Aku diam memandang sosok gadis
yang terduduk di sisi ranjang, bertahan dalam kebisuan yang sesungguhnya begitu
mampu menusuk tepat di jantungku, hingga aku jengah dengan sunyi yang mengepung
kami. Aku merubah posisi tidurku menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang
tanpa mengalihkan pandanganku pada gadis yang menatap kosong udara di depannya.
Yang aku tahu saat ini adalah, meski saat ini bibir kami diam, membiarkan suara
detik jarum jam mengisi kosongnya ruang, namun kami sibuk bertengkar dengan
pemikiran yang entah bagaimana begitu setia bertanggar.
Aku menghela nafas berat, menahan
setiap sesak yang mampu membunuhku kapan saja. Aku tak ingin malam ini
berakhir, karena aku tahu tak akan ada hari esok untuk kami. Aku ingin bicara,
tapi terlalu banyak hal yang terlintas dalam otak yang tak mau saling mengalah
untuk berdiam di tempat hingga aku bisa memilah mana yang terlebih dahulu harus
aku bicarakan dan persoalkan. Tidak, kenyataannya memang tidak semudah itu.
Kenyataannya semua hal memang berebut untuk menjadi yang terlebih dahulu aku
pertanyakan.
“Apakah pemandangan langit malam
memang lebih menarik sehingga kamu mengabaikanku?” pada akhirnya hanya kalimat
tanya itu yang mampu ku keluarkan.
Hening. Ia tidak menjawab dan
tidak juga mengalihkan pandangannya dari langit malam yang terlihat jelas dari
jendela ruangan ini. Ia sibuk dengan pemikirannya yang tak pernah aku tahu
apakah itu tentangku, ataukah tentang yang lainnya.
“Apa kamu datang hanya untuk menatap
kosong udara malam?” lirihku yang tak lagi mampu menahan sesak di dadaku.
Dia tetap diam hingga beberapa
saat sebelum aku mendengar helaan nafas kasarnya, punggungnya yang sedikit
bergetar membuatku tahu kalau ia menahan air matanya agar tidak meluncur begitu
saja.
“Maaf, aku harus pergi sekarang”
ucapnya tiba-tiba, berdiri dari posisi duduknya dan hendak bergegas pergi
hingga mampu membuatku bergerak refleks menahannya. Aku tidak tahu bagaimana
caranya hingga kini posisi kami berdiri tepat di belakang pintu dengan aku yang
memeluknya dari belakang, menahannya yang sudah siap melangkah pergi tidak
hanya dari ruangan ini, tapi juga dari ruang hidupku.
“Malam ini saja, tidak bisakah?”
tubuhku bergetar, sekali lagi untuk tetap menahan agar cairan bening yang sudah
berkumpul di pelupuk mata ini tidak meluncur.
“Maaf” lirihnya.
“Aku mohon” parau, hanya nada
inilah yang tersisa dari suaraku.
Hening
“Sebelum kamu pergi besok, hanya
malam ini, tetaplah di sini! Aku janji akan melakukan semuanya dengan benar, biarkan
aku mencoba! Jangan pergi, aku mohon!” untuk kali ini, aku membiarkan air mata
ini mengalir dengan bebas. Aku tak ingin lagi perduli pada statusku sebagai
pria dewasa. Karena pada kenyataannya, pria dewasa pun memiliki saat dimana ia
berada di titik terendahnya, dan di sinilah titik terendahku, tepat di depanku;
gadisku.
Ia diam. Mencoba mengendalikan
emosi dan perasaan lainnya yang mengepung jiwanya saat ini. Aku tahu dari
caranya bernafas, ia berusaha mengendalikan perasaannya dengan mengatur
nafasnya. Yang biasa aku lakukan, dan kini ia lakukan.
“Tak bisakah kamu mencintaiku
hanya untuk malam ini?”
“Bersikaplah seakan kamu
mencintaiku, hanya untuk saat ini, tak bisakah?” hanya ini, hanya untuk saat
ini, hanya untuk terakhir kalinya aku memohon padanya sebelum ia pergi.
Aku merasakan tubuhnya yang
bergetar mulai kembali tenang, genggamannya pada gagang pintu itu ia lepaskan,
dan “baiklah” adalah kata yang ia ucapkan setelahnya. Seakan kembali
mendapatkan udara, aku bisa bernafas lega. Setidaknya untuk malam ini, meski
aku tahu esok aku akan kembali sulit bernafas.
Hanya sesederhana ini yang aku
pinta, ia berada di hadapanku, dalam dekapanku. Hanya sesederhana ini yang aku
inginkan, ia tetap berada di sini, di dekatku. Sebelum ia pergi esok, aku hanya
ingin memandang wajah damainya yang tertidur dalam pelukanku. Rambut hitam
legamnya yang selalu ia biarkan terurai menutupi punggungnya, matanya yang
selalu menyiratkan perasaannya, hidung mungilnya yang selalu ku tempelkan
dengan hidungku, bibirnya yang selalu melukis senyum indah. Hanya semalam,
tubuh mungil ini berada dalam rengkuhanku. Ini hanya sesaat sebelum ia pergi,
dan aku akan terus menghangatkannya hingga pagi datang dan perpisahan menjemput.
Saat ia pergi esok, aku tak akan bisa
melihatnya pergi. Maka, gadisku, berjanjilah kamu akan pergi saat aku masih
tertidur, dan ketika aku terbangun saat kamu sudah berada jauh dari tempat ini,
aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Karena aku tahu, tak akan ada hari esok
untuk kita.
Sebelum ia pergi esok dan ucapkan
selamat tinggal. Sebelum ia pergi esok pagi dan ia akan mengakhiri segalanya. Hanya
malam ini, aku ingin ia memelukku seakan ia mencintaiku, seakan ia tidak ingin
kehilanganku, seakan ia memiliki rasa yang sama denganku. Setidaknya hanya
untuk malam ini saja, aku ingin memilikinya sekali lagi. Berbaring dan
memeluknya hanya untuk saat ini, hanya ini dan sesederhana ini sebelum ia pergi
dan aku kembali kehilangan oksigenku. Malam ini, sebelum ia kembali pada pria
yang akan mengikatnya pada tali pertunangan esok malam.
*****************************************************************************
Inspired by Shawn Mendes's song 💖
Tidak ada komentar:
Posting Komentar