/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Sabtu, 29 Juli 2017

It's Over

Air hujan turun satu persatu, membasahi apapun yang berada di bawahnya, perlahan, hingga awan memutuskan menjatuhkan semua airnya. Langit seakan sedang berduka, atau bagi seseorang yang kini pasrah membiarkan tubuhnya diguyur oleh jutaan tetes air hujan yang jatuh ke tanah, langit sedang membantunya menyamarkan air mata yang sudah sedari tadi mengaliri pipinya.

Bagi Nadya, langit selalu merefleksikan perasaannya. Entah bagaimana, yang ia tahu hanya langit biru selalu mampu mendamaikan hatinya yang tenang, dan kini langit mendung yang menumpahkan airnya telah membantunya menutupi kesenduan wajahnya, meski tidak dengan hatinya. Sepertinya langit memang sangat pantas menjadi sahabatnya, begitu selalu pikirnya.

Nadya berdiri di tengah taman yang hanya ada dirinya di sana. Memang siapa yang mau datang ke taman di saat hujan? Orang bodoh mana yang ingin menikmati dinginnya air hujan ketika ada selimut tebal yang lebih menghangatkan? Hanya Nadya, atau mungkin anak-anak kecil yang kemungkinan besar sedang merengek kepada orang tuanya agar diizinkan mandi hujan.

Nadya seakan mati rasa. Ia bahkan tidak merasakan dingin pada tubuhnya meski angin yang tak bersahabat sudah menusuk-nusuk setiap inci tubuhnya. Karena jauh di dalam sana, ada rasa yang lebih menguasai dirinya, seakan mematikan seluruh inderanya. Ia tidak mampu merasakan apa-apa selain sakit di hatinya. Nadya gagal menjaga hatinya. Nadya lupa memperhitungkan kapan hatinya akan dijatuhkan.

Seharusnya Nadya sadar bahwa, ketika ia menerima uluran seseorang, ia harus siap dilepaskan kapan saja.

Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ketika hari pernikahannya hanya tinggal menunggu waktu empat minggu, dan naasnya ia harus mendapati prianya sedang melepas rindu dengan masa lalu. Apa masa lalu memang harus selalu menjadi belenggu? Sialnya memang selalu seperti itu. 

Nadya berjalan dengan langkah perlahan, ia memutuskan untuk pulang setelah puas mengeluarkan seluruh tangisannya bersama hujan. Hujan pun telah mereda, meski masih menyisakan rintik-rintiknya. Mengiringi Nadya menuju rumahnya yang tak jauh dari sana. 

Yang dibutuhkan Nadya saat ini hanyalah istirahat, tak hanya raganya, tapi juga hatinya. Entah bagaimana ia harus mengatakan kepada seluruh keluarganya, atau meminta kepada pihak prianya untuk membatalkan segala rencana yang telah tersusun hampir sempurna. Itu akan ia pikirkan nanti, setelah lelah yang dirasa setidaknya berkurang meski sedikit saja. 

Setelah sampai di rumah yang ia tinggali, Nadya langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menanggapi panggilan dari kakaknya, Rega, yang menatapnya khawatir melihat adiknya seperti anak kucing yang tersesat di tengah hujan. Tidak ada orang tuanya di rumah ini, karena mereka tinggal di Bandung. Ah, Bandung. Sepertinya bukan ide buruk kalau ia meninggalkan kota ini dan kembali tinggal bersama orang tuanya setelah kekacauan ini berakhir.

Bagaimana cara mengakhirinya?

Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Nadya meringkuk di atas kasurnya, kembali menangis. Memikirkan bagaimana caranya ia bertahan, atau bagaimana caranya ia bisa melewati fase dimana ia akan semakin terluka ketika harus kembali melihat calon mantan calon suaminya. 

Ingatannya kembali, saat di mana ia memasuki rumah kekasihnya dan mendapati prianya sedang memeluk wanita lain yang merupakan masa lalu yang tak seharusnya kembali. Pintarnya, Nadya langsung memilih pergi, merasa tidak membutuhkan konfirmasi. Memang apa yang perlu dijelaskan kalau pengkhianatan sudah jelas di depan mata. Tapi hati tetaplah hati, ia tidak bisa memungkiri kalau sepenuh hatinya telah dicuri.

Sekarang Nadya mengerti, kenapa pria itu menghilang seakan ditelan bumi. Kenapa pria itu tidak lagi menghubunginya, mengirimkan pesan singkat padanya, mendatanginya pun tidak, mengabaikan setiap panggilan darinya, mengabaikan keberadaannya.

***

Sekarang, di sinilah Nadya berada, berhadapan dengan si pemberi luka yang menatapnya dengan sorot meminta penjelasan.

Dia baru datang setelah Nadya membatalkan rencana mereka? Nadya bahkan berani bertaruh kalau pria itu tidak akan datang jika ia tidak mendapatkan kabar batalnya hari penting yang seharusnya akan segera datang. Seharusnya.

Nadya memang sudah menyiapkan diri untuk menghadapi pria yang saat ini berada di urutan terakhir dari daftar orang yang ingin Nadya temui. Sayangnya, ia belum menyiapkan hati untuk menahan luka yang bahkan belum sembuh dari sebuah perih. Bukankah cepat atau lambat Nadya memang harus menghadapinya?

"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Nadya pada akhirnya setelah dirasanya kalau pria tersebut tidak mau terlebih dahulu membuka suara.

"Kamu benar-benar membatalkan pernikahan kita yang hanya tinggal satu bulan lagi, Na?" tanyanya dengan tatapan yang tidak bisa Nadya artikan. Bahkan Nadya tidak berniat untuk membaca maksud dari setiap tatapan yang akan pria itu berikan.

"Aku anggap itu sebagai pertanyaan retorik"

"Kenapa?"

"Kenapa aku anggap sebagai pertanyaan retorik?"

"Kenapa kamu membatalkannya?" tanya pria berkaca mata tersebut.

"Kenapa kamu baru datang?" bukan jawaban yang diberikan, Nadya justru balik bertanya.

"Na, aku tanya kamu dan kamu balik nanya? Cuma karena aku gak pernah dateng dan kamu batalin pernikahan kita?" 

Dengan menahan luka yang ingin kembali menganga, Nadya memandang pria yang telah mampu memporak-porandakan hatinya dengan sempurna.

Nadya menggeleng sebelum membalas pertanyaan dari mantan kekasihnya. "Kamu bukan cuma nggak datang, tapi juga nggak memberikan aku kabar. Kamu kemana aja selama dua minggu ini?"

"Dan aku pikir kamu akan senang dengan aku yang membatalkan acara pernikahan kita!" lanjut Nadya sambil menatap serius pria bermata coklat dihadapannya.

"Senang? Apa kamu gila? Pernikahan kita cuma tinggal sebulan, persiapan udah hampir sempurna, dan kamu dengan seenaknya membatalkannya? Seharusnya kamu paham kalau aku sibuk! Seharusnya kamu ngerti kalau aku benar-benar sibuk sebelum-"

"Sibuk dengan masa lalu kamu yang kembali?" potong Nadya dengan seringai yang terbit di bibirnya saat melihat reaksi dari pria yang sebelumnya sibuk melontarkan kalimat-kalimat dusta.

"Ma-maksud kamu apa?" tanya pria itu dengan terbata. 

"Aku anggap aku sudah memberikan kamu jawaban atas pertanyaan kenapa aku membatalkan acara kita" ucap Nadya yang sudah bangun dari posisi duduknya, dan siap untuk meninggalkan pria yang masih berusaha mencerna ucapan yang Nadya lontarkan.

"Aku tidak pernah mentolerir sebuah pengkhianatan, Ta! Kita sudah berakhir, dan bukan aku yang mengakhirinya, tapi kamu! Bukan sejak aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita-" 

Ada jeda yang Nadya berikan, namun ketika pria bernama Tirta yang tak lain adalah mantan kekasihnya itu masih terpaku di tempatnya, Nadya memilih untuk melanjutkan kalimatnya, "tapi sejak kamu memutuskan untuk kembali menemuinya. Kamu sudah lebih dulu mengakhiri kita sejak hari dimana kamu mengizinkan dia kembali ke hidup kamu".

Merasa sudah cukup dengan apa yang harusnya Nadya katakan, Nadya memilih pergi, tidak hanya meninggalkan tempat pertemuan mereka, tapi juga meninggalkan sang pria dan kehidupannya.

Di tempat itu mereka bertemu, dan di tempat itu juga mereka berakhir. Nadya pergi, bukan membawa pulang kembali hati yang telah dicuri, ia justru membawa bongkahan luka yang diberi. Tanpa hati, ia melangkahkan kaki, membawa jutaan kenangan yang berlomba-lomba memasuki ingatannya. Karena seharusnya, ia tidak pernah memberikan seluruh hatinya kepada pria yang bahkan tidak mengejarnya di saat seharusnya ia mengatakan kalimat penuh permohonan maaf. Seharusnya.

Selasa, 03 Januari 2017

Act Like You Love Me

Aku diam memandang sosok gadis yang terduduk di sisi ranjang, bertahan dalam kebisuan yang sesungguhnya begitu mampu menusuk tepat di jantungku, hingga aku jengah dengan sunyi yang mengepung kami. Aku merubah posisi tidurku menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang tanpa mengalihkan pandanganku pada gadis yang menatap kosong udara di depannya. Yang aku tahu saat ini adalah, meski saat ini bibir kami diam, membiarkan suara detik jarum jam mengisi kosongnya ruang, namun kami sibuk bertengkar dengan pemikiran yang entah bagaimana begitu setia bertanggar.

Aku menghela nafas berat, menahan setiap sesak yang mampu membunuhku kapan saja. Aku tak ingin malam ini berakhir, karena aku tahu tak akan ada hari esok untuk kami. Aku ingin bicara, tapi terlalu banyak hal yang terlintas dalam otak yang tak mau saling mengalah untuk berdiam di tempat hingga aku bisa memilah mana yang terlebih dahulu harus aku bicarakan dan persoalkan. Tidak, kenyataannya memang tidak semudah itu. Kenyataannya semua hal memang berebut untuk menjadi yang terlebih dahulu aku pertanyakan.

“Apakah pemandangan langit malam memang lebih menarik sehingga kamu mengabaikanku?” pada akhirnya hanya kalimat tanya itu yang mampu ku keluarkan.

Hening. Ia tidak menjawab dan tidak juga mengalihkan pandangannya dari langit malam yang terlihat jelas dari jendela ruangan ini. Ia sibuk dengan pemikirannya yang tak pernah aku tahu apakah itu tentangku, ataukah tentang yang lainnya.

“Apa kamu datang hanya untuk menatap kosong udara malam?” lirihku yang tak lagi mampu menahan sesak di dadaku.

Dia tetap diam hingga beberapa saat sebelum aku mendengar helaan nafas kasarnya, punggungnya yang sedikit bergetar membuatku tahu kalau ia menahan air matanya agar tidak meluncur begitu saja.

“Maaf, aku harus pergi sekarang” ucapnya tiba-tiba, berdiri dari posisi duduknya dan hendak bergegas pergi hingga mampu membuatku bergerak refleks menahannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya hingga kini posisi kami berdiri tepat di belakang pintu dengan aku yang memeluknya dari belakang, menahannya yang sudah siap melangkah pergi tidak hanya dari ruangan ini, tapi juga dari ruang hidupku.

“Malam ini saja, tidak bisakah?” tubuhku bergetar, sekali lagi untuk tetap menahan agar cairan bening yang sudah berkumpul di pelupuk mata ini tidak meluncur.

“Maaf” lirihnya.

“Aku mohon” parau, hanya nada inilah yang tersisa dari suaraku.

Hening

“Sebelum kamu pergi besok, hanya malam ini, tetaplah di sini! Aku janji akan melakukan semuanya dengan benar, biarkan aku mencoba! Jangan pergi, aku mohon!” untuk kali ini, aku membiarkan air mata ini mengalir dengan bebas. Aku tak ingin lagi perduli pada statusku sebagai pria dewasa. Karena pada kenyataannya, pria dewasa pun memiliki saat dimana ia berada di titik terendahnya, dan di sinilah titik terendahku, tepat di depanku; gadisku.

Ia diam. Mencoba mengendalikan emosi dan perasaan lainnya yang mengepung jiwanya saat ini. Aku tahu dari caranya bernafas, ia berusaha mengendalikan perasaannya dengan mengatur nafasnya. Yang biasa aku lakukan, dan kini ia lakukan.

“Tak bisakah kamu mencintaiku hanya untuk malam ini?”

“Bersikaplah seakan kamu mencintaiku, hanya untuk saat ini, tak bisakah?” hanya ini, hanya untuk saat ini, hanya untuk terakhir kalinya aku memohon padanya sebelum ia pergi.

Aku merasakan tubuhnya yang bergetar mulai kembali tenang, genggamannya pada gagang pintu itu ia lepaskan, dan “baiklah” adalah kata yang ia ucapkan setelahnya. Seakan kembali mendapatkan udara, aku bisa bernafas lega. Setidaknya untuk malam ini, meski aku tahu esok aku akan kembali sulit bernafas.

Hanya sesederhana ini yang aku pinta, ia berada di hadapanku, dalam dekapanku. Hanya sesederhana ini yang aku inginkan, ia tetap berada di sini, di dekatku. Sebelum ia pergi esok, aku hanya ingin memandang wajah damainya yang tertidur dalam pelukanku. Rambut hitam legamnya yang selalu ia biarkan terurai menutupi punggungnya, matanya yang selalu menyiratkan perasaannya, hidung mungilnya yang selalu ku tempelkan dengan hidungku, bibirnya yang selalu melukis senyum indah. Hanya semalam, tubuh mungil ini berada dalam rengkuhanku. Ini hanya sesaat sebelum ia pergi, dan aku akan terus menghangatkannya hingga pagi datang dan perpisahan menjemput.

Saat ia pergi esok, aku tak akan bisa melihatnya pergi. Maka, gadisku, berjanjilah kamu akan pergi saat aku masih tertidur, dan ketika aku terbangun saat kamu sudah berada jauh dari tempat ini, aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Karena aku tahu, tak akan ada hari esok untuk kita.

Sebelum ia pergi esok dan ucapkan selamat tinggal. Sebelum ia pergi esok pagi dan ia akan mengakhiri segalanya. Hanya malam ini, aku ingin ia memelukku seakan ia mencintaiku, seakan ia tidak ingin kehilanganku, seakan ia memiliki rasa yang sama denganku. Setidaknya hanya untuk malam ini saja, aku ingin memilikinya sekali lagi. Berbaring dan memeluknya hanya untuk saat ini, hanya ini dan sesederhana ini sebelum ia pergi dan aku kembali kehilangan oksigenku. Malam ini, sebelum ia kembali pada pria yang akan mengikatnya pada tali pertunangan esok malam.




*****************************************************************************

Inspired by Shawn Mendes's song 💖



Cute Blue Flying Butterfly>