Kenyataan baru apa lagi yang
aku hadapi saat ini? Ketika bahkan teman dekatmu sendiri yang mengatakannya
kepadaku bahwa selama ini bukan hanya aku wanitamu. Ada banyak wanita yang kamu
bawa, entah itu hanya untuk sekedar berjalan-jalan atau makan. Hatiku sudah
sangat berantakan, kini aku berusaha menata hati dengan sangat hati-hati,
kemudian mendengar pernyataan dari teman dekatmu sendiri. Sanggupkah kamu
membayangkan hancurnya perasaanku sekarang? Hatiku kembali berserakan.
Mendengar pernyataan bahwa ucapan yang kamu lontarkan selama ini kepadaku
hanyalah dusta. Entah. Apa aku harus mempercayai pernyataan teman dekatmu
sendiri, atau mempercayai kamu yang sudah terbukti telah mengkhianati hati yang
kau bawa pergi. Tubuhku lemas, jantungku tak bisa berdetak dengan normal,
beribu macam hal berkecamuk dalam fikiran; aku kacau.
Aku fikir air mataku telah habis. Aku fikir air mataku tak lagi bersisa sehingga tidak ada sesuatu apapun lagi darimu yang mampu membuatnya mengalir. Aku fikir hatiku telah mati rasa. Kenyataan yang ada di depan mata adalah, aku kembali menitikan air mata. Air mata yang selama ini aku fikir telah habis terkuras, kini harus berderai kembali dengan begitu deras. Aku hanya mampu duduk di sudut kamar, terisak dalam sesak yang begitu menyakitkan. Lelah tak menyadarkanku bahwa malam tengah menjemput. Aku sibuk berkecimpung dalam kesedihan yang tak mengenakkan. Bagaimana bisa ini kembali terjadi, setelah semua yang aku lalui, aku fikir aku sudah terbebas dari bayangan menyakitkan tentangmu. Aku tak sanggup membayangkan kamu bersama yang lain. Aku tidak mampu membayangkan kamu berlalu lalang dengan wanita yang berbeda-beda.
Aku salah. Aku telah menaruh harapan yang besar selama ini padamu. Dan betapa hancurnya aku setiap kali aku mengingat empat tahun yang ku lalui dengan begitu banyak impian. Aku sanggup berdiri menunggumu, aku sibuk merindukanmu, aku heboh dengan kecintaanku padamu; aku buang-buang waktu. Aku mencintai laki-laki yang tak punya hati. Aku menghabiskan malam dengan menangis sendirian. Aku tak pernah menyangka, kau sanggup memperlakukanku seperti ini. Aku kembali berada pada titik terendahku. Aku berusaha untuk berdiri, tapi kenapa selalu ada darimu yang mampu meruntuhkanku? Cinta yang mana yang selama ini kau tunjukkan padaku, aku tidak tahu. Semua rasa yang kau sebutkan terasa begitu semu. Bukankah kamu yang menawarkan kebahagiaan? Tapi kenapa kau sendiri yang menciptakan neraka dalam dunia yang kau bawakan?
Tiga tahun yang lalu, kamu memintaku untuk berjanji menunggumu selama enam tahun, dan kamu akan datang membawa banyak kebahagiaan yang aku dambakan, kau berjanji akan menikahiku ketika enam tahun yang ku janjikan telah tiba. Kamu berjanji bahwa aku hanyalah satu-satunya wanita yang kau cintai. Kamu berjanji bahwa hatimu takkan pernah berpaling. Kamu berjanji akulah wanita terakhir untukmu. Kamu berjanji akan setia sampai kau kembali. Tahukah kamu betapa aku sangat ingin berteriak di hadapanmu dan juga di hadapan semua orang? "Apanya yang kau sebut bahagia? Apanya yang enam tahun? Apanya yang satu-satunya? Apanya yang terakhir? Apanya yang setia?", semua itu hanya omong kosong. Semua yang kau ucapkan hanya dongeng pengantar tidur yang kau ciptakan untukku.
Aku mencintai orang yang salah, dan aku salah. Aku tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan, karna kenyataan yang ada adalah selama empat tahun ini aku menyayangi orang yang salah, aku mempertahankan orang yang salah, dan semua yang telah aku lakukan hanyalah sia-sia. Aku akui, aku bodoh. Aku menaruh harapan yang begitu besar kepadamu, tapi aku bukan satu-satunya yang kau panggil dengan sebutan "sayang", aku bukan satu-satunya pelukan yang kau punya, tanganku bukan satu-satunya genggamanmu. Aku bukan satu-satunya kesayanganmu. Aku tak pernah menjadi segalamu. Semua itu hanya ada dalam bayanganku. Semua kebahagiaan yang pernah terjadi hanya ada dalam mimpi tidurku. Ya, mana mungkin semua itu ada dalam kenyataan?
Aku tidak cantik, aku tak memiliki tubuh yang bagus, aku tidak pintar, aku tidak memiliki apapun yang bisa kau banggakan. Ada banyak tinta hitam yang mewarnai kisah masa laluku, dan aku tak ingin memunafikkan diri. Aku suka pelangi, aku ingin kisah hidupku dipenuhi dengan warna-warna indah selayaknya pelangi yang ku cintai. Tapi aku tak bisa, tinta hitam masa lalu tak akan pernah bisa aku hapuskan. Dan sekarang, apa lagi yang bisa aku tunjukkan kepadamu? Karna memang tak ada hal indah dalam diriku yang mampu aku jadikan alat untuk menarik hatimu. Luka yang ada pun tak sanggup aku hilangkan. Bagaimana laki-laki sepertimu yang bisa memikat hati banyak wanita bisa menjadikan aku sebagai satu-satunya? Aku hanyalah bata yang berharap kau jadikan permata. Pernikahan dan kebahagiaan yang aku dambakan, takkan pernah mampu kau wujudkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar