/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Minggu, 15 November 2015

Salah

Kenyataan baru apa lagi yang aku hadapi saat ini? Ketika bahkan teman dekatmu sendiri yang mengatakannya kepadaku bahwa selama ini bukan hanya aku wanitamu. Ada banyak wanita yang kamu bawa, entah itu hanya untuk sekedar berjalan-jalan atau makan. Hatiku sudah sangat berantakan, kini aku berusaha menata hati dengan sangat hati-hati, kemudian mendengar pernyataan dari teman dekatmu sendiri. Sanggupkah kamu membayangkan hancurnya perasaanku sekarang? Hatiku kembali berserakan. Mendengar pernyataan bahwa ucapan yang kamu lontarkan selama ini kepadaku hanyalah dusta. Entah. Apa aku harus mempercayai pernyataan teman dekatmu sendiri, atau mempercayai kamu yang sudah terbukti telah mengkhianati hati yang kau bawa pergi. Tubuhku lemas, jantungku tak bisa berdetak dengan normal, beribu macam hal berkecamuk dalam fikiran; aku kacau.

Aku fikir air mataku telah habis. Aku fikir air mataku tak lagi bersisa sehingga tidak ada sesuatu apapun lagi darimu yang mampu membuatnya mengalir. Aku fikir hatiku telah mati rasa. Kenyataan yang ada di depan mata adalah, aku kembali menitikan air mata. Air mata yang selama ini aku fikir telah habis terkuras, kini harus berderai kembali dengan begitu deras. Aku hanya mampu duduk di sudut kamar, terisak dalam sesak yang begitu menyakitkan. Lelah tak menyadarkanku bahwa malam tengah menjemput. Aku sibuk berkecimpung dalam kesedihan yang tak mengenakkan. Bagaimana bisa ini kembali terjadi, setelah semua yang aku lalui, aku fikir aku sudah terbebas dari bayangan menyakitkan tentangmu. Aku tak sanggup membayangkan kamu bersama yang lain. Aku tidak mampu membayangkan kamu berlalu lalang dengan wanita yang berbeda-beda.

Aku salah. Aku telah menaruh harapan yang besar selama ini padamu. Dan betapa hancurnya aku setiap kali aku mengingat empat tahun yang ku lalui dengan begitu banyak impian. Aku sanggup berdiri menunggumu, aku sibuk merindukanmu, aku heboh dengan kecintaanku padamu; aku buang-buang waktu. Aku mencintai laki-laki yang tak punya hati. Aku menghabiskan malam dengan menangis sendirian. Aku tak pernah menyangka, kau sanggup memperlakukanku seperti ini. Aku kembali berada pada titik terendahku. Aku berusaha untuk berdiri, tapi kenapa selalu ada darimu yang mampu meruntuhkanku? Cinta yang mana yang selama ini kau tunjukkan padaku, aku tidak tahu. Semua rasa yang kau sebutkan terasa begitu semu. Bukankah kamu yang menawarkan kebahagiaan? Tapi kenapa kau sendiri yang menciptakan neraka dalam dunia yang kau bawakan?

Tiga tahun yang lalu, kamu memintaku untuk berjanji menunggumu selama enam tahun, dan kamu akan datang membawa banyak kebahagiaan yang aku dambakan, kau berjanji akan menikahiku ketika enam tahun yang ku janjikan telah tiba. Kamu berjanji bahwa aku hanyalah satu-satunya wanita yang kau cintai. Kamu berjanji bahwa hatimu takkan pernah berpaling. Kamu berjanji akulah wanita terakhir untukmu. Kamu berjanji akan setia sampai kau kembali. Tahukah kamu betapa aku sangat ingin berteriak di hadapanmu dan juga di hadapan semua orang? "Apanya yang kau sebut bahagia? Apanya yang enam tahun? Apanya yang satu-satunya? Apanya yang terakhir? Apanya yang setia?", semua itu hanya omong kosong. Semua yang kau ucapkan hanya dongeng pengantar tidur yang kau ciptakan untukku.

Aku mencintai orang yang salah, dan aku salah. Aku tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan, karna kenyataan yang ada adalah selama empat tahun ini aku menyayangi orang yang salah, aku mempertahankan orang yang salah, dan semua yang telah aku lakukan hanyalah sia-sia. Aku akui, aku bodoh. Aku menaruh harapan yang begitu besar kepadamu, tapi aku bukan satu-satunya yang kau panggil dengan sebutan "sayang", aku bukan satu-satunya pelukan yang kau punya, tanganku bukan satu-satunya genggamanmu. Aku bukan satu-satunya kesayanganmu. Aku tak pernah menjadi segalamu. Semua itu hanya ada dalam bayanganku. Semua kebahagiaan yang pernah terjadi hanya ada dalam mimpi tidurku. Ya, mana mungkin semua itu ada dalam kenyataan?

Aku tidak cantik, aku tak memiliki tubuh yang bagus, aku tidak pintar, aku tidak memiliki apapun yang bisa kau banggakan. Ada banyak tinta hitam yang mewarnai kisah masa laluku, dan aku tak ingin memunafikkan diri. Aku suka pelangi, aku ingin kisah hidupku dipenuhi dengan warna-warna indah selayaknya pelangi yang ku cintai. Tapi aku tak bisa, tinta hitam masa lalu tak akan pernah bisa aku hapuskan. Dan sekarang, apa lagi yang bisa aku tunjukkan kepadamu? Karna memang tak ada hal indah dalam diriku yang mampu aku jadikan alat untuk menarik hatimu. Luka yang ada pun tak sanggup aku hilangkan. Bagaimana laki-laki sepertimu yang bisa memikat hati banyak wanita bisa menjadikan aku sebagai satu-satunya? Aku hanyalah bata yang berharap kau jadikan permata. Pernikahan dan kebahagiaan yang aku dambakan, takkan pernah mampu kau wujudkan.

Minggu, 01 November 2015

Jera

Kita saling diam, kita berbicara, kita bertengkar, kita bercanda, kita tertawa, kita menangis bersama. Sejak saat itu, bahagiamu menjadi bahagiaku, sedihmu menjadi sedihku, dan sakitmu juga menjadi sakitku. Aku melukis banyak mimpi. Aku membangun banyak harapan darimu. Aku menulis banyak kebahagiaan bersamamu. Aku membuat dongengku sendiri dengan adanya kamu di dalamnya. Aku selalu menantikan matahari terbit saat senja mulai masuk. Bertemu denganmu adalah hal yang ingin segera aku lakukan. Aku ingin menjadi rumahmu, satu-satunya tempat yang kau tuju untuk pulang. Aku ingin menjadi satu-satunya pelukan yang kau punya, seperti halnya kamu menjadi satu-satunya pelukan yang ku punya. Aku ingin menjadi satu-satunya genggamanmu untuk mengisi sela-sela jemarimu, seperti halnya tanganmu yang menjadi satu-satunya genggamanku. Aku ingin menjadi satu-satunya sandaranmu, seperti halnya pundakmu yang menjadi satu-satunya sandaranku. Aku ingin berjalan disampingmu, dan aku akan berlari secepat mungkin ke arahmu ketika kamu dalam bahaya. Aku ingin menjadi satu-satunya kesayanganmu. Aku ingin menjadi segalamu dan semua yang kamu butuhkan. Aku ingin menjadi duniamu.

Waktu berlalu, begitu juga kamu, kenangan dan kisah kita. Sikapku menyusahkanmu. Perlahan kamu pergi menjauh. Dan aku.... Aku berjalan di belakangmu. Aku berlari mengejar punggungmu yang semakin menjauhiku. Aku memanggil-manggil namamu. Aku berteriak tapi kamu tetap tidak mendengarkan. Hingga aku jauh dari ketertinggalanku, kamu tetap tak mau tahu. Sedetikpun kamu tak menoleh ke arahku. Aku melihatmu mencari-cari. Aku melihatmu berlari dari satu tempat ke tempat yang lain. Hatiku melihat hatimu singgah dari satu hati ke hati yang lainnya. Kamu meninggalkanku. Cintamu pudar, bayanganku kau hapuskan, namaku kau hilangkan. Aku kau lupakan. Tanpa pernah kamu sadari, perlahan aku berjalan mengikutimu, dalam diam aku mengawasimu, melalui Tuhan aku melindungimu. Tanpa aku sadari, hatiku patah. Aku terluka. Dan kamu.... Kamu tetap tak berhenti berlari kesana-kemari mencari sesuatu yang tak pasti. Tak sadarkah kamu, bahwa ada aku yang menunggu kepulanganmu. Aku menunggu bahagia yang kau janjikan. Aku menunggumu dengan kosongnya pelukan.

Tahun semakin berganti. Kamu datang dan pergi sesuka hati. Kamu berjalan tanpa pernah melihat ke arahku, meskipun aku berjalan disampingmu. Langkahku terhenti ketika aku menyadari, hatimu telah pergi, aku tidak benar-benar berada di sisi. Aku bertanya-tanya, dimana aku? Dan sejak saat itu aku tahu, kamu telah mengusirku dari istana hatimu. Semakin jauh kamu melangkah tanpa menyadari bahwa aku telah berhenti berjalan, semakin aku menyadari, aku tak pernah menjadi rumahmu, ragaku tidak pernah menjadi satu-satunya pelukanmu, tanganku tidak pernah menjadi satu-satunya genggamanmu, pundakku tidak pernah menjadi satu-satunya sandaranmu. Aku tidak pernah berjalan di sampingmu, tapi aku selalu berjalan di belakangmu, mengejarmu. Aku tidak pernah menjadi satu-satunya kesayanganmu. Aku tidak pernah menjadi segalamu. Aku tidak pernah menjadi duniamu. Sekujur tubuhku lemah saat aku menyadari bahwa aku tidak pernah menjadi sesuatu yang penting untukmu. Aku tak berdaya saat aku menyadari kehadiranku tak pernah kau anggap ada. Aku bukan apa-apa.

Kesadaranku tentang arti diriku bagimu semakin sempurna. Mengetahui aku tak pernah benar-benar ada membuatku semakin terluka. Aku bertahan dalam deraan yang semakin menyiksa. Aku melindungi hati agar tidak terlalu patah. Namun kenyataan yang ada kini berbeda. Mimpi yang ku lukis, harapan yang ku bangun, kebahagiaan yang ku tulis, dongeng yang ku buat. Segalanya hancur seketika. Pertahananku roboh tak tersisa. Hatiku berserakan dan aku hanya diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Entah harus aku rapihkan atau aku biarkan. Entah harus aku sapu atau aku tata kembali menjadi satu. Aku tak tahu. Dan tahukah kamu bahwa kini aku sudah jera? Aku tidak tahu kesalahan apa yang aku perbuat sehingga membuatmu memilih akhir seperti ini untuk kita. Kita? Yaa. Mungkin memang "kita" tak pernah benar-benar ada. Semua yang kita lewati, nyatanya telah kau lupa, atau selama ini hanya aku yang berusaha mengingatnya? Dan kini aku tahu satu hal, kepergianmu berhasil membuatku jera.
Cute Blue Flying Butterfly>