/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Kamis, 29 Januari 2015

Cinta yang Salah

Sudah hampir malam, tapi aku masih sibuk membalas pesan singkat dari teman-temanku. Ada salah satu pesan dari orang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, dia mendapatkan nomor handphone-ku dari salah satu temanku, dengan motif ingin berteman denganku, aku mengizinkannya memasuki kehidupanku. Laki-laki yang merupakan adik dari kekasih temanku, dan telah aku ketahui dia pun telah memiliki kekasih.


Hari demi hari aku lewati dengan pesan singkat darimu yang selalu mampir di inbox handphone-ku, dan bisik suaramu di ujung telpon yang membuatku mulai terbiasa berbicara dengan suara pelan untuk menyeimbangkan dengan volume suaramu. Dalam waktu yang sangat singkat, segalanya berubah hanya dalam hitungan hari, dimana aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu mengisi kekosongan hariku. Aku yang selalu menunggu kabar darimu setiap harinya, dan kamu yang selalu mencariku setiap menitnya. Hingga ku simpulkan bahwa aku mulai mencintaimu, mungkin.


Aku harus selalu memahamimu yang tidak bisa selalu mengabariku karena kamu berada di pondok pesantren, dan tentunya kamu harus bersembunyi ketika ingin menghubungiku. Tapi entah mengapa, menunggumu menjadi hobbiku saat ini. Kamu adalah laki-laki yang rapuh karena penyakit yang mendiami tubuhmu, dan mengharuskanmu untuk berhati-hati dalam segala sesuatu dan juga rutin mengkonsumsi obat-obatan yang di berikan dokter. Tapi penyakitmu tak pernah menjadi sesuatu yang harus aku khawatirkan ketika aku bisa mendengar suaramu di telpon setiap harinya.


Kamu sangat manis dalam beberapa peristiwa, ketika mengingatkanku agar tidak telat makan dan makan yang banyak agar aku gemuk misalnya. Ternyata kamu lebih bawel dari yang ku duga. Kamu bilang aku wanita yang baik. Itu membuatku tersanjung. Kedekatan kita terbilang istimewa meskipun hanya dalam hitungan hari kita berkenalan, dan kita mulai menggunakan sebutan “jelek”. Apakah sebutan itu merupakan wujud dari keistimewaanku untukmu, sayang?


          “jelek, kok belum tidur?” bisik suaranya dari ujung telpon.

          “gw belum ngantuk leek, lo sendiri kok belum tidur?”

          “belum, maaf yaa baru sempet nelpon, tadi cewe gw bawel banget.”

          “iyaa gapapa koo. Perasaan lo aja kali.”

          “tapi dia marah-marah mulu, nggak kaya lo.”

“yaa wajar dia marah-marah terus, lo kan jarang ketemu sama dia. Kalo gw kan      baru lo kenal beberapa hari aja.”

“iyaa leek. Yaudah lo tidur giih, jangan begadang terus nanti tambah kecil lho.”

“emank udah kecil.”

“hahaha. Yaudah yaa udah dulu. Malem jelek.”

“malem juga leek.”

Perbincangan yang singkat namun berkesan. Andai aku bisa menggantikan dia di hatimu, adalah harapanku yang mustahil tercapai. Sudah terhitung berapa minggu sejak kita berkenalan, dan kita selalu bertegur sapa lewat ujung telpon.

          “jelek, lagi apa?” tanyamu ketika aku mengangkat telpon darimu.

          “lagi di jalan, mau pergi.”

          “leek, gw mau ngomong sama lo.”

          “ngomong apa?”

          “lo mau gaak jadi pacar gw?”

          “lo kan punya pacar leek, gimana sama dia nanti?”

          “gw bakal mutusin cewe gw buat lo, gw sayang sama lo.”

          “gw gak bisa jawab leek, gw gak mau nyakitin perasaan cewe lo.”

          “tapii gw sayang sama lo, jelek.”

“yaudah nanti lagi yaa leek nelponnya, gw lagi di jalan, suara lo gak begitu jelas.”


Aku berharap aku bisa menjawab pertanyaanmu dengan kata “iya”, tapi aku tidak mungkin menyakiti dia yang jauh lebih dulu mengenalmu dan menjalani hubungan denganmu. Andai kamu tahu, aku juga menyayangimu, tapi aku lebih memilih memendamnya karena aku tahu dia pasti memiliki cinta yang lebih besar dariku untukmu.
Pukul 2:00 dini pagi, kamu menghubungiku.


          “jelek, lagi tidur yaa?”

          “iyaa, kok lo belum tidur udah jam segini?”

          “gw abis sahur, lo gak sahur?”

          “nggak leek, gw nggak puasa dulu.”

         “ooohh, yaudah lo tidur lagi giih, maaf yaa leek gw ganggu malem-malem”

          “iyaa leek, gapapa kook”

“yaudah lo tidur, tapi jangan di matiin telponnya, biar gw temenin lo sampe lo pules”

“yaudah iyaa.”


Aku menuruti pintamu, aku membiarkan telpon tetap menyala dan meletakkannya di telinga, aku tidur dengan posisi miring agar handphone tidak jatuh. Aku memejamkan mata, tapi aku belum tertidur, dan aku mendengar semua ucapanmu di ujung telpon.

          “jeleek, lo udah pules yaa?”

Aku tak menjawabnya agar kamu segera mematikan telponnya. Tapi kamu justru meneruskan ucapanmu.

“jelek, gw sayang banget sama lo. gw gak mau kehilangan lo, leek. Kalo aja lo mau jadi pacar gw, gw bakal mutusin cewe gw buat lo. gw sayang banget sama lo, jeleek. mimpi indah yaa jeleek.”

Aku masih mendengarkan semua ungkapan perasaanmu. Tahukah kamu, air mataku menetes saat mendengar semua kata-katamu.

Mungkin takdir tidak pernah merestui kita, sehingga takdir memutuskan untuk memberi tahu kepada kekasihmu mengenai kedekatan aku dan kamu. Dia memarahiku dan mempertanyakan kedekatanku denganmu, apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Aku berusaha menjelaskan kepadanya bahwa kita tak ada hubungan apa pun, tapi pesan yang kekasihmu kirim ke jejaring sosial milikku membuatku muak, meskipun kamu terus-menerus meminta maaf kepadaku. Dan aku memakimu lewan pesan singkat.

“mending lo lupain gw. Lupain kalo kita pernah kenal. Dan lebih baik lo balik ke cewe lo dan bilang kalo kita gak pernah ada hubungan apapun..!!”

          “tapi leek, gw gak mau lupain lo, gw gak mau lupain orang yang gw sayang.”

“tapi dia cewe lo, dan gw gak mau punya masalah sama siapapun, jadi tolong lo pergi dari hidup gw, dan lupain kalo gw pernah ada di hidup lo.”


Tak ada balasan darimu, dan tangisku mulai memecah kesunyian ruangan kamarku. Sejak saat itu, kita tak pernah (lagi) bertukar sapa. Sejak saat itu, kamu tetap berada di pikiranku. Sejak saat itu aku menyadari arti kehilangan dan perpisahan.
Andai kamu tahu, aku selalu ingin menjadi sesuatu yang istimewa untukmu. Tapi aku sadar, kamu bukan untukku meskipun kita memiliki rasa yang sama. Karena aku pikir, dia yang bisa membahagiakanmu, dia yang kamu cintai, dan aku hanya persinggahan ketika kamu bosan dengan dirinya. Cinta ini hanyalah cinta yang salah, sayang. Relakanlah.



Aku adalah masa lalumu yang mudah

di lenyapkan sang waktu.

Orang Ketiga

Sudah terhitung olehku berapa bulan kamu telah menjalin hubungan dengannya, tapi kemudian diam-diam menemuiku. Kamu pikir, mendekatiku dan berbicara denganku di kelas tidak akan pernah dia ketahui? Tapi kenyataannya banyak teman-teman yang melihat kedekatanku denganmu di kelas. Tidak sadarkah kamu dengan bumerang yang akan terjadi karena kecerobohanmu mendekatiku lagi setelah kamu menjadikan dia sebagai kekasih barumu? Iya sayang, jelas aku tak menyalahkanmu karena itu, aku pun salah karena tetap mengulurkan tangan untuk meraih tanganmu lagi meskipun kamu telah bersamanya.


Aku terkejut ketika aku membuka salah satu akun jejaring sosial facebook milikku, ada banyak status dari teman-teman kekasihmu yang membicarakan tentang orang ketiga yang telah berada diantara kalian. Jelas saja aku merasa bahwa yang mereka perbincangkan adalah diriku sendiri, orang yang selalu kamu dekati saat berada di kelas, dan kamu berusaha menjelaskan kepadaku tentang semua itu.


          “aku udah ngomong sama dia tadi tentang status-status di facebook itu.”

          “terus?”

          “iya, aku bilang sama dia kalo kita cuma temen.”


Yaa, jika kekasihmu dengan mudahnya percaya perkataanmu, lalu bagaimana dengan teman-teman yang terlanjur memandangku sebagai wanita rendahan? Yang kemudian melempariku dengan banyak pertanyaan, dan kamu hanya duduk diam di belakang tanpa ada kata yang bisa membantuku menjelaskan, sedangkan air mata terlanjur mengalir karena tidak adanya pengakuan yang bisa membelaku.


“menurut gw siih yaa itu urusan mereka berdua, namanya juga sama-sama sayang.”
kalimat pembelaan yang tiba-tiba keluar dari bibir teman laki-lakiku yang berusaha menghentikan cercaan dari teman-teman yang terus-menerus menghujamku.
Sindiran demi sindiran tentang orang ketiga itu terus menghujaniku, di pandang sebagai wanita rendahan, wanita busuk, hingga perusak hubungan orang.


 “Mengapa kamu hanya diam, sayang? Mengapa tidak kamu jelaskan yang sebenarnya kepada semua orang. Mengapa harus aku sendiri yang menanggung masalah yang telah kamu sebabkan? Mengapa kamu hanya bisa membela dirimu sendiri di hadapan kekasihmu? Mengapa kamu harus menjadi seorang laki-laki pengecut yang takut mengakui kebenaran?”


Teriakku dalam hati memakimu, tak tersampaikan karena bibirku tertahan oleh isakan tangis yang memecah ruangan, aku tersulut amarah, sedangkan kamu hanya berusaha menenangkanku dengan memelukku tanpa ada kata penjelasan yang keluar dari bibirmu.

Bukankah seharusnya kamu membelaku? Aku yang katamu begitu kamu cintai dan kamu sayangi. Lalu mengapa harus kamu yang justru bersembunyi dalam kebingungan atas masalah yang kamu ciptakan? Kenapa harus kamu, laki-laki pengecut yang berhasil memporak-porandakan hatiku dan menghancurkan kehidupanku. Mungkin kamu dan dia adalah kisah yang tak terlupakan. Yaa, jika dalam kisah ini hanya ada kamu dan dirinya, lalu aku berada dalam kisah yang mana?

Dia yang Kamu Pilih Untuk Menggantikanku

Tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, tentang kedatangannya yang membuatku hampir gila. Bagaimana tidak, jika kesempurnaannya ternyata bisa menarikmu begitu cepat dariku. Kecantikannya yang selalu kau puji, kepolosannya yang membuat pikiranmu berpaling dariku, hatinya yang tak pernah ingin kau lukai tanpa kau tahu bahwa ada hati yang jauh telah terluka karna pengakuanmu bahwa tak hanya aku yang kini menempati singgasana cintamu, tapi juga dirinya.


Kau memintaku mengalah, bersabar dan menunggumu hingga kau selesaikan permasalahan hatinya hingga selesai. Tapi itu pikirmu, tanpa kau sadari bahwa permasalahan hatinya denganmu takkan pernah selesai, dan aku harus terus terluka melihat orang yang ku cintai, mencintai wanita lain setiap harinya. Aku mengalah, aku bisa membaca perasaanmu dan perasaannya dari caramu menatapnya, dan caranya menatapmu. Jelas kau pasti tidak tahu bahwa selama ini aku selalu mencuri kesempatan untuk bisa membaca isyarat tubuh yang kamu dan dia tunjukkan ketika kalian bertemu.

Dia selalu ada di hati dan pikiranmu, lalu dimana aku? Ketika dia hanya menganggapmu sebagai seorang kakak, tapi mata dan hatinya menganggapmu lebih dari itu. Ketika kamu hanya menganggap dia sebagai adikmu, tapi mata dan hatimu menganggapnya lebih dari itu. Aku terluka, sayang. Hingga akhirnya takdir berkata lain. Sepertinya takdir memang menginginkan kalian berdua untuk bersama, dan aku semakin terluka.


Untuk pertama kalinya aku membuka akun facebook milikku setelah sekian lama aku nonaktifkan, jelas saja aku terkejut ketika status pertama yang aku baca adalah wall yang kamu kirimkan kepadanya, yang memberitahunya bahwa kau sangat bahagia dengan keputusannya yang menerimamu sebagai kekasihnya, dan aku dengan mudah terlupakan olehmu. Setiap saat kamu menuliskan status untuknya, mengungkapkan bahwa kamu tidak pernah ingin kehilangannya, mengungkapkan bahwa dia adalah peri kecilmu yang kau cinta dan kau banggakan.


“seistimewa itukah dia untukmu, sedangkan aku yang selama satu tahun menjalani hubungan denganmu, tak pernah ku rasakan kebahagiaanmu yang begitu mendalam seperti saat ini” terang saja aku hanya mengucapkannya dalam hati. Aku bisa apa, sayang? Ketika aku melihatmu setiap hari dengannya di sekolah, dan aku sibuk menata hati agar tidak terlalu patah, kemudian berlindung di balik punggung teman laki-lakiku yang selalu setia berada di sampingku setiap kali aku kau buat rapuh. Tapi kemudian kau justru datang kembali kepadaku, “aku sayang kamu” lirihmu setelah kau buat aku tak berdaya karena kehadirannya. “aku lagi cari cara buat mutusin dia”, semudah itu kau berkata, sedangkan hatiku sudah berhasil kau buat porak-poranda. Mengapa tidak kamu sadari, sayang, bahwa aku terlanjur hancur ketika kamu memilihnya untuk menggantikan posisiku di hati dan hidupmu.

Cute Blue Flying Butterfly>