Tidak pernah terpikirkan olehku
sebelumnya, tentang kedatangannya yang membuatku hampir gila. Bagaimana tidak,
jika kesempurnaannya ternyata bisa menarikmu begitu cepat dariku. Kecantikannya
yang selalu kau puji, kepolosannya yang membuat pikiranmu berpaling dariku,
hatinya yang tak pernah ingin kau lukai tanpa kau tahu bahwa ada hati yang jauh
telah terluka karna pengakuanmu bahwa tak hanya aku yang kini menempati
singgasana cintamu, tapi juga dirinya.
Kau memintaku mengalah, bersabar
dan menunggumu hingga kau selesaikan permasalahan hatinya hingga selesai. Tapi
itu pikirmu, tanpa kau sadari bahwa permasalahan hatinya denganmu takkan pernah
selesai, dan aku harus terus terluka melihat orang yang ku cintai, mencintai
wanita lain setiap harinya. Aku mengalah, aku bisa membaca perasaanmu dan
perasaannya dari caramu menatapnya, dan caranya menatapmu. Jelas kau pasti
tidak tahu bahwa selama ini aku selalu mencuri kesempatan untuk bisa membaca
isyarat tubuh yang kamu dan dia tunjukkan ketika kalian bertemu.
Dia selalu ada di hati dan
pikiranmu, lalu dimana aku? Ketika dia hanya menganggapmu sebagai seorang
kakak, tapi mata dan hatinya menganggapmu lebih dari itu. Ketika kamu hanya
menganggap dia sebagai adikmu, tapi mata dan hatimu menganggapnya lebih dari
itu. Aku terluka, sayang. Hingga akhirnya takdir berkata lain. Sepertinya
takdir memang menginginkan kalian berdua untuk bersama, dan aku semakin
terluka.
Untuk pertama kalinya aku membuka
akun facebook milikku setelah sekian lama aku nonaktifkan, jelas saja aku
terkejut ketika status pertama yang aku baca adalah wall yang kamu kirimkan
kepadanya, yang memberitahunya bahwa kau sangat bahagia dengan keputusannya yang
menerimamu sebagai kekasihnya, dan aku dengan mudah terlupakan olehmu. Setiap
saat kamu menuliskan status untuknya, mengungkapkan bahwa kamu tidak pernah
ingin kehilangannya, mengungkapkan bahwa dia adalah peri kecilmu yang kau cinta
dan kau banggakan.
“seistimewa itukah dia untukmu,
sedangkan aku yang selama satu tahun menjalani hubungan denganmu, tak pernah ku
rasakan kebahagiaanmu yang begitu mendalam seperti saat ini” terang saja aku
hanya mengucapkannya dalam hati. Aku bisa apa, sayang? Ketika aku melihatmu
setiap hari dengannya di sekolah, dan aku sibuk menata hati agar tidak terlalu
patah, kemudian berlindung di balik punggung teman laki-lakiku yang selalu
setia berada di sampingku setiap kali aku kau buat rapuh. Tapi kemudian kau
justru datang kembali kepadaku, “aku sayang kamu” lirihmu setelah kau buat aku
tak berdaya karena kehadirannya. “aku lagi cari cara buat mutusin dia”, semudah
itu kau berkata, sedangkan hatiku sudah berhasil kau buat porak-poranda.
Mengapa tidak kamu sadari, sayang, bahwa aku terlanjur hancur ketika kamu
memilihnya untuk menggantikan posisiku di hati dan hidupmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar