/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Selasa, 22 Desember 2015

Tinta Hitam Masa Lalu

Ada begitu banyak tinta hitam dalam kisah masa laluku, dan aku tidak ingin memunafikkan diri. Sebagai seorang wanita, salah jika aku menganggap diriku bersih dan suci. Mungkin ada begitu banyak orang yang memandangku sebagai seorang gadis luar biasa. Mungkin ada begitu banyak orang yang memandangku sebagai wanita yang berpegang teguh pada pendiriannya. Tapi itu tak menutupi bahwa aku pun hanya manusia biasa yang memiliki banyak noda.

Apa yang ku takuti selama ini, jelas nampak dihadapan. Mungkin memang bukan aku yang mengalaminya, tapi bukankah segala sesuatu bisa saja terjadi? Jika itu terjadi dengannya, bukankah ada ribuan kemungkinan itu juga akan terjadi kepadaku? Apapun bisa terjadi kepada kita tanpa kita duga. Ya, sebagaimana kita hanya bisa merencanakan, tapi tetap Tuhan yang menentukan. Tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. Bukankah segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan?

Tak ada satu orang pun yang menginginkan kegelapan hadir dalam kisah hidupnya. Begitupun aku, dia dan mereka. Seperti halnya aku yang menginginkan cerita hidupku di warnai oleh warna-warna indah selayaknya pelangi, semua orang pun akan menginginkan hal yang sama. Tapi bukankah kita tidak akan bisa melihat pelangi sebelum awan hitam hadir menutupi indahnya langit biru dan menurunkan hujan? Bukankah sinar tak akan muncul jika sebelumnya tak ada kegelapan?

Sebagai seorang wanita yang memiliki tinta hitam dalam kisahnya. Sebagai seorang gadis yang menyimpan banyak kekelaman dalam hidupnya, mustahil jika aku bilang tak ada ketakutan dan kerisauan dalam setiap langkah kaki yang ku pijak. Adalah kebohongan jika aku bilang aku bisa tertawa tanpa beban setiap detiknya. Sedang ketakutan sibuk menjamah setiap bagian dari diriku. Sedang kegelisahan sibuk menyergapku. Apa pun bisa terjadi padaku ketika bayangan masa lalu tak henti membuntuti.

Pantaskah jika seorang wanita direndahkan hanya karna masa lalu yang ia punya? Pantaskah jika seorang wanita dihina hanya karna masa lalu yang ia bawa? Apa penyalahan harus menghujaninya ketika ia memang tak mampu menjaga kehormatannya? Bukankah seorang kekasih hadir untuk membuatnya lupa bahwa ia pernah ternoda? Bukankah seorang kekasih hadir untuk membawanya pada kesucian yang tak dapat ia ciptakan? Penjagaan yang tak dapat ia lakukan sendirian.

Ketakutan yang melandaku selama beberapa tahun terakhir, nyatanya kini dapat ku lihat jelas. Meski aku berusaha sekeras mungkin untuk merubah diri menjadi suci, tapi jika bayangan hitam masa lalu mengikuti, apakah di mata seseorang itu akan tetap berarti? Apa kesucian seseorang harus dilihat dari masa lalu yang ia bawa? Apa surga tak mau terbuka untuk wanita-wanita ternoda? Apa perubahan yang ku bawa di mata manusia tetap tak berguna?

Apa yang terjadi pada dirinya, jelas saja bisa terjadi padaku juga. Aku pun sama dengannya. Dan ketika penghinaan jatuh kepadanya, aku hanya mampu diam. Apa aku akan mengalami hal yang sama ketika aku melakukan kesalahan, dan perendahan atas masa laluku adalah satu-satunya hukuman yang harus ku terima? Tinta hitam yang tak dapat dihapuskan, baiknya di apakan? Masa lalu yang tak dapat ditinggalkan, baiknya di bagaimanakan? Kesalahan yang tak termaafkan, baiknya di apakan?

Aku bertanya kepadamu, teman yang mengetahui segala keburukkanku. Jika suatu saat nanti ada seseorang yang merendahkanku atas semua masa laluku, apa kau juga akan diam? Jika aku dipandang sebagai wanita ternoda, apa kau tidak akan melakukan apa-apa? Karna ketakutanku selama ini adalah, masa lalu yang ku bawa ternyata tak dapat diterima. Jika suatu saat nanti perendahan juga menghujaniku, masih bisakah aku berlindung di balik punggungmu?

Meski selama satu tahun lebih aku menyiapkan diri. Meski selama ini aku berusaha untuk memberanikan diri. Ketakutan tetap tak sungkan memelukku. Aku masih berdiri pada pijakkan yang sama. Maafkan aku jika aku tak mampu melangkah pada hidup yang baru. Maafkan aku jika amarah masih menguasaiku. Maafkan aku bahkan jika aku masih membenci diri sendiri. Maafkan aku jika aku masih enggan menyayangi diri sendiri. Aku hanya tidak tahu harus apa ketika masa lalu terlintas dalam ingatanku.

Untuk semua kesalahan yang tak termaafkan. Untuk semua masa lalu yang tak terelakkan. Maukah kau berjanji untuk tidak meninggalkan? Karna yang aku tahu hanya, aku tak sanggup jika harus melewatinya sendirian. Untuk semua luka lama yang tak tersembuhkan. Maukah kau tetap menemaniku meski semua orang menganggap amarahku hanyalah sifat kekanak-kanakkanku? Maukah kamu tetap memahami semua luka dan beban yang ku tanggung sendiri? Hingga seseorang yang mau menerima masa laluku dan bertanggung jawab atas masa depanku datang.



Tinta hitam masa lalu.

Sabtu, 19 Desember 2015

Yang Terjadi

Aku tahu, jauh di lubuk hatimu yang paling dalam kau menyalahkanku sepenuhnya. Aku tahu, kamu selama ini berfikir bahwa akulah penyebab semua kehancuran dan perpisahan kita. Aku tahu, kamu berfikir dulu aku pernah menyakitimu, menyia-yiakanmu, meninggalkanmu. Ya, itu kan yang ada di benakmu? Tapi tahukah kamu apa yang sebenarnya terjadi di antara kita? Bukankah kamu hanya berfikir aku melukaimu karna aku selalu mementingkan teman laki-lakiku daripada dirimu. Dan itulah kenapa kamu memilih pergi dan berhenti mempertahankanku untuk kemudian menemukan penggantiku yang lebih sempurna. Tahukah kamu, meninggalkanmu adalah hal paling menyakitkan untukku?

Pernahkah kamu berfikir apa aku pernah berada di posisi yang menyulitkan. Apa kamu tahu bagaimana rasanya berusaha agar teman dekatku tidak berfikir bahwa kehadiranmu membawaku pada perubahan yang membuatku lupa dengannya? Apa kamu tahu bagaimana rasanya berusaha agar kamu tidak merasa dinomorduakan olehku semenjak aku dekat dengannya lagi? Jika kamu terluka, tidakkah kamu tahu bahwa aku jauh lebih dulu terluka? Kita tidak bisa menyelamatkan dua orang sekaligus. Lantas bagaimana jika aku bilang itu bisa, karna yang dikorbankan adalah diriku sendiri. Hanya demi membuat kalian tidak saling menyalahkan, aku berusaha mati-matian untuk adil dengan kekasihku dan juga temanku.

Jika kamu berfikir aku menomorduakan dirimu dan mementingkan dirinya, mengapa tidak kamu ingat ini; aku tetap denganmu saat disekolah, aku tetap mendatangi kos-kosanmu sepulang sekolah hanya untuk menemanimu bermain ps dengan teman-temanmu, aku tetap makan berdua denganmu, aku tetap pulang sekolah denganmu, aku tetap mengangkat telpon darimu, aku tetap membalas pesan darimu secepat mungkin. Lantas bagian mana yang kau fikir aku menomorduakanmu, sayang? Lantas bagian mana yang kau fikir aku jauh lebih memilih dia daripada kamu, kekasih yang ku harapkan menjadi yang pertama dan terakhir untukku.

Kamu cemburu, aku tahu. Tapi aku hanya berbicara dengannya, aku tidak melakukan apapun yang kau tuduhkan. Jika cemburu menjadi alasanmu, tidakkah kamu tahu bahwa aku jauh lebih cemburu darimu? Kamu bebas berbicara dengan teman wanita manapun, tapi berbicara dengan satu teman laki-laki saja aku kau larang. Aku pun cemburu ketika melihatmu bercanda dengan teman wanita. Aku ingat kita pernah membeli rubik, lantas beberapa teman wanita di kelas sering meminjam rubikmu. Apa kau tahu bahwa aku cemburu ketika kamu mengajarkan mereka yang meminta di ajarkan cara memainkankan rubik itu olehmu? Bisakah kamu ingat baik-baik, sayang, apa aku pernah bilang bahwa aku tak suka kau terlalu dekat dengan mereka? Apa aku pernah bilang kepadamu bahwa aku cemburu? Aku yakin akan ketulusanmu untukku, aku hanya berfikir mereka hanya sekedar teman dan tidak akan mungkin merebutmu dariku.

Memang, salahku karna aku tak pernah berkata apapun tentang perasaanku. Aku tak pernah bilang bahwa aku cemburu. Aku tak pernah bilang bahwa aku tidak suka jika barang-barangmu disentuh oleh wanita lain selainku. Aku tidak pernah bilang jika aku marah. Aku bahkan tidak pernah bilang kalau aku kecewa setiap kali kamu mengingkari janji denganku hanya untuk bermain ps ataupun bermain futsal dengan teman-temanmu. Bahkan, aku tidak mengatakan aku mencintaimu sesering yang kau ucapkan padaku. Aku tidak mengatakan rindu sesering yang kau katakan padaku. Aku akui kesalahanku adalah tak pernah bisa jujur atas perasaanku padamu. Dan aku fikir aku hanya ingin memahamimu tanpa harus menuntut apapun darimu.

Aku hanya ingin menjadi yang terbaik untukmu. Kamu selalu menganggap aku cuek dan tak perduli. Setiap kali kita bertengkar, aku selalu pergi. Maaf jika menurutmu aku lari, tapi tahukah kamu bahwa aku hanya tidak ingin ada orang lain yang melihat amarahmu yang meluap-luap. Aku tidak ingin teman-teman berfikir bahwa kamu tidak bisa memperlakukanku dengan benar. Aku diam ketika kamu membentakku saat amarah menguasaimu, aku diam ketika kamu melontar segala tuduhan yang tidak aku lakukan, aku diam ketika beberapa kata-kata yang kasar kau ucapkan. Aku diam meski aku terluka dengan semua ucapmu. Maafkan aku jika memang kamu menganggap akulah yang memulai segalanya. Tapi tidak bisa kau lihat bahwa akulah yang paling terluka, jauh sebelum aku melukaimu.

Kamu berfikir akulah yang bermain-main, keseriusan dan komitmen mungkin tidak terlihat di dalam diriku. Tapi jika memang seperti itu, lantas mengapa aku menyanggupi ketika kamu memintaku berjanji menunggumu selama enam tahun? Jika memang aku mempermainkanmu, lantas mengapa aku mengiyakan segala janji yang kau ingin aku buat sendiri untuk kita, masa depan kita, pernikahan kita? Apa kau terlalu terluka dan kecewa? Tapi sudahkah kamu memikirkan luka dan kecewa yang juga ada di dalam hatiku?

Kamu berfikir aku selalu saja marah-marah dan menyalahkanmu. Aku harap kau ingat-ingat lagi, sejak kapan aku mulai tak tahan menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk dalam dada. Untuk ketidaksetiaanmu padaku. Untuk semua pengingkaran janjimu padaku. Untuk semua omong kosong yang kau ajukan untukku. Untuk semua kebohongan yang kau ciptakan untukku. Untuk segala yang kau sembunyikan di belakangku. Bisakah kau ingat apa yang telah terjadi di antara kita selama 4 tahun ini? Bisakah kau ingat bahwa aku berusaha memahami segala keadaanmu. Aku mengkhawatirkanmu setiap detik. Aku di bunuh waktu atas ketidakhadiranmu di sisiku dan setiap kali aku temukan kamu, kamu tengah berbahagia dengan wanita lain selainku.

Maaf jika semua amarahku nyatanya membuatmu pergi. Tapi tidak bisakah kau ingat sekali lagi, apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu bahkan ketika kata-kata kasarmu menghujaniku? Apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu ketika segala bentakan dan tuduhan kau lontarkan padaku? Apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu ketika kamu tak pernah mempercayaiku dan menganggap semua jawaban atas pertanyaanmu hanyalah kebohonganku? Aku tak pernah membohongimu, sayang. Ku letakkan kejujuran di atas cinta kita meski kau tak percaya.

Maaf jika kemarahan dan egoku tak dapat aku tahan. Maaf jika segala yang ku lakukan justru membuatmu pergi meninggalkanku dan mengubur dalam-dalam semua janji yang kau buat sendiri. Maaf jika emosiku tak dapat ku bungkam. Mungkin seharusnya aku diam ketika semua ketakutan menyergapku. Mungkin seharusnya aku memendam semua rasa yang berkecamuk dalam dada seperti yang sebelumnya aku lakukan, sehingga mungkin kamu akan tetap disini. Mungkin seharusnya aku menahan diri dari segala ketakutanku bahwa kamu akan meninggalkanku (lagi), dan diam-diam kamu mendekati wanita lain yang jauh lebih bisa berada di sampingmu daripada aku yang hanya mampu mengirimkan doa-doa keselamatanmu. 

Mungkin memang seharusnya aku menahan segala ketakutan bahwa kamu akan kembali melukaiku dengan cara yang sama. Mungkin seharusnya aku memendam ketakutanku atas ketidaksetiaanmu padaku. Atau sebenarnya mungkin aku yang sadar dari awal, aku bukanlah seseorang yang kau harapkan, yang kau dambakan, dan yang ingin kau perjuangkan dan kau pertahankan kehadirannya. Mungkin sebenarnya aku sadar, dari awal aku tak pernah menjadi pilihan dan prioritas utamamu. Mungkin sebenarnya aku sadar bahwa aku tak pernah spesial di matamu.  Ampuni aku yang menghancurkan segalanya.

Rabu, 16 Desember 2015

Maaf Untukmu dan Kekasihmu

Awalnya aku tak yakin kau akan datang. Tapi apa yang ada di depan mata justru tak dapat aku sangka. Kamu hadir, dan kata-kata yang terlontar dari bibir ibuku saat melihat kedatanganmu adalah "anak lanangku datang". Seketika jantungku berdetak di atas batas kenormalan saat aku melihat punggungmu dari pintu kamar. Tak ada rasa yang dapat aku deskripsikan, entah senang, sedih, atau apapun semacamnya. Tapi yang aku tahu hanya, kau hadir di antara kami semalam.

Ketidaknyamananku hadir saat aku harus mengizinkan kamu bermalam dirumahku. Bagaimana mungkin kamu bermalam dirumah wanita yang telah menjadi bagian dari masa lalumu, sedangkan kamu memiliki dia yang mungkin telah kau pilih untuk dijadikan masa depan. Satu hal yang bisa membuatku tenang, setidaknya dengan bermalam dirumahku, aku terbebas dari rasa khawatirku jika kamu pulang selarut itu meskipun perasaan tak enak dengan kekasihmu juga menghantuiku. Sampaikan maafku pada kekasihmu karena telah membawamu masuk kedalam lingkaran masa lalu.

Hati wanita mana yang tak terluka jika mengetahui kekasihnya menemui masa lalunya. Tak ada satu orang wanita pun yang benar-benar rela berbagi, dan aku sangat mengetahui bagaimana rasanya membagi sesuatu yang hanya ingin menjadi satu-satunya milikku. Sampaikan maafku pada kekasihmu, karena mungkin dia bisa berfikir aku menginginkanmu. Kesadaranku hanyalah, aku tak pernah yakin aku pernah menjadi bagian terpenting di hidupmu.

Melihatmu. Diam-diam aku menata hati yang telah berserakan agar tidak menjadi bercucuran ke berbagai arah yang tak dapat aku jangkau.

Pagi ini, perasaanku saja atau memang, kamu menyanyikan lagu-lagu yang seakan-akan kau memintaku untuk melupakanmu; aku tak tahu. Tahukah kamu, aku ingin menggenggam tanganmu ketika tanganmu mengusap lembut pipiku, tapi bayangan ketika dia menggenggam tanganmu menyita seluruh keinginanku. Aku menahan diriku agar tidak menguasaimu. Aku menahan diriku agar tidak terlalu menginginkanmu kembali.

Saat berdua denganmu, menunggu hujan reda, kamu meminta izin agar bisa memelukku sekali dan untuk yang terakhir kali. Apa kau tahu? Saat kamu tak henti mengatakan betapa hancurnya kamu saat ini membuatku ingin beranjak dari sofa yang kutiduri untuk kemudian memelukmu dengan erat dan berkata "cukup, jangan bilang gitu lagi, kamu nggak tahu kalo semua kata-kata kamu bikin jantung aku berdebar kencang, sekujur tubuh bergetar, tenagaku seakan terkuras, dan aku ketakutan."

Andai kamu tahu, aku menahan air mata agar tidak tumpah ketika kamu tak henti mengatakan betapa parahnya keadaanmu sekarang. Aku menahan tubuhku agar tidak terlalu gemetar. Aku berusaha menjaga hatiku agar tetap tenang. Aku berusaha bertahan dari ketakutan yang kau hadirkan. Kamu tak pernah tahu, apapun bisa terjadi kepadaku ketika aku mengetahui kau tidak sedang baik-baik saja. 

Andai kamu mengetahui bahwa semua yang kau ucapkan hanya mampu membuatku semakin sulit untuk melepaskan. Buruknya kamu, hanya menimbulkan keinginanku untuk melindungimu, menjagamu, membebaskanmu dari semua belenggu yang mengikatmu. Dan aku kembali sadar, aku tak punya kuasa untuk itu. Aku hanyalah masa lalumu, dia yang memilikimu seutuhnya. Dan kamu tak akan pernah tahu bahwa aku akan selalu kacau.

Kamu memintaku untuk melupakanmu, menghapusmu dan mencari yang lebih baik darimu. Maafkan aku jika mencintai dan merindukanmu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan di matamu. Tapi aku mohon, beri aku waktu. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk meniadakan kehadiranmu dari hidupku. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi sepertimu, yang bisa dengan mudahnya menggantikan aku dengan siapapun selainku.

Semampuku, permintaanmu akan aku penuhi. Melupakanmu, menghapusmu, dan menemukan penggantimu yang lebih baik akan aku lakukan. Keinginanmu akan aku laksanakan ketika aku benar-benar siap. Aku pergi jika memang itu inginmu. Dan sampaikan maafku pada kekasihmu karena aku telah mencintaimu dan merindukanmu. Sampaikan maafku pada kekasihmu karena telah mencemaskan dan mengkhawatirkanmu. Sampaikan maafku pada kekasihmu karena telah meminjammu hari ini.

Sampai kau mengantarku, bisakah aku memastikan bahwa aku tak akan pernah muncul di hadapanmu lagi. Bisakah aku memastikan bahwa itu adalah pertemuan terakhir kita. Dan dengan air mata aku melewati gerbang kampus, ku ucapkan selamat tinggal untukmu, ku tutup hatiku rapat-rapat darimu. Terimakasih, segalaku.



Dari masa lalumu

Jumat, 11 Desember 2015

Ketika Pergi dan Hilang Selalu Berdampingan

Ada begitu banyak perasaan yang menghinggapi hati. Marah, kesal, kecewa, sedih, semua bertumpuk menjadi satu. Tak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Aku tak pernah tahu bagaimana caraku mengekspresikan perasaan. Hingga segalanya semakin tumbuh menjadi lebih besar dan tak tertahankan. Aku tidak pernah tahu apa aku harus meledak-ledakkan amarahku. Aku tidak tahu apa aku harus meluapkan kekecewaanku. Aku tidak tahu apa aku harus melepaskan kesedihanku. Aku tidak tahu bagaimana caranya.

Aku punya teman yang memahami kesedihanku ketika aku kehilangan sosok ayah. Kamu teman ceritaku yang begitu aku sayangi. Kamu mengerti rasanya kehilangan saat kepergian datang. Kamu adalah satu yang tak pernah ingin aku lupakan. Tapi bagaimana jika kau sendiri yang pergi, dan hilang adalah satu-satunya rasa yang kemudian datang. Iya, aku tak memiliki apapun untuk aku timpalkan atas segala hilang yang datang.

Aku tak yakin aku baik-baik saja sejak kau pergi. Awalnya memang, tapi tahun demi tahun berlalu dan aku terluka oleh penggantimu. Ayahanda, lalu kamu, teman-teman, kemudian dia. Haruskah aku terjerembab dalam rasa kehilangan sejak kepergianmu dan mereka semua dari dunia yang ku anggap surga? Haruskah aku terpasung dalam ketakutan yang tak biasa? Tapi nyata telah berbeda. Kamu tak lagi ada dalam dunia. Kamu pergi, dan hilang adalah teman kehampaan yang kau hadirkan. Aku ingin kau kembali, menemani aku yang merindukan kehadiranmu.





Dari aku yang membutuhkan hadirmu, mas.

Senin, 07 Desember 2015

10 Bulan Setelah Kepergianmu

Desember. Tidak terasa tahun yang baru akan segera kembali terlewati. Jelas saja aku tak pernah menginginkan semua yang terjadi di saat tahun baru sebelumnya muncul di ingatanku. Aku tak ingin lagi mengingat pernah ada kamu dalam duniaku. Aku tak pernah ingin mengingat aku pernah kau buat sangat bahagia sebelum akhirnya kau buat terluka. Jelas saja aku tak pernah ingin mengingat aku pernah kau buat merasa istimewa sebelum akhirnya aku menyadari bahwa aku tak berharga. Jelas saja aku tak pernah menginginkan segalanya terjadi seperti ini.

Sejak saat itu. Sejak kau memilih pergi dari kehidupanku dan memilih wanita yang tak pernah ku tahu jelas asal usulnya, aku masih diam-diam menangisimu, aku masih diam-diam merindukanmu, meskipun terkadang aku diam-diam membencimu. Siapa yang bisa menyangka bahwa kau yang terlihat begitu tulus menyayangiku, nyatanya adalah orang yang paling berani melukaiku. Siapa yang bisa menyangka bahwa kamu yang terlihat begitu menginginkanku, nyatanya hanya sebuah drama yang berhasil kau mainkan dengan begitu lihai.

11 bulan telah berlalu sejak hilangnya kabarmu. 10 bulan telah berlalu sejak kau mengatakan bosan dan ingin sendiri. 9 bulan telah berlalu sejak aku mengetahui kenyataan bahwa keputusanmu pergi dariku adalah keinginanmu untuk memiliki wanita lain yang kau cintai. Bulan-bulan telah berlalu sebagaimana mestinya, lantas bagaimana dengan luka yang ku tanggung deritanya? Jika bulan demi bulan telah berlalu sebagaimana mestinya, lantas mengapa kesedihan tak juga berlalu seperti yang seharusnya? Kenapa lara masih saja merana?

Aku masih saja memimpikanmu. Kamu tak pernah mampu aku gapai, bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku ingat, beberapa kali mimpi yang hampir sama hinggap dalam tidurku. Aku menggunakan dress berwarna putih polos berlengan pendek, rambutku terurai begitu saja, apa aku terlihat cantik saat berada di mimpi itu? Aku tak yakin. Aku berada di tempat yang sangat gelap, aku sendiri, dan ada banyak jalan mengelilingiku. Mana arah yang harus aku pilih, aku tak tahu. Aku berteriak apakah ada orang selain aku disana, tapi tak ada jawaban.

Aku melihat sosok yang tak aku kenal berjalan di salah satu jalan yang ada di depanku, tapi ketika aku terbangun dan mengingat mimpi itu, aku tahu sosok yang ku lihat itu adalah kamu. Aku ingat, aku berteriak memanggilmu padahal aku tak mengenalmu (dalam mimpi itu), aku mengejarmu, tapi entah kenapa meskipun aku sudah berlari, kamu tetap berada sangat jauh dariku. Hingga aku lelah mengejar sosok yang dalam mimpi tidak aku kenali, aku berbalik arah, aku kembali ke tempat dimana aku berada sebelumnya. Aku menangis dalam ketakutan yang sangat dalam. Aku tak ingin berada di tempat gelap itu sendirian.

Mimpi yang menghampiriku, apakah mengibaratkan posisiku dalam realita? Apa aku benar-benar tak mampu beranjak dari tempat ini? Apa aku memang tidak mempunyai keberanian untuk menentukan arah mana yang harus aku tuju semenjak kau memilih pergi dariku? Apa aku memang benar-benar berada dalam kegelapan meskipun aku berjalan di siang hari? Apakah mimpi itu adalah bukti ketakutan yang menyelimuti? Apa aku benar-benar takut untuk melangkah? Apa aku benar-benar takut untuk melanjutkan hidup setelah kehilanganmu?

Apakah wajar atau tidak bahwa aku masih dalam kekalutan yang sangat dalam meskipun telah lama kau pergi? Aku akui kekalahanku. Aku pernah sangat memperjuangkanmu di saat kamu mati-matian tidak memperdulikanku. Aku pernah sangat mencintaimu di saat kamu mati-matian mencintai wanita lain. Aku pernah sangat menganggap serius hubungan kita disaat kamu menganggap hubungan kita tak berharga. Aku pernah sangat menjadikanmu segalanya disaat kamu tak pernah menganggapku ada. Aku pernah sangat menginginkanmu disaat kamu membuangku tanpa kata.

Aku tak tahu harus apa ketika aku selalu berusaha mempercayai dusta yang kau buat. Aku tak tahu harus apa ketika semua kenangan yang selalu ku abadikan dalam ingatan, nyatanya harus aku musnahkan. Aku tidak tahu harus apa ketika harapan yang sinarnya selalu berusaha aku nyalakan, nyatanya harus aku padamkan. Aku tidak tahu harus apa ketika cerita kita berakhir dengan sia-sia. Aku akui, aku masih berada dalam kekacauan yang teramat menyedihkan.





Dari wanita yang pernah kau buang tanpa kata.
Cute Blue Flying Butterfly>