Sudah terhitung olehku berapa
bulan kamu telah menjalin hubungan dengannya, tapi kemudian diam-diam
menemuiku. Kamu pikir, mendekatiku dan berbicara denganku di kelas tidak akan
pernah dia ketahui? Tapi kenyataannya banyak teman-teman yang melihat
kedekatanku denganmu di kelas. Tidak sadarkah kamu dengan bumerang yang akan
terjadi karena kecerobohanmu mendekatiku lagi setelah kamu menjadikan dia
sebagai kekasih barumu? Iya sayang, jelas aku tak menyalahkanmu karena itu, aku
pun salah karena tetap mengulurkan tangan untuk meraih tanganmu lagi meskipun
kamu telah bersamanya.
Aku terkejut ketika aku membuka
salah satu akun jejaring sosial facebook milikku, ada banyak status dari
teman-teman kekasihmu yang membicarakan tentang orang ketiga yang telah berada
diantara kalian. Jelas saja aku merasa bahwa yang mereka perbincangkan adalah
diriku sendiri, orang yang selalu kamu dekati saat berada di kelas, dan kamu
berusaha menjelaskan kepadaku tentang semua itu.
“aku
udah ngomong sama dia tadi tentang status-status di facebook itu.”
“terus?”
“iya,
aku bilang sama dia kalo kita cuma temen.”
Yaa, jika kekasihmu dengan
mudahnya percaya perkataanmu, lalu bagaimana dengan teman-teman yang terlanjur
memandangku sebagai wanita rendahan? Yang kemudian melempariku dengan banyak
pertanyaan, dan kamu hanya duduk diam di belakang tanpa ada kata yang bisa
membantuku menjelaskan, sedangkan air mata terlanjur mengalir karena tidak
adanya pengakuan yang bisa membelaku.
“menurut
gw siih yaa itu urusan mereka berdua, namanya juga sama-sama sayang.”
kalimat pembelaan yang tiba-tiba
keluar dari bibir teman laki-lakiku yang berusaha menghentikan cercaan dari
teman-teman yang terus-menerus menghujamku.
Sindiran demi sindiran tentang
orang ketiga itu terus menghujaniku, di pandang sebagai wanita rendahan, wanita
busuk, hingga perusak hubungan orang.
“Mengapa kamu hanya diam, sayang? Mengapa
tidak kamu jelaskan yang sebenarnya kepada semua orang. Mengapa harus aku
sendiri yang menanggung masalah yang telah kamu sebabkan? Mengapa kamu hanya
bisa membela dirimu sendiri di hadapan kekasihmu? Mengapa kamu harus menjadi
seorang laki-laki pengecut yang takut mengakui kebenaran?”
Teriakku dalam hati memakimu, tak
tersampaikan karena bibirku tertahan oleh isakan tangis yang memecah ruangan,
aku tersulut amarah, sedangkan kamu hanya berusaha menenangkanku dengan
memelukku tanpa ada kata penjelasan yang keluar dari bibirmu.
Bukankah seharusnya kamu
membelaku? Aku yang katamu begitu kamu cintai dan kamu sayangi. Lalu mengapa
harus kamu yang justru bersembunyi dalam kebingungan atas masalah yang kamu
ciptakan? Kenapa harus kamu, laki-laki pengecut yang berhasil
memporak-porandakan hatiku dan menghancurkan kehidupanku. Mungkin kamu dan dia
adalah kisah yang tak terlupakan. Yaa, jika dalam kisah ini hanya ada kamu dan
dirinya, lalu aku berada dalam kisah yang mana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar