lagi. Semua terasa semu; abu-abu. Aku telah terlatih dengan peristiwa kehilanganmu, sehingga aku tak perlu mempelajari lagi bagaimana aku harus berjalan tanpamu. Aku hanya perlu belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, untuk tidak mengorbankan berlian untuk seseorang yang tak memiliki nilai.

Jika kau ingin pergi, maka pergilah! Tapi berjanjilah; aku adalah orang terakhir yang kau sakiti, yang hatinya selalu kau hiasi dengan goresan luka, yang wajahnya selalu kau hiasi dengan deraian air mata, yang hidupnya selalu kau hiasi dengan derita. Berjanjilah setelah aku, wanita yang kau miliki akan kau bahagiakan, yang kau hormati cintanya, yang kau hargai kehadirannya, dan kau utamakan kepentingannya. 

Minggu, 22 Februari 2015

Tak Ada yang Tersisa

Malam yang menyejukkan dengan taburan bintang di langit, apa ada yang lebih baik dari semua itu? Di sebuah tempat, aku menunggu seseorang; sahabat karib, teman terbaik. Terdengar jelas suara langkah kaki yang telah ku hafal dengan baik.

          “lama gak ketemu!”  sapaku.

          “hai Dit!”

          (aku tersenyum mendengar suaranya)

         “Ditaaa!”  Adit menyebut namaku dengan tegas dan berdiri di sampingku.

          “apa?”

          “gw dateng, dan lo masih aja mempertahankan posisi lo”

          “emang seharusnya gimana?”  aku menoleh ke-arahnya.

          “yaa setidaknya lo berbalik arah buat ngeliat gw!”

          (aku kembali tersenyum)

          “gimana kabar lo?”

          “baik, lo sendiri?”

          “menurut lo?”  aku kembali melemparkan pertanyaan.

Diam. Hanya suara semilir angin yang berhembus diantara kita berdua, seakan-akan sibuk dengan pemikiran masing-masing; entah apa.

          “ada apa?”  Adit mulai bertanya.

          “gak ada apa-apa. Emang ada apa?”

          “ada hawa yang beda.”

          “hawa? Hawa apa?”

          “hawa suram yang memancar keluar dari diri lo.”  ledeknya.

          “hahaha, sial.” 

          “Ditaaaa....”

          “iyaa Adiiiiiiitttt....”

          (kami saling menoleh, kemudian tertawa)

          “pasti ada yang terjadi selama gw gak ada, iyaa kan?”

          “Adit, semua baik-baik aja, itu cuma perasaan lo aja.”

          “dan perasaan gw gak mungkin salah kan, dit?”

       “Adit, udah deeh, masih aja hobby menebak-nebak. Gak ada yang terjadi.”

          “terus apa kabar sama hati lo?”

          “hati gw? Baik-baik aja”

          “Ditaa, gw tau kook.”

          “tau apa?”

          “tau kalo lo lagi berusaha nyembunyiin sesuatu dari gw.”

          “nyembunyiin apa?”

Suasana kembali hening. Aku tau apa yang Adit maksud, dan ke arah mana pembicaraannya. Aku hanya tak ingin mengungkitnya saat ini.

          “gw kenal sama lo gak satu-dua hari, gak satu-dua bulan, bahkan tahun.”

          “iyaa gw tau, terus kenapa?”

          “yaa itu berarti lo tau kalo gak ada yang bisa lo sembunyiin dari gw.”

          “nyembunyiin apa siih, Dit?”

          “Ditaaaa.....”  ada nada kesal dari ucapannya.

          “hhhhhhhhh”  aku hanya menghela nafas.

          “lo di putusin lagi kan?”

          “Adit, tolong ralat kata-kata lo. gw gak pernah di putusin, dit.”

          “gak pernah di putusin, cuma ditinggalin? Itu sama aja, Dita.”

          “seharusnya itu bukan lagi jadi hal yang mengherankan buat lo!”

          “yaa emang bukan.”

          “trus letak permasalahannya dimana?”

          “yaa di diri lo.”

          “Adiiiitttt....”

          “Ditaaa....”  Adit memotong perkataanku terlebih dahulu.

“dia selalu ninggalin gw di persimpangan. Apa dia anggep perasaan gw cuma sebagai candaan?”  aku meninggikan nada suaraku.

“gw percaya lo udah berusaha sebaik mungkin, Dita.”

“apa ada yang salah di diri gw?”

“Dita, jangan bilang begitu!”

“lo juga ninggalin gw, Dit. Lo pergi dan gw laluin semuanya sendiri.”

“maaf.”  Suaranya terdengar lirih.

“udahlah, Dit. Gw gak mau ngungkit semuanya.”

Aku tahu dan aku berusaha memahami kesibukanmu. Aku mengetahui, setelah ini, kau pun akan pergi lagi, berkutat dengan dunia barumu yang tidak akan pernah bisa aku masuki.

          “gw cuma punya waktu buat ketemu lo sekarang.”

          “gw tau. Setelah ini lo bakal pergi lagi kan?”

          “Dita, selama gw disini, lo bisa keluarin semua yang lo rasain.”

          “apa gw harus cerita sama lo?”

          “iyaa, selama lo masih nganggep gw temen lo.”

          (aku hanya menanggapinya dengan tersenyum)

Angin tak berhenti berhembus, menyejukkan hati yang sedang kacau, dan pikiran yang berkecamuk. Kami hanya terdiam, merasakan semilir angin dan melihat banyak bintang yang hadir menemani kami.

          “Ditaaa...”

          “yaaaa....”

          “trus sekarang gw bisa ngelakuin apa buat lo?”

          “lo bisa meluk gw, Dit.”

          “apa itu bisa bikin lo tenang.”

“setidaknya itu bisa bikin gw ngerasa sedikit lebih baik.”  Aku tersenyum ke arahnya.

(Adit tersenyum, kemudian memelukku)


Tak ada yang lebih baik dari pelukkan yang kau hadirkan untuk menenangkanku. Aku merasa memilikimu ketika aku berada dalam dekapanmu, tapi setelah kau melepasnya, aku kembali tersadar, kau harus pergi (lagi) memasuki dunia barumu yang tidak ada aku di dalamnya. Duniaku sepi sejak kau pergi. Aku menjajaki kehidupanku tanpamu. Tapi peluk yang kau hadirkan malam itu, membuatku merasa aku masih memiliki tempat dalam pikiranmu. Sahabatku, tak ada yang tersisa sejak dia memilih pergi dan kau pun pergi, dan aku sendiri.


Jumat, 06 Februari 2015

Jalan Buntu

Pagi ini sudah kau putuskan, jalan mana yang mungkin terbaik untuk kita berdua. Perpisahan, sebagai satu-satunya jalan yang kau pilih. Aku melayangkan banyak pertanyaan yang mungkin membuat bibirmu kelu untuk menjawabnya. Tapi sayang, aku hanya ingin tahu kebenarannya, kebenaran mengenai isi hati dan pikiranmu, karena aku tahu, tidak mungkin selamanya aku menerka-nerka dan menebak-nebak apa yang kau rasakan dan kau pikirkan.


Kamu tak (lagi) menyayanginya, itu kata-katamu yang masih menjadi pertanyaan besarku, kenapa dua hari yang lalu kamu mulai membuka facebook miliknya lagi, dan kau tahu itu menyakitiku. “aku bosan, dan aku jenuh” pembelaanmu yang sesungguhnya telah aku ketahui sejak lama, mengingat sikapmu telah banyak berubah. Tapi, jika bosan, kenapa harus dia yang kau cari? Apa kau merindukannya? Atau bahkan masih menyimpan secercah harapan untuknya? Pertanyaan yang tak akan pernah ku dapatkan jawabannya. Dan, segalanya mulai kembali berbeda, aku asing dengan duniaku sendiri.


Masih teringat jelas di pikiranku ketika kamu bekata bahwa kamu tidak akan menyakitiku lagi, meninggalkan aku untuk kedua kalinya, ataupun mengulangi semua kesalahanmu di masa lalu. Tapi hari ini segalanya terbukti, ketakutan yang menyelimutiku selama ini mulai menunjukkan kebenarannya. Lalu aku bisa apa, sayang? Memaksamu untuk tetap tinggal dan menetap? Aku bukan orang yang suka memaksakan segalanya sesuai keinginanku, meskipun beberapa orang mengatakan aku adalah orang yang perfectionist.


Andai kamu tahu, aku jauh lebih berharap bisa kau jadikan tujuan daripada persinggahan ataupun pelarian. Iyaa, itulah yang aku rasakan. Ketika kamu mulai jenuh denganku, kamu pergi begitu saja tanpa meninggalkan kata-kata yang bisa membuatku merasa segalanya akan baik-baik saja meskipun kamu tak ada. Dan kau datang setiap kali aku mulai bisa melupakan semua yang pernah terjadi di antara kita, terbiasa tanpa kehadiranmu, dan segalanya hancur ketika kau mengulurkan tanganmu (lagi) dan berharap aku akan meraihnya kembali, seperti saat pertama kali kamu ucapkan janji kita akan bersatu sampai tua nanti.


Aku ingin menangis, meluapkan segala amarahku karenamu. Tapi aku tak bisa. Aku harus selalu dan selalu terlihat baik-baik saja di hadapan keluargaku, dan itu seperti sebuah tuntutan yang harus aku jalani. Kamu melempariku dengan jutaan rasa sakit yang tak dapat aku tahan deraannya. Aku sudah berjalan sejauh ini, berusaha bertahan dalam banyak rasa yang berkecamuk dalam dada. Aku sudah berjuang mempertahankanmu selama ini, menutup hati untuk setiap laki-laki manapun yang berusaha memasuki, dan segalanya tak berarti.


Apa yang aku perjuangkan adalah apa yang kamu sia-siakan, selalu dan selalu seperti itu. Kata bosan dan jenuh yang keluar dari bibir manismu membuatku hancur seketika, dan pertahananku roboh tak tersisa. Apa kamu pikir aku tak bosan? Apa menurutmu aku tidak jenuh? Ketahuilah, aku jauh lebih bosan, aku jauh lebih jenuh, dan aku sangat lelah. Apa kamu pikir menunggumu selama tiga tahun lamanya tidak membuatku merasa lelah? Aku lelah, sayang. Aku letih dalam penantian yang setiap detiknya membunuhku. Dan kau tak mau tahu.


Perpisahan yang kamu pilih sebagai jalan buntu bagi hubungan kita berdua, aku terima. Tiga tahun lagi kau akan kembali? Iyaa, itulah akhir penantianku untuk janji di masa lalu. Janji bahwa aku akan menunggumu 6 tahun lagi sejak 3 tahun yang lalu. Aku masih memegang janji itu di hatiku. Janji yang selama ini berusaha keras aku tunjukkan kepadamu, bahwa aku masih berjuang menepati janjiku.


Perpisahan yang kamu pilih mungkin tidaklah salah. Tapi mungkin aku yang salah telah mengambil cara untuk bunuh diri dengan menerima kehadiranmu lagi. Telah aku terima semua masa lalu yang kembali terulang di hari ini. Telah aku relakan kamu pergi dari kehidupanku seperti yang kau mau. Hal yang harus ku terima, kau pergi untuk kedua kalinya.


Kamu tepat memilih hari kapan kita berpisah, tepat seminggu setelah anniversarry kita ke-4. Tepat seperti perpisahan pertama kita 3 tahun yang lalu. Selamat tinggal, sayang. Selamat menjalani hari-hari tanpa kehadiranku. Aku, belajar tanpamu.
Cute Blue Flying Butterfly>