/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Minggu, 01 November 2015

Jera

Kita saling diam, kita berbicara, kita bertengkar, kita bercanda, kita tertawa, kita menangis bersama. Sejak saat itu, bahagiamu menjadi bahagiaku, sedihmu menjadi sedihku, dan sakitmu juga menjadi sakitku. Aku melukis banyak mimpi. Aku membangun banyak harapan darimu. Aku menulis banyak kebahagiaan bersamamu. Aku membuat dongengku sendiri dengan adanya kamu di dalamnya. Aku selalu menantikan matahari terbit saat senja mulai masuk. Bertemu denganmu adalah hal yang ingin segera aku lakukan. Aku ingin menjadi rumahmu, satu-satunya tempat yang kau tuju untuk pulang. Aku ingin menjadi satu-satunya pelukan yang kau punya, seperti halnya kamu menjadi satu-satunya pelukan yang ku punya. Aku ingin menjadi satu-satunya genggamanmu untuk mengisi sela-sela jemarimu, seperti halnya tanganmu yang menjadi satu-satunya genggamanku. Aku ingin menjadi satu-satunya sandaranmu, seperti halnya pundakmu yang menjadi satu-satunya sandaranku. Aku ingin berjalan disampingmu, dan aku akan berlari secepat mungkin ke arahmu ketika kamu dalam bahaya. Aku ingin menjadi satu-satunya kesayanganmu. Aku ingin menjadi segalamu dan semua yang kamu butuhkan. Aku ingin menjadi duniamu.

Waktu berlalu, begitu juga kamu, kenangan dan kisah kita. Sikapku menyusahkanmu. Perlahan kamu pergi menjauh. Dan aku.... Aku berjalan di belakangmu. Aku berlari mengejar punggungmu yang semakin menjauhiku. Aku memanggil-manggil namamu. Aku berteriak tapi kamu tetap tidak mendengarkan. Hingga aku jauh dari ketertinggalanku, kamu tetap tak mau tahu. Sedetikpun kamu tak menoleh ke arahku. Aku melihatmu mencari-cari. Aku melihatmu berlari dari satu tempat ke tempat yang lain. Hatiku melihat hatimu singgah dari satu hati ke hati yang lainnya. Kamu meninggalkanku. Cintamu pudar, bayanganku kau hapuskan, namaku kau hilangkan. Aku kau lupakan. Tanpa pernah kamu sadari, perlahan aku berjalan mengikutimu, dalam diam aku mengawasimu, melalui Tuhan aku melindungimu. Tanpa aku sadari, hatiku patah. Aku terluka. Dan kamu.... Kamu tetap tak berhenti berlari kesana-kemari mencari sesuatu yang tak pasti. Tak sadarkah kamu, bahwa ada aku yang menunggu kepulanganmu. Aku menunggu bahagia yang kau janjikan. Aku menunggumu dengan kosongnya pelukan.

Tahun semakin berganti. Kamu datang dan pergi sesuka hati. Kamu berjalan tanpa pernah melihat ke arahku, meskipun aku berjalan disampingmu. Langkahku terhenti ketika aku menyadari, hatimu telah pergi, aku tidak benar-benar berada di sisi. Aku bertanya-tanya, dimana aku? Dan sejak saat itu aku tahu, kamu telah mengusirku dari istana hatimu. Semakin jauh kamu melangkah tanpa menyadari bahwa aku telah berhenti berjalan, semakin aku menyadari, aku tak pernah menjadi rumahmu, ragaku tidak pernah menjadi satu-satunya pelukanmu, tanganku tidak pernah menjadi satu-satunya genggamanmu, pundakku tidak pernah menjadi satu-satunya sandaranmu. Aku tidak pernah berjalan di sampingmu, tapi aku selalu berjalan di belakangmu, mengejarmu. Aku tidak pernah menjadi satu-satunya kesayanganmu. Aku tidak pernah menjadi segalamu. Aku tidak pernah menjadi duniamu. Sekujur tubuhku lemah saat aku menyadari bahwa aku tidak pernah menjadi sesuatu yang penting untukmu. Aku tak berdaya saat aku menyadari kehadiranku tak pernah kau anggap ada. Aku bukan apa-apa.

Kesadaranku tentang arti diriku bagimu semakin sempurna. Mengetahui aku tak pernah benar-benar ada membuatku semakin terluka. Aku bertahan dalam deraan yang semakin menyiksa. Aku melindungi hati agar tidak terlalu patah. Namun kenyataan yang ada kini berbeda. Mimpi yang ku lukis, harapan yang ku bangun, kebahagiaan yang ku tulis, dongeng yang ku buat. Segalanya hancur seketika. Pertahananku roboh tak tersisa. Hatiku berserakan dan aku hanya diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Entah harus aku rapihkan atau aku biarkan. Entah harus aku sapu atau aku tata kembali menjadi satu. Aku tak tahu. Dan tahukah kamu bahwa kini aku sudah jera? Aku tidak tahu kesalahan apa yang aku perbuat sehingga membuatmu memilih akhir seperti ini untuk kita. Kita? Yaa. Mungkin memang "kita" tak pernah benar-benar ada. Semua yang kita lewati, nyatanya telah kau lupa, atau selama ini hanya aku yang berusaha mengingatnya? Dan kini aku tahu satu hal, kepergianmu berhasil membuatku jera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>