/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Selasa, 03 Januari 2017

Act Like You Love Me

Aku diam memandang sosok gadis yang terduduk di sisi ranjang, bertahan dalam kebisuan yang sesungguhnya begitu mampu menusuk tepat di jantungku, hingga aku jengah dengan sunyi yang mengepung kami. Aku merubah posisi tidurku menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang tanpa mengalihkan pandanganku pada gadis yang menatap kosong udara di depannya. Yang aku tahu saat ini adalah, meski saat ini bibir kami diam, membiarkan suara detik jarum jam mengisi kosongnya ruang, namun kami sibuk bertengkar dengan pemikiran yang entah bagaimana begitu setia bertanggar.

Aku menghela nafas berat, menahan setiap sesak yang mampu membunuhku kapan saja. Aku tak ingin malam ini berakhir, karena aku tahu tak akan ada hari esok untuk kami. Aku ingin bicara, tapi terlalu banyak hal yang terlintas dalam otak yang tak mau saling mengalah untuk berdiam di tempat hingga aku bisa memilah mana yang terlebih dahulu harus aku bicarakan dan persoalkan. Tidak, kenyataannya memang tidak semudah itu. Kenyataannya semua hal memang berebut untuk menjadi yang terlebih dahulu aku pertanyakan.

“Apakah pemandangan langit malam memang lebih menarik sehingga kamu mengabaikanku?” pada akhirnya hanya kalimat tanya itu yang mampu ku keluarkan.

Hening. Ia tidak menjawab dan tidak juga mengalihkan pandangannya dari langit malam yang terlihat jelas dari jendela ruangan ini. Ia sibuk dengan pemikirannya yang tak pernah aku tahu apakah itu tentangku, ataukah tentang yang lainnya.

“Apa kamu datang hanya untuk menatap kosong udara malam?” lirihku yang tak lagi mampu menahan sesak di dadaku.

Dia tetap diam hingga beberapa saat sebelum aku mendengar helaan nafas kasarnya, punggungnya yang sedikit bergetar membuatku tahu kalau ia menahan air matanya agar tidak meluncur begitu saja.

“Maaf, aku harus pergi sekarang” ucapnya tiba-tiba, berdiri dari posisi duduknya dan hendak bergegas pergi hingga mampu membuatku bergerak refleks menahannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya hingga kini posisi kami berdiri tepat di belakang pintu dengan aku yang memeluknya dari belakang, menahannya yang sudah siap melangkah pergi tidak hanya dari ruangan ini, tapi juga dari ruang hidupku.

“Malam ini saja, tidak bisakah?” tubuhku bergetar, sekali lagi untuk tetap menahan agar cairan bening yang sudah berkumpul di pelupuk mata ini tidak meluncur.

“Maaf” lirihnya.

“Aku mohon” parau, hanya nada inilah yang tersisa dari suaraku.

Hening

“Sebelum kamu pergi besok, hanya malam ini, tetaplah di sini! Aku janji akan melakukan semuanya dengan benar, biarkan aku mencoba! Jangan pergi, aku mohon!” untuk kali ini, aku membiarkan air mata ini mengalir dengan bebas. Aku tak ingin lagi perduli pada statusku sebagai pria dewasa. Karena pada kenyataannya, pria dewasa pun memiliki saat dimana ia berada di titik terendahnya, dan di sinilah titik terendahku, tepat di depanku; gadisku.

Ia diam. Mencoba mengendalikan emosi dan perasaan lainnya yang mengepung jiwanya saat ini. Aku tahu dari caranya bernafas, ia berusaha mengendalikan perasaannya dengan mengatur nafasnya. Yang biasa aku lakukan, dan kini ia lakukan.

“Tak bisakah kamu mencintaiku hanya untuk malam ini?”

“Bersikaplah seakan kamu mencintaiku, hanya untuk saat ini, tak bisakah?” hanya ini, hanya untuk saat ini, hanya untuk terakhir kalinya aku memohon padanya sebelum ia pergi.

Aku merasakan tubuhnya yang bergetar mulai kembali tenang, genggamannya pada gagang pintu itu ia lepaskan, dan “baiklah” adalah kata yang ia ucapkan setelahnya. Seakan kembali mendapatkan udara, aku bisa bernafas lega. Setidaknya untuk malam ini, meski aku tahu esok aku akan kembali sulit bernafas.

Hanya sesederhana ini yang aku pinta, ia berada di hadapanku, dalam dekapanku. Hanya sesederhana ini yang aku inginkan, ia tetap berada di sini, di dekatku. Sebelum ia pergi esok, aku hanya ingin memandang wajah damainya yang tertidur dalam pelukanku. Rambut hitam legamnya yang selalu ia biarkan terurai menutupi punggungnya, matanya yang selalu menyiratkan perasaannya, hidung mungilnya yang selalu ku tempelkan dengan hidungku, bibirnya yang selalu melukis senyum indah. Hanya semalam, tubuh mungil ini berada dalam rengkuhanku. Ini hanya sesaat sebelum ia pergi, dan aku akan terus menghangatkannya hingga pagi datang dan perpisahan menjemput.

Saat ia pergi esok, aku tak akan bisa melihatnya pergi. Maka, gadisku, berjanjilah kamu akan pergi saat aku masih tertidur, dan ketika aku terbangun saat kamu sudah berada jauh dari tempat ini, aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Karena aku tahu, tak akan ada hari esok untuk kita.

Sebelum ia pergi esok dan ucapkan selamat tinggal. Sebelum ia pergi esok pagi dan ia akan mengakhiri segalanya. Hanya malam ini, aku ingin ia memelukku seakan ia mencintaiku, seakan ia tidak ingin kehilanganku, seakan ia memiliki rasa yang sama denganku. Setidaknya hanya untuk malam ini saja, aku ingin memilikinya sekali lagi. Berbaring dan memeluknya hanya untuk saat ini, hanya ini dan sesederhana ini sebelum ia pergi dan aku kembali kehilangan oksigenku. Malam ini, sebelum ia kembali pada pria yang akan mengikatnya pada tali pertunangan esok malam.




*****************************************************************************

Inspired by Shawn Mendes's song 💖



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>