/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Kamis, 29 Januari 2015

Orang Ketiga

Sudah terhitung olehku berapa bulan kamu telah menjalin hubungan dengannya, tapi kemudian diam-diam menemuiku. Kamu pikir, mendekatiku dan berbicara denganku di kelas tidak akan pernah dia ketahui? Tapi kenyataannya banyak teman-teman yang melihat kedekatanku denganmu di kelas. Tidak sadarkah kamu dengan bumerang yang akan terjadi karena kecerobohanmu mendekatiku lagi setelah kamu menjadikan dia sebagai kekasih barumu? Iya sayang, jelas aku tak menyalahkanmu karena itu, aku pun salah karena tetap mengulurkan tangan untuk meraih tanganmu lagi meskipun kamu telah bersamanya.


Aku terkejut ketika aku membuka salah satu akun jejaring sosial facebook milikku, ada banyak status dari teman-teman kekasihmu yang membicarakan tentang orang ketiga yang telah berada diantara kalian. Jelas saja aku merasa bahwa yang mereka perbincangkan adalah diriku sendiri, orang yang selalu kamu dekati saat berada di kelas, dan kamu berusaha menjelaskan kepadaku tentang semua itu.


          “aku udah ngomong sama dia tadi tentang status-status di facebook itu.”

          “terus?”

          “iya, aku bilang sama dia kalo kita cuma temen.”


Yaa, jika kekasihmu dengan mudahnya percaya perkataanmu, lalu bagaimana dengan teman-teman yang terlanjur memandangku sebagai wanita rendahan? Yang kemudian melempariku dengan banyak pertanyaan, dan kamu hanya duduk diam di belakang tanpa ada kata yang bisa membantuku menjelaskan, sedangkan air mata terlanjur mengalir karena tidak adanya pengakuan yang bisa membelaku.


“menurut gw siih yaa itu urusan mereka berdua, namanya juga sama-sama sayang.”
kalimat pembelaan yang tiba-tiba keluar dari bibir teman laki-lakiku yang berusaha menghentikan cercaan dari teman-teman yang terus-menerus menghujamku.
Sindiran demi sindiran tentang orang ketiga itu terus menghujaniku, di pandang sebagai wanita rendahan, wanita busuk, hingga perusak hubungan orang.


 “Mengapa kamu hanya diam, sayang? Mengapa tidak kamu jelaskan yang sebenarnya kepada semua orang. Mengapa harus aku sendiri yang menanggung masalah yang telah kamu sebabkan? Mengapa kamu hanya bisa membela dirimu sendiri di hadapan kekasihmu? Mengapa kamu harus menjadi seorang laki-laki pengecut yang takut mengakui kebenaran?”


Teriakku dalam hati memakimu, tak tersampaikan karena bibirku tertahan oleh isakan tangis yang memecah ruangan, aku tersulut amarah, sedangkan kamu hanya berusaha menenangkanku dengan memelukku tanpa ada kata penjelasan yang keluar dari bibirmu.

Bukankah seharusnya kamu membelaku? Aku yang katamu begitu kamu cintai dan kamu sayangi. Lalu mengapa harus kamu yang justru bersembunyi dalam kebingungan atas masalah yang kamu ciptakan? Kenapa harus kamu, laki-laki pengecut yang berhasil memporak-porandakan hatiku dan menghancurkan kehidupanku. Mungkin kamu dan dia adalah kisah yang tak terlupakan. Yaa, jika dalam kisah ini hanya ada kamu dan dirinya, lalu aku berada dalam kisah yang mana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>