Sudah hampir malam, tapi aku
masih sibuk membalas pesan singkat dari teman-temanku. Ada salah satu pesan
dari orang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, dia mendapatkan nomor
handphone-ku dari salah satu temanku, dengan motif ingin berteman denganku, aku
mengizinkannya memasuki kehidupanku. Laki-laki yang merupakan adik dari kekasih
temanku, dan telah aku ketahui dia pun telah memiliki kekasih.
Hari demi hari aku lewati dengan
pesan singkat darimu yang selalu mampir di inbox handphone-ku, dan bisik
suaramu di ujung telpon yang membuatku mulai terbiasa berbicara dengan suara
pelan untuk menyeimbangkan dengan volume suaramu. Dalam waktu yang sangat
singkat, segalanya berubah hanya dalam hitungan hari, dimana aku mulai terbiasa
dengan kehadiranmu mengisi kekosongan hariku. Aku yang selalu menunggu kabar
darimu setiap harinya, dan kamu yang selalu mencariku setiap menitnya. Hingga
ku simpulkan bahwa aku mulai mencintaimu, mungkin.
Aku harus selalu memahamimu yang
tidak bisa selalu mengabariku karena kamu berada di pondok pesantren, dan
tentunya kamu harus bersembunyi ketika ingin menghubungiku. Tapi entah mengapa,
menunggumu menjadi hobbiku saat ini. Kamu adalah laki-laki yang rapuh karena
penyakit yang mendiami tubuhmu, dan mengharuskanmu untuk berhati-hati dalam
segala sesuatu dan juga rutin mengkonsumsi obat-obatan yang di berikan dokter.
Tapi penyakitmu tak pernah menjadi sesuatu yang harus aku khawatirkan ketika
aku bisa mendengar suaramu di telpon setiap harinya.
Kamu sangat manis dalam beberapa
peristiwa, ketika mengingatkanku agar tidak telat makan dan makan yang banyak
agar aku gemuk misalnya. Ternyata kamu lebih bawel dari yang ku duga. Kamu
bilang aku wanita yang baik. Itu membuatku tersanjung. Kedekatan kita terbilang
istimewa meskipun hanya dalam hitungan hari kita berkenalan, dan kita mulai
menggunakan sebutan “jelek”. Apakah sebutan itu merupakan wujud dari keistimewaanku untukmu, sayang?
“jelek,
kok belum tidur?” bisik suaranya dari ujung telpon.
“gw
belum ngantuk leek, lo sendiri kok belum tidur?”
“belum,
maaf yaa baru sempet nelpon, tadi cewe gw bawel banget.”
“iyaa
gapapa koo. Perasaan lo aja kali.”
“tapi
dia marah-marah mulu, nggak kaya lo.”
“yaa
wajar dia marah-marah terus, lo kan jarang ketemu sama dia. Kalo gw kan baru lo
kenal beberapa hari aja.”
“iyaa
leek. Yaudah lo tidur giih, jangan begadang terus nanti tambah kecil lho.”
“emank
udah kecil.”
“hahaha.
Yaudah yaa udah dulu. Malem jelek.”
“malem
juga leek.”
Perbincangan yang singkat namun
berkesan. Andai aku bisa menggantikan dia di hatimu, adalah harapanku yang
mustahil tercapai. Sudah terhitung berapa minggu sejak kita berkenalan, dan
kita selalu bertegur sapa lewat ujung telpon.
“jelek,
lagi apa?” tanyamu ketika aku mengangkat telpon darimu.
“lagi
di jalan, mau pergi.”
“leek,
gw mau ngomong sama lo.”
“ngomong
apa?”
“lo
mau gaak jadi pacar gw?”
“lo
kan punya pacar leek, gimana sama dia nanti?”
“gw
bakal mutusin cewe gw buat lo, gw sayang sama lo.”
“gw
gak bisa jawab leek, gw gak mau nyakitin perasaan cewe lo.”
“tapii
gw sayang sama lo, jelek.”
“yaudah
nanti lagi yaa leek nelponnya, gw lagi di jalan, suara lo gak begitu jelas.”
Aku berharap aku bisa menjawab
pertanyaanmu dengan kata “iya”, tapi aku tidak mungkin menyakiti dia yang jauh
lebih dulu mengenalmu dan menjalani hubungan denganmu. Andai kamu tahu, aku
juga menyayangimu, tapi aku lebih memilih memendamnya karena aku tahu dia pasti
memiliki cinta yang lebih besar dariku untukmu.
Pukul 2:00 dini pagi, kamu
menghubungiku.
“jelek,
lagi tidur yaa?”
“iyaa,
kok lo belum tidur udah jam segini?”
“gw
abis sahur, lo gak sahur?”
“nggak
leek, gw nggak puasa dulu.”
“ooohh,
yaudah lo tidur lagi giih, maaf yaa leek gw ganggu malem-malem”
“iyaa
leek, gapapa kook”
“yaudah
lo tidur, tapi jangan di matiin telponnya, biar gw temenin lo sampe lo pules”
“yaudah
iyaa.”
Aku menuruti pintamu, aku
membiarkan telpon tetap menyala dan meletakkannya di telinga, aku tidur dengan
posisi miring agar handphone tidak jatuh. Aku memejamkan mata, tapi aku belum
tertidur, dan aku mendengar semua ucapanmu di ujung telpon.
“jeleek,
lo udah pules yaa?”
Aku tak menjawabnya agar kamu
segera mematikan telponnya. Tapi kamu justru meneruskan ucapanmu.
“jelek,
gw sayang banget sama lo. gw gak mau kehilangan lo, leek. Kalo aja lo mau jadi
pacar gw, gw bakal mutusin cewe gw buat lo. gw sayang banget sama lo, jeleek.
mimpi indah yaa jeleek.”
Aku masih mendengarkan semua
ungkapan perasaanmu. Tahukah kamu, air mataku menetes saat mendengar semua
kata-katamu.
Mungkin takdir tidak pernah
merestui kita, sehingga takdir memutuskan untuk memberi tahu kepada kekasihmu
mengenai kedekatan aku dan kamu. Dia memarahiku dan mempertanyakan kedekatanku
denganmu, apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Aku berusaha menjelaskan
kepadanya bahwa kita tak ada hubungan apa pun, tapi pesan yang kekasihmu kirim
ke jejaring sosial milikku membuatku muak, meskipun kamu terus-menerus meminta
maaf kepadaku. Dan aku memakimu lewan pesan singkat.
“mending
lo lupain gw. Lupain kalo kita pernah kenal. Dan lebih baik lo balik ke cewe lo
dan bilang kalo kita gak pernah ada hubungan apapun..!!”
“tapi
leek, gw gak mau lupain lo, gw gak mau lupain orang yang gw sayang.”
“tapi dia cewe lo, dan gw gak mau punya masalah sama siapapun, jadi tolong lo pergi dari hidup gw, dan lupain kalo gw pernah ada di hidup lo.”
Tak ada balasan darimu, dan tangisku
mulai memecah kesunyian ruangan kamarku. Sejak saat itu, kita tak pernah (lagi)
bertukar sapa. Sejak saat itu, kamu tetap berada di pikiranku. Sejak saat itu
aku menyadari arti kehilangan dan perpisahan.
Andai kamu tahu, aku selalu ingin
menjadi sesuatu yang istimewa untukmu. Tapi aku sadar, kamu bukan untukku
meskipun kita memiliki rasa yang sama. Karena aku pikir, dia yang bisa
membahagiakanmu, dia yang kamu cintai, dan aku hanya persinggahan ketika kamu
bosan dengan dirinya. Cinta ini hanyalah cinta yang salah, sayang. Relakanlah.
Aku adalah masa lalumu yang mudah
di lenyapkan sang waktu.
:')
BalasHapus