/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Sabtu, 29 Juli 2017

It's Over

Air hujan turun satu persatu, membasahi apapun yang berada di bawahnya, perlahan, hingga awan memutuskan menjatuhkan semua airnya. Langit seakan sedang berduka, atau bagi seseorang yang kini pasrah membiarkan tubuhnya diguyur oleh jutaan tetes air hujan yang jatuh ke tanah, langit sedang membantunya menyamarkan air mata yang sudah sedari tadi mengaliri pipinya.

Bagi Nadya, langit selalu merefleksikan perasaannya. Entah bagaimana, yang ia tahu hanya langit biru selalu mampu mendamaikan hatinya yang tenang, dan kini langit mendung yang menumpahkan airnya telah membantunya menutupi kesenduan wajahnya, meski tidak dengan hatinya. Sepertinya langit memang sangat pantas menjadi sahabatnya, begitu selalu pikirnya.

Nadya berdiri di tengah taman yang hanya ada dirinya di sana. Memang siapa yang mau datang ke taman di saat hujan? Orang bodoh mana yang ingin menikmati dinginnya air hujan ketika ada selimut tebal yang lebih menghangatkan? Hanya Nadya, atau mungkin anak-anak kecil yang kemungkinan besar sedang merengek kepada orang tuanya agar diizinkan mandi hujan.

Nadya seakan mati rasa. Ia bahkan tidak merasakan dingin pada tubuhnya meski angin yang tak bersahabat sudah menusuk-nusuk setiap inci tubuhnya. Karena jauh di dalam sana, ada rasa yang lebih menguasai dirinya, seakan mematikan seluruh inderanya. Ia tidak mampu merasakan apa-apa selain sakit di hatinya. Nadya gagal menjaga hatinya. Nadya lupa memperhitungkan kapan hatinya akan dijatuhkan.

Seharusnya Nadya sadar bahwa, ketika ia menerima uluran seseorang, ia harus siap dilepaskan kapan saja.

Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ketika hari pernikahannya hanya tinggal menunggu waktu empat minggu, dan naasnya ia harus mendapati prianya sedang melepas rindu dengan masa lalu. Apa masa lalu memang harus selalu menjadi belenggu? Sialnya memang selalu seperti itu. 

Nadya berjalan dengan langkah perlahan, ia memutuskan untuk pulang setelah puas mengeluarkan seluruh tangisannya bersama hujan. Hujan pun telah mereda, meski masih menyisakan rintik-rintiknya. Mengiringi Nadya menuju rumahnya yang tak jauh dari sana. 

Yang dibutuhkan Nadya saat ini hanyalah istirahat, tak hanya raganya, tapi juga hatinya. Entah bagaimana ia harus mengatakan kepada seluruh keluarganya, atau meminta kepada pihak prianya untuk membatalkan segala rencana yang telah tersusun hampir sempurna. Itu akan ia pikirkan nanti, setelah lelah yang dirasa setidaknya berkurang meski sedikit saja. 

Setelah sampai di rumah yang ia tinggali, Nadya langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menanggapi panggilan dari kakaknya, Rega, yang menatapnya khawatir melihat adiknya seperti anak kucing yang tersesat di tengah hujan. Tidak ada orang tuanya di rumah ini, karena mereka tinggal di Bandung. Ah, Bandung. Sepertinya bukan ide buruk kalau ia meninggalkan kota ini dan kembali tinggal bersama orang tuanya setelah kekacauan ini berakhir.

Bagaimana cara mengakhirinya?

Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Nadya meringkuk di atas kasurnya, kembali menangis. Memikirkan bagaimana caranya ia bertahan, atau bagaimana caranya ia bisa melewati fase dimana ia akan semakin terluka ketika harus kembali melihat calon mantan calon suaminya. 

Ingatannya kembali, saat di mana ia memasuki rumah kekasihnya dan mendapati prianya sedang memeluk wanita lain yang merupakan masa lalu yang tak seharusnya kembali. Pintarnya, Nadya langsung memilih pergi, merasa tidak membutuhkan konfirmasi. Memang apa yang perlu dijelaskan kalau pengkhianatan sudah jelas di depan mata. Tapi hati tetaplah hati, ia tidak bisa memungkiri kalau sepenuh hatinya telah dicuri.

Sekarang Nadya mengerti, kenapa pria itu menghilang seakan ditelan bumi. Kenapa pria itu tidak lagi menghubunginya, mengirimkan pesan singkat padanya, mendatanginya pun tidak, mengabaikan setiap panggilan darinya, mengabaikan keberadaannya.

***

Sekarang, di sinilah Nadya berada, berhadapan dengan si pemberi luka yang menatapnya dengan sorot meminta penjelasan.

Dia baru datang setelah Nadya membatalkan rencana mereka? Nadya bahkan berani bertaruh kalau pria itu tidak akan datang jika ia tidak mendapatkan kabar batalnya hari penting yang seharusnya akan segera datang. Seharusnya.

Nadya memang sudah menyiapkan diri untuk menghadapi pria yang saat ini berada di urutan terakhir dari daftar orang yang ingin Nadya temui. Sayangnya, ia belum menyiapkan hati untuk menahan luka yang bahkan belum sembuh dari sebuah perih. Bukankah cepat atau lambat Nadya memang harus menghadapinya?

"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Nadya pada akhirnya setelah dirasanya kalau pria tersebut tidak mau terlebih dahulu membuka suara.

"Kamu benar-benar membatalkan pernikahan kita yang hanya tinggal satu bulan lagi, Na?" tanyanya dengan tatapan yang tidak bisa Nadya artikan. Bahkan Nadya tidak berniat untuk membaca maksud dari setiap tatapan yang akan pria itu berikan.

"Aku anggap itu sebagai pertanyaan retorik"

"Kenapa?"

"Kenapa aku anggap sebagai pertanyaan retorik?"

"Kenapa kamu membatalkannya?" tanya pria berkaca mata tersebut.

"Kenapa kamu baru datang?" bukan jawaban yang diberikan, Nadya justru balik bertanya.

"Na, aku tanya kamu dan kamu balik nanya? Cuma karena aku gak pernah dateng dan kamu batalin pernikahan kita?" 

Dengan menahan luka yang ingin kembali menganga, Nadya memandang pria yang telah mampu memporak-porandakan hatinya dengan sempurna.

Nadya menggeleng sebelum membalas pertanyaan dari mantan kekasihnya. "Kamu bukan cuma nggak datang, tapi juga nggak memberikan aku kabar. Kamu kemana aja selama dua minggu ini?"

"Dan aku pikir kamu akan senang dengan aku yang membatalkan acara pernikahan kita!" lanjut Nadya sambil menatap serius pria bermata coklat dihadapannya.

"Senang? Apa kamu gila? Pernikahan kita cuma tinggal sebulan, persiapan udah hampir sempurna, dan kamu dengan seenaknya membatalkannya? Seharusnya kamu paham kalau aku sibuk! Seharusnya kamu ngerti kalau aku benar-benar sibuk sebelum-"

"Sibuk dengan masa lalu kamu yang kembali?" potong Nadya dengan seringai yang terbit di bibirnya saat melihat reaksi dari pria yang sebelumnya sibuk melontarkan kalimat-kalimat dusta.

"Ma-maksud kamu apa?" tanya pria itu dengan terbata. 

"Aku anggap aku sudah memberikan kamu jawaban atas pertanyaan kenapa aku membatalkan acara kita" ucap Nadya yang sudah bangun dari posisi duduknya, dan siap untuk meninggalkan pria yang masih berusaha mencerna ucapan yang Nadya lontarkan.

"Aku tidak pernah mentolerir sebuah pengkhianatan, Ta! Kita sudah berakhir, dan bukan aku yang mengakhirinya, tapi kamu! Bukan sejak aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita-" 

Ada jeda yang Nadya berikan, namun ketika pria bernama Tirta yang tak lain adalah mantan kekasihnya itu masih terpaku di tempatnya, Nadya memilih untuk melanjutkan kalimatnya, "tapi sejak kamu memutuskan untuk kembali menemuinya. Kamu sudah lebih dulu mengakhiri kita sejak hari dimana kamu mengizinkan dia kembali ke hidup kamu".

Merasa sudah cukup dengan apa yang harusnya Nadya katakan, Nadya memilih pergi, tidak hanya meninggalkan tempat pertemuan mereka, tapi juga meninggalkan sang pria dan kehidupannya.

Di tempat itu mereka bertemu, dan di tempat itu juga mereka berakhir. Nadya pergi, bukan membawa pulang kembali hati yang telah dicuri, ia justru membawa bongkahan luka yang diberi. Tanpa hati, ia melangkahkan kaki, membawa jutaan kenangan yang berlomba-lomba memasuki ingatannya. Karena seharusnya, ia tidak pernah memberikan seluruh hatinya kepada pria yang bahkan tidak mengejarnya di saat seharusnya ia mengatakan kalimat penuh permohonan maaf. Seharusnya.

Selasa, 03 Januari 2017

Act Like You Love Me

Aku diam memandang sosok gadis yang terduduk di sisi ranjang, bertahan dalam kebisuan yang sesungguhnya begitu mampu menusuk tepat di jantungku, hingga aku jengah dengan sunyi yang mengepung kami. Aku merubah posisi tidurku menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang tanpa mengalihkan pandanganku pada gadis yang menatap kosong udara di depannya. Yang aku tahu saat ini adalah, meski saat ini bibir kami diam, membiarkan suara detik jarum jam mengisi kosongnya ruang, namun kami sibuk bertengkar dengan pemikiran yang entah bagaimana begitu setia bertanggar.

Aku menghela nafas berat, menahan setiap sesak yang mampu membunuhku kapan saja. Aku tak ingin malam ini berakhir, karena aku tahu tak akan ada hari esok untuk kami. Aku ingin bicara, tapi terlalu banyak hal yang terlintas dalam otak yang tak mau saling mengalah untuk berdiam di tempat hingga aku bisa memilah mana yang terlebih dahulu harus aku bicarakan dan persoalkan. Tidak, kenyataannya memang tidak semudah itu. Kenyataannya semua hal memang berebut untuk menjadi yang terlebih dahulu aku pertanyakan.

“Apakah pemandangan langit malam memang lebih menarik sehingga kamu mengabaikanku?” pada akhirnya hanya kalimat tanya itu yang mampu ku keluarkan.

Hening. Ia tidak menjawab dan tidak juga mengalihkan pandangannya dari langit malam yang terlihat jelas dari jendela ruangan ini. Ia sibuk dengan pemikirannya yang tak pernah aku tahu apakah itu tentangku, ataukah tentang yang lainnya.

“Apa kamu datang hanya untuk menatap kosong udara malam?” lirihku yang tak lagi mampu menahan sesak di dadaku.

Dia tetap diam hingga beberapa saat sebelum aku mendengar helaan nafas kasarnya, punggungnya yang sedikit bergetar membuatku tahu kalau ia menahan air matanya agar tidak meluncur begitu saja.

“Maaf, aku harus pergi sekarang” ucapnya tiba-tiba, berdiri dari posisi duduknya dan hendak bergegas pergi hingga mampu membuatku bergerak refleks menahannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya hingga kini posisi kami berdiri tepat di belakang pintu dengan aku yang memeluknya dari belakang, menahannya yang sudah siap melangkah pergi tidak hanya dari ruangan ini, tapi juga dari ruang hidupku.

“Malam ini saja, tidak bisakah?” tubuhku bergetar, sekali lagi untuk tetap menahan agar cairan bening yang sudah berkumpul di pelupuk mata ini tidak meluncur.

“Maaf” lirihnya.

“Aku mohon” parau, hanya nada inilah yang tersisa dari suaraku.

Hening

“Sebelum kamu pergi besok, hanya malam ini, tetaplah di sini! Aku janji akan melakukan semuanya dengan benar, biarkan aku mencoba! Jangan pergi, aku mohon!” untuk kali ini, aku membiarkan air mata ini mengalir dengan bebas. Aku tak ingin lagi perduli pada statusku sebagai pria dewasa. Karena pada kenyataannya, pria dewasa pun memiliki saat dimana ia berada di titik terendahnya, dan di sinilah titik terendahku, tepat di depanku; gadisku.

Ia diam. Mencoba mengendalikan emosi dan perasaan lainnya yang mengepung jiwanya saat ini. Aku tahu dari caranya bernafas, ia berusaha mengendalikan perasaannya dengan mengatur nafasnya. Yang biasa aku lakukan, dan kini ia lakukan.

“Tak bisakah kamu mencintaiku hanya untuk malam ini?”

“Bersikaplah seakan kamu mencintaiku, hanya untuk saat ini, tak bisakah?” hanya ini, hanya untuk saat ini, hanya untuk terakhir kalinya aku memohon padanya sebelum ia pergi.

Aku merasakan tubuhnya yang bergetar mulai kembali tenang, genggamannya pada gagang pintu itu ia lepaskan, dan “baiklah” adalah kata yang ia ucapkan setelahnya. Seakan kembali mendapatkan udara, aku bisa bernafas lega. Setidaknya untuk malam ini, meski aku tahu esok aku akan kembali sulit bernafas.

Hanya sesederhana ini yang aku pinta, ia berada di hadapanku, dalam dekapanku. Hanya sesederhana ini yang aku inginkan, ia tetap berada di sini, di dekatku. Sebelum ia pergi esok, aku hanya ingin memandang wajah damainya yang tertidur dalam pelukanku. Rambut hitam legamnya yang selalu ia biarkan terurai menutupi punggungnya, matanya yang selalu menyiratkan perasaannya, hidung mungilnya yang selalu ku tempelkan dengan hidungku, bibirnya yang selalu melukis senyum indah. Hanya semalam, tubuh mungil ini berada dalam rengkuhanku. Ini hanya sesaat sebelum ia pergi, dan aku akan terus menghangatkannya hingga pagi datang dan perpisahan menjemput.

Saat ia pergi esok, aku tak akan bisa melihatnya pergi. Maka, gadisku, berjanjilah kamu akan pergi saat aku masih tertidur, dan ketika aku terbangun saat kamu sudah berada jauh dari tempat ini, aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Karena aku tahu, tak akan ada hari esok untuk kita.

Sebelum ia pergi esok dan ucapkan selamat tinggal. Sebelum ia pergi esok pagi dan ia akan mengakhiri segalanya. Hanya malam ini, aku ingin ia memelukku seakan ia mencintaiku, seakan ia tidak ingin kehilanganku, seakan ia memiliki rasa yang sama denganku. Setidaknya hanya untuk malam ini saja, aku ingin memilikinya sekali lagi. Berbaring dan memeluknya hanya untuk saat ini, hanya ini dan sesederhana ini sebelum ia pergi dan aku kembali kehilangan oksigenku. Malam ini, sebelum ia kembali pada pria yang akan mengikatnya pada tali pertunangan esok malam.




*****************************************************************************

Inspired by Shawn Mendes's song 💖



Senin, 24 Oktober 2016

Untitle

Hai sepi.

Hai sunyi.

Hai senyap.

Hai hening.

Hai hampa.

Hai semua lawan dari bising dan ramai.

Aku menyapa sepi, sunyi, senyap, dan semua hal yang mungkin maknanya sama. Tapi bagaimana bisa aku menyapa semuanya, jika aku adalah hampa itu sendiri? Bukankah, sebuah kediaman memang tak pernah akan bisa berbaur dengan riuh? Maka, aku yang diam, akan dengan senang hati membenci ramai.

Entah sejak kapan, aku kembali pada aktivitas awalku; menuliskan segala perasaan yang tak akan pernah bisa terucapkan pada laman kosong ini. Menciptakan banyak kata yang sesungguhnya tak pernah aku ingini karena ia berasal dari perasaan yang juga tak diingini. Entah sejak kapan, aku mulai berpikir untuk kembali pada teman tak kasat mata ini. Bercerita pada laman kosong yang hanya bisa membuat segala bentuk perasaanku menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh khalayak ramai, sedang aku sendiri membenci ramai.

Menulis seakan aku berbicara dan bercerita, sedangkan realita membuatku enggan berkata. Hanya mengamati apa yang terjadi dalam hening, tanpa komentar apapun, kemudian dilanda bingung yang semakin lama semakin tak menentu. Dihadapkan pada pilihan memang tak pernah menyenangkan, apalagi jika pilihan itu memang tak pernah diharapkan. 

Aku memilih untuk bertahan pada zona nyamanku, yang juga ku pikir merupakan zona aman bagiku. Tapi, aku memang tak pernah bisa menghindar selamanya dari apa yang memang sudah menjadi kewajibanku, bukan? Ketika aku harus menjalankan kewajiban itu, tapi tak bisa memilih melalui apa aku ingin menjalankannya, dan hanya ada satu atau dua yang seakan menawarkan bantuan agar segalanya menjadi mudah. Tapi tidak! segalanya memang akan terlihat mudah, tapi tidak menjadi mudah dengan apa yang aku pikirkan. 

Segalanya memang menjadi lebih rumit seperti biasanya setiap kali aku mencari tahu sebelum memilih. Kebimbangan berhasil menggerogoti hati, dan waktu terus menghimpitku. Waktu dan ragu menjadi dua hal yang menyebalkan dan bercampur menjadi satu. Itu memuakkan ketika aku bahkan tidak mempunyai siapapun untuk diajak bicara. Menyebalkan setiap kali kenyataan berhasil menamparku kembali ke dasar jurang, kalau aku memang tidak memiliki apapun untuk dijadikan arah tujuan. 

Aku benci. Benci ketika aku menyadari kalau aku sedang berada di bawah tekanan. Tertekan dengan semua yang tidak aku inginkan memang suatu hal yang tidak aku akui perasaannya. Aku benci. Dan aku lebih membenci lagi ketika aku tidak bisa menangis meski hanya untuk masalah yang sangat kecil mengingat dulu aku bahkan bisa menangis berkali-kali dalam sehari hanya untuk hal sepele. Aku benci ketika aku merasa sangat depresi, padahal seharusnya tidak seperti itu. Aku benci ketika aku seakan membutuhkan obat penenang hanya untuk melupakan apa yang mengganggu pikiran.

Menangis adalah yang bisa aku lakukan hanya jika aku membaca kisah roman picisan, dan itu menggelikan ketika aku bahkan tidak bisa menangis di saat keadaan di sekitar begitu merepotkan sekaligus menyedihkan. Karena saat keadaan seakan terasa mencekam, yang aku dengar adalah nada dingin hati yang terus mengatakan "jangan menangis!", "jangan sedih!", "jangan lemah", "kau sudah terlalu banyak menghabiskan air matamu, dan jangan lakukan lagi!", "jangan perlihatkan kerapuhanmu dengan air mata sialan itu!", "jangan biarkan hatimu terluka lagi!", dan jangan-jangan lainnya yang berhasil merubah wajahku menjadi seorang yang seakan tak berperasaan.

Saat melihat sekitar begitu terluka dengan keadaan, dan banyak air mata yang menggenang berangsur keluar, aku menjadi lebih terlihat menyedihkan karena satu-satunya yang seakan tidak simpati dengan keadaan. Aku hanya bisa menatap kosong entah pada objek apa yang bisa aku jadikan, dan batinku bertanya "kenapa?". "kenapa aku tidak menangis seperti mereka?", "kenapa aku tidak merasakan sedih atau sakit yang sama?", "kenapa aku satu-satunya yang terlihat kejam dengan tidak mengeluarkan air mata?", dan kenapa-kenapa lainnya yang hanya akan membuat kepalaku berat, dan aku tahu, semua pikiran itu takkan singgah sebentar dalam otakku.

Memang menyedihkan ketika kau harus membuat benteng kokoh di dalam hatimu, dan tidak pernah membiarkan siapapun berani menghancurkannya. Memang memilukan ketika sebagian hatimu telah berhasil kau bekukan. Memang mengenaskan ketika kau berhasil terlihat sebagai orang yang tak berperasaan. Tapi tidak! Aku tidak semenyedihkan itu, tidak sememilukan itu, dan tidak semengenaskan itu. Aku senang menjalani peranku. Peran yang tak akan berhasil membuat siapapun berani mengambil kepingan terakhir yang aku miliki. Atau memang sebenarnya aku tidak memiliki apapun lagi.

Sekali lagi, aku membiarkan diriku tertarik kembali ke sisi gelap jalan. Dan berteriak "anybody help me!" adalah hal bodoh yang aku lakukan di saat aku tahu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku sekali lagi ketika aku memang tidak memiliki siapapun yang mengenalku, membacaku semudah dia membaca buku kesukaannya, dan bersedia menjadi arah yang ku tuju ketika aku tidak tahu harus berlari ke arah mana dan pada siapa.

Aku membencinya.


Sabtu, 15 Oktober 2016

Unspoken Words

Hai bintang yang tertutup awan.
Hai malam yang hitam legam.

Ada saat dimana, rasa tak nyaman hinggap di dalam dada, menusuk dan merasuk dengan tekanan yang begitu menyakitkan. Ada saat dimana harapan yang diimpikan, lenyap dalam nyata yang tak ingin di singgah. Ada saat dimana angan menjadi lebih menyenangkan dari sekedar realita yang banyak mengandung tipu daya. Ada saat dimana kata "andai" menjadi lebih berharga dari pada "sebenarnya".

Di sudut kamar dengan langit-langit yang terlihat begitu lusuh, aku meringkuk. Bukan karena berpikir kapan angin kencang akan merobohkan atap rumah, ataupun kapan rumah setengah layak ini di rebut paksa oleh orang yang memaksakan keinginannya. Namun satu yang mampu merobohkan segala pertahanan yang ada dalam diri dengan seketika, dan hal itu yang selalu orang-orang sebut dengan "keyakinan".

Aku ragu. Ragu yang begitu mengepung jiwa tak pernah mampu aku buat lumpuh. Berusaha menutup mata dengan segala yang ada di sekitar, membekukan perasaan hanya karena lelah dengan luka yang selalu dengan mudah orang-orang torehkan, menulikan telinga dari semua suara yang terdengar menyakitkan, menekankan beribu kalimat hanya untuk menguatkan, menahan segala lelah yang menyerbu datang. Segalanya sungguh menyulitkan.

Kenapa harus mereka yang mudah? Kenapa harus aku yang susah? Kenapa mereka bisa? Kenapa aku tidak bisa? Kenapa mereka diizinkan? Kenapa aku tidak diperbolehkan? Kenapa harus mereka? Kenapa harus aku? Kenapa yang aku pertanyakan begitu memuakkan. Dan kenapa-kenapa lainnya yang akan timbul setelahnya begitu menjijikan. Aku..... lelah.

Aku berdiri dengan sisa-sisa keyakinan yang berusaha ku teguhkan. Berusaha percaya pada apa yang sebelumnya aku percayakan. Aku ingin kepercayaanku tidak menipis lebih dari yang sebelumnya. Aku ingin bicara dan berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin berlari dan kabur, tapi tak ada yang di tuju. Sejenak, tak bisakah aku bersandar dalam lelah? Tak bisakah takdir berpihak sedikit saja? 

Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak berguna? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak bisa melakukan apa-apa? Adakah yang tahu bagaimana rasanya, bersembunyi di balik wajah datar dan tak perduli? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak punya pijakan di saat kerapuhan tak lagi dapat di tahan? Aku..... tak tahan.

Adakah yang tahu, ketika satu-satunya harapanmu memilih pergi? Adakah yang tahu, ketika satu-satunya pijakan memilih menyerah dan tak bertahan? Adakah yang tahu, ketika kau tak memiliki genggaman untuk menguatkan? 

Untuk segalanya, segala yang tak pernah bisa aku lakukan, segala yang tak pernah bisa aku pertahankan. Aku..... minta maaf.

Untuk semua, semua yang tak pernah menyerah untuk menghadang, aku mohon..... berhentilah.

Berhentilah merapuhkanku, merapuhkan kami.

Berhentilah menjatuhkanku, menjatuhkan kami.

Berhentilah menyakitiku, menyakiti kami.

Aku, Kami. Kami yang tak dapat berdiri kokoh.

Aku Mohon.




Selasa, 04 Oktober 2016

Hai kamu! (Hai aku!)

Hai malam.
Hai mendung.
Hai ragu.
Hai bimbang.
Hai takut.
Hai semua yang mengekung jiwa.

Bagaimana jika dalam kehidupanmu, bukan dirimulah yang menguasai? Bagaimana jika dalam setiap detik yang kau lewati, bukan dirimulah yang melewati? Bagaimana jika dalam duniamu, tak pernah ada kesempatan yang bisa kau ambil dengan tenang dan tanpa tantang? Bagaimana jika kau selalu diberikan pilihan yang tak pernah kau inginkan? Bagaimana jika, ketika kau memiliki satu-satunya pilihan yang kau inginkan dan harapkan, tapi kemudian satu-satunya pilihan itu sendiri yang memilih pergi dan meninggalkan?!

Hai, jiwa yang selalu berusaha melarikan diri! Hai, jiwa yang selalu diam-diam menangis dalam hati! Hai, jiwa yang selalu memendam setiap teriakan yang meronta meminta keluar! Hai, kamu yang berusaha meninggalkan dirimu yang dulu hanya demi mengubur luka yang sakitnya tak pernah mereda! Hai, kamu yang lupa bagaimana caranya tertawa dengan bahagia! Hai, kamu yang tak lagi ingat caranya tersenyum tulus tanpa pura-pura! Hai, hati yang membeku! Hai!

Kamu! Iya, kamu! Kamu yang telah lama berlari untuk memenuhi apa yang telah menjadi wajibmu, pada akhirnya menulislah tempat pulangmu, putih kosonglah yang menjadi tujuanmu, kata-katalah yang menjadi sandaran letihmu. Hai, kamu! Redamlah segala ragu yang memenuhi relungmu, kuburlah takutmu dalam malam yang menghantarkan hangat dan dingin secara bersamaan, pisahkan raga dan jiwa sejenak dalam lelap hingga mereka ingat siapa yang terlebih dahulu membutuhkan!

Hai, kamu yang hampa! Kamu yang mencintai hening dan sepi, kamu yang merindui tenang dan damai. Senyap telah menjadi duniamu, bukan? Maka, kembalilah pada duniamu, lepaskan topeng yang kau gunakan saat berada pada keramaian dan kegaduhan. Dunia tak sejahat itu untuk melulu membiarkanmu berada dalam paksa yang tak ingin kau rasa. Jika memang menulislah satu-satunya kehidupan yang kau punya, maka menulislah. Jika kau tak bisa menggapai jiwa yang ingin kau jadikan cita, kaburlah pada apa yang ingin kau baca dan berlarilah pada apa yang kau ingin buat cerita.

Hai, jiwa! Beristirahatlah!



***

Tell yourself that everything will be fine. Because no one knows you, loves you, and understands you as you do.



Jumat, 06 Mei 2016

Lima Belas Bulan Berlalu

Malam dan hari yang cukup sepi. Di kamarku yang gelap aku menyendiri, lagu don't you remember dari Adele berkumandang mengisi sela-sela kesunyian kamarku. Aku harap, hujan tidak terjadi di kamarku. Aku tidak tahu kenapa sampai detik ini, lagu itu masih sanggup membuat ingatanku tentangmu menguat, dan tentang kepergianmu yang tanpa aku ketahui dengan jelas alasannya-- begitu kuat menelusup memoriku. Aku benci saat-saat dimana aku bisa lebih membenci diriku sendiri daripada membenci orang lain, dan terutama kamu. Yaa, kamu-- dan akan selalu tentang kamu, entah sampai kapan. Aku telah berusaha untuk menahan diri agar tidak lagi menulis semua tentangmu, tentang kepergianmu, dan juga tentang betapa luka yang ku dapatkan karna kehilanganmu masih menganga tanpa ada tanda-tanda kesembuhan. Tapi Tuan, apakah yang aku dapatkan saat aku menahan diri untuk tidak menulis lagi semua tentang kita? Maukah kamu mengetahui bahwa yang aku dapatkan hanyalah rasa sakit yang semakin menjalar ke setiap aliran darah dan ke setiap ujung syarafku? Kenapa Tuan? Kenapa kehilangan sosok murahan sepertimu bisa begitu menyakitkan? Kenapa kepergian manusia yang tak punya hati sepertimu bisa begitu memilukan?

Sudah terhitung sejak keputusanmu meninggalkanku lima belas bulan yang lalu. Lima belas bulan yang ku jalani dengan penuh derita. Dan kini lagu don't you remember dari Adele berganti, lagu I'm not the only one dari Sam Smith kini menemani malamku, menemaniku menulis tentang betapa masih terlukanya aku mengingatmu. Lagu yang justru mengingatkanku tentang bagaimana kau menyembunyikan wanita itu dariku, yang kemudian kau tinggalkan aku demi bersamanya. Ya, lagu yang semakin membuatku teringat akan hari dimana kamu memutuskan untuk meninggalkanku demi wanita yang belum lama kau kenal-- kini membuatku semakin muak akan kenangan yang kau berikan di hari anniversarry kita yang ke empat. Tentu saja aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Yaa, ini memang bukan salahmu, juga bukan salahnya, tapi ini salahku yang sudah terlalu menganggapmu menjadi bagian terpenting di hidupku-- yang sudah menganggapmu menjadi duniaku, hingga kau pergi dan aku.......... aku menjadi tak menentu. Ini bukan salahmu, tentu saja. Jika saja aku tak menganggap segala yang kau janjikan adalah keseriusan, aku takkan menjadi gadis yang hampir kehilangan kewarasannya hanya karna kepergian seseorang yang tak punya hati sepertimu.

Aku pikir aku bisa melupakanmu dengan segala kesibukkan kuliahku yang semakin memadatkan waktu. Aku pikir aku bisa segera melenyapkanmu dari ingatanku dengan tugas-tugas kuliahku. Aku pikir dengan judul-judul skripsi yang ku siapkan dan yang akan dilanjutkan dengan pembuatan proposal skripsi bisa membuatku meng-enyahkanmu dari duniaku. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika namamu masih saja berotasi di otakku sebelum aku beranjak tidur? Tapi apa yang bisa aku lakukan jika bayanganmu masih saja mampir di setiap mimpiku? Apa yang harus aku lakukan , Tuan, dengan kehadiranmu di setiap lelapku yang selalu saja membuatku terbangun dari tidur dalam keadaan yang sama? Dengan air mata yang hinggap di mata, apa yang bisa aku lakukan untuk segala yang..... ah, sudahlah. Beribu kali aku jelaskan dan aku ceritakan padamu pun takkan bisa membuatmu mengerti. Bukankah laki-laki sepertimu takkan pernah bisa memahami siksa hati yang kau ciptakan untuk gadis sepertiku? Bukankah memang sudah hobbimu berlari dari satu wanita ke wanita yang lain? Bukankah memang sudah kebiasaanmu singgah dari satu hati ke hati yang lain? Bukankah kau memang tak pernah bisa bertahan pada satu hati, Tuan?

Maukah kamu mengetahui satu hal saja? Bahwa aku tumbuh dengan harapan setiap detiknya. Aku menanamkan harapan yang sama di setiap jengkal kehidupanku, dan itu adalah harapan betapa aku tidak menginginkan pertemuan kita terjadi. Maafkan aku, Tuan, bukan aku tidak menghargai setiap hal yang kau beri untuk membahagiakanku dulu, tapi aku hanya tidak menginginkan hal berharga apapun darimu menelusup di setiap memori ingatanku. Mengingat betapa aku mencintaimu setiap detik. Mengingat betapa aku merindukanmu di setiap hela nafasmu. Mungkin laki-laki sepertimu hanya bisa berpikir betapa berlebihannya aku terhadapmu, tapi tidak pernahkah kau lihat cinta yang begitu melekat memang tak pernah lepas dari sebuah kata berlebihan seperti yang pikirkan. Maafkan aku, Tuan yang kini telah mampu mencapai kesuksesannya, maafkan aku karna aku tak bisa menelaah maksud awalmu memasuki kehidupanku. Ya, andai saat itu aku tidak tergiur dengan harapan suci yang kau berikan, mungkin aku takkan jadi segila ini hidup tanpamu. Aku mulai meyakinkan diriku betapa kau sudah bahagia dengan kekasihmu yang baru, dan aku menjadi semakin berusaha lebih keras untuk meyakinkan hatiku bahwa kepulanganmu menjadi sesuatu yang mustahil untuk aku rindu.

Aku menjadi semakin takut saat malam mulai menyelimutiku, aku mulai terbiasa menahan kantuk hanya untuk menunda tidurku, aku menjadi semakin takut setiap kali aku terbangun dan mengingat kau hadir di mimpiku. Sungguh, aku tidak ingin tidur malam ini. Sungguh, aku benci ketika aku harus tersadar dari tidurku dalam keadaan air mata yang sudah berlinang. Kamu tentu tidak tahu betapa aku ingin berteriak dan menangis setiap kali kau mampir di setiap lelapku. Kamu tentu tidak tahu betapa mimpi tentangmu selalu mengingatkanku untuk tidak lagi mencintaimu seperti dulu. Tapi mungkin kamu juga tidak tahu betapa aku ingin berhenti mencintaimu. Aku benci harus tetap mencintaimu disaat kau membuangku dengan begitu keji. Lihatlah, Tuan, betapa keadaan mempermainkanku dengan begitu kejam. Mungkin memang sudah niat takdir untuk menghempaskanku dengan sangat kasar. Atau kamu memang seseorang yang suka menjadikan keadaan sebagai wadah untuk membuat alasan untuk kemudian pergi meninggalkan? Jika takdir tidak mengizinkanmu pulang, lantas mengapa takdir tetap tak menghilangkan rasa yang telah datang? Kenapa, Tuan? Kenapa bahkan setelah lima belas bulan berlalu rasaku untukmu masih tetap sama seperti dulu? Kenapa, Tuan? Kenapa seperti itu? Bukankah sungguh tak adil untukku, saat kau bisa begitu bahagia tanpaku, lantas aku masih tetap sengsara karna kehilanganmu. Jelaskan padaku, Tuan. Jelaskan kenapa aku masih begitu merasakan hangat peluk yang telah lama kau tinggalkan! Tak bisakah aku mendapat sedikit saja jawaban?



Selamat malam untukmu, Tuan
Dari wanita yang kau tinggalkan tanpa alasan, 
yang diam-diam masih mengharapkanmu pulang

Rabu, 30 Maret 2016

the feel in video

Hai masa lalu, lama tak berjumpa denganku, apa kau tak ingat aku? Tak apa jika memang begitu. Biar aku perkenalkan diriku. Ini aku, serpihan kecil dari masa lalumu, wanita yang sudah dengan berani memasuki hidupmu dan mencoba merubahmu, wanita yang sudah dengan lancang mencintai dan merindukan tanpa batas. Aku adalah wanita yang kau tinggalkan tanpa penjelasan atas kesalahan apa yang telah aku lakukan. Akulah wanita yang kau hukum tanpa henti, membiarkanku bertahun-tahun bertanya dalam hati, menyalahkan diri, kesalahan apa yang membuatmu pergi?

Jika kau berhasil menghapus ingatanmu tentangku, selamat! Tapi aku tidak melakukan hal yang sama denganmu. Aku masih mengingat sekecil apapun darimu. Apa kau mau tahu segala hal tentangmu yang masih melekat di memoriku? Akan aku ingatkan. Aku ingat bagaimana suaramu ketika kau sedang mengantuk, ataupun saat kau terbangun dari tidurmu. Aku ingat bagaimana raut wajahmu yang sedang menahan kantuk, ataupun raut wajahmu yang baru tersadar dari tidurmu. Suaramu, wajahmu, caramu tertawa, emosimu, amarahmu, sabarmu, tangismu, aku tahu.

Hai masa lalu, aku bahkan masih ingat sebanyak apa keringatmu saat kau makan dengan sambal yang ku pikir takkan baik untuk kesehatanmu. Aku bahkan ingat bagaimana caramu makan dan minum. Hal yang takkan pernah bisa ku lupakan adalah saat kau berkata "aku punya kabar baik, aku diterima kerja, besok aku udah mulai kerja" dengan tersenyum, atau saat kau kesulitan di awal-awal kamu bekerja dan kamu menangis karna kamu belum terbiasa dengan semua pekerjaan yang semakin menumpuk tapi pekerjaan satu saja belum kau selesaikan, dan saat kamu datang kepadaku dengan begitu cerianya kamu berkata "sekarang aku kerjanya udah cepet dong, udah bisa, udah gak lama lagi" (it's my happiness, you know?).

Semua tentangmu, takkan mungkin bisa aku jabarkan. Begitupun rasa yang kau tinggalkan. Inilah aku,  yang hatinya kau hukum bertahun-bertahun. Inilah rasaku.


Cute Blue Flying Butterfly>