/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Selasa, 22 Desember 2015

Tinta Hitam Masa Lalu

Ada begitu banyak tinta hitam dalam kisah masa laluku, dan aku tidak ingin memunafikkan diri. Sebagai seorang wanita, salah jika aku menganggap diriku bersih dan suci. Mungkin ada begitu banyak orang yang memandangku sebagai seorang gadis luar biasa. Mungkin ada begitu banyak orang yang memandangku sebagai wanita yang berpegang teguh pada pendiriannya. Tapi itu tak menutupi bahwa aku pun hanya manusia biasa yang memiliki banyak noda.

Apa yang ku takuti selama ini, jelas nampak dihadapan. Mungkin memang bukan aku yang mengalaminya, tapi bukankah segala sesuatu bisa saja terjadi? Jika itu terjadi dengannya, bukankah ada ribuan kemungkinan itu juga akan terjadi kepadaku? Apapun bisa terjadi kepada kita tanpa kita duga. Ya, sebagaimana kita hanya bisa merencanakan, tapi tetap Tuhan yang menentukan. Tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. Bukankah segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan?

Tak ada satu orang pun yang menginginkan kegelapan hadir dalam kisah hidupnya. Begitupun aku, dia dan mereka. Seperti halnya aku yang menginginkan cerita hidupku di warnai oleh warna-warna indah selayaknya pelangi, semua orang pun akan menginginkan hal yang sama. Tapi bukankah kita tidak akan bisa melihat pelangi sebelum awan hitam hadir menutupi indahnya langit biru dan menurunkan hujan? Bukankah sinar tak akan muncul jika sebelumnya tak ada kegelapan?

Sebagai seorang wanita yang memiliki tinta hitam dalam kisahnya. Sebagai seorang gadis yang menyimpan banyak kekelaman dalam hidupnya, mustahil jika aku bilang tak ada ketakutan dan kerisauan dalam setiap langkah kaki yang ku pijak. Adalah kebohongan jika aku bilang aku bisa tertawa tanpa beban setiap detiknya. Sedang ketakutan sibuk menjamah setiap bagian dari diriku. Sedang kegelisahan sibuk menyergapku. Apa pun bisa terjadi padaku ketika bayangan masa lalu tak henti membuntuti.

Pantaskah jika seorang wanita direndahkan hanya karna masa lalu yang ia punya? Pantaskah jika seorang wanita dihina hanya karna masa lalu yang ia bawa? Apa penyalahan harus menghujaninya ketika ia memang tak mampu menjaga kehormatannya? Bukankah seorang kekasih hadir untuk membuatnya lupa bahwa ia pernah ternoda? Bukankah seorang kekasih hadir untuk membawanya pada kesucian yang tak dapat ia ciptakan? Penjagaan yang tak dapat ia lakukan sendirian.

Ketakutan yang melandaku selama beberapa tahun terakhir, nyatanya kini dapat ku lihat jelas. Meski aku berusaha sekeras mungkin untuk merubah diri menjadi suci, tapi jika bayangan hitam masa lalu mengikuti, apakah di mata seseorang itu akan tetap berarti? Apa kesucian seseorang harus dilihat dari masa lalu yang ia bawa? Apa surga tak mau terbuka untuk wanita-wanita ternoda? Apa perubahan yang ku bawa di mata manusia tetap tak berguna?

Apa yang terjadi pada dirinya, jelas saja bisa terjadi padaku juga. Aku pun sama dengannya. Dan ketika penghinaan jatuh kepadanya, aku hanya mampu diam. Apa aku akan mengalami hal yang sama ketika aku melakukan kesalahan, dan perendahan atas masa laluku adalah satu-satunya hukuman yang harus ku terima? Tinta hitam yang tak dapat dihapuskan, baiknya di apakan? Masa lalu yang tak dapat ditinggalkan, baiknya di bagaimanakan? Kesalahan yang tak termaafkan, baiknya di apakan?

Aku bertanya kepadamu, teman yang mengetahui segala keburukkanku. Jika suatu saat nanti ada seseorang yang merendahkanku atas semua masa laluku, apa kau juga akan diam? Jika aku dipandang sebagai wanita ternoda, apa kau tidak akan melakukan apa-apa? Karna ketakutanku selama ini adalah, masa lalu yang ku bawa ternyata tak dapat diterima. Jika suatu saat nanti perendahan juga menghujaniku, masih bisakah aku berlindung di balik punggungmu?

Meski selama satu tahun lebih aku menyiapkan diri. Meski selama ini aku berusaha untuk memberanikan diri. Ketakutan tetap tak sungkan memelukku. Aku masih berdiri pada pijakkan yang sama. Maafkan aku jika aku tak mampu melangkah pada hidup yang baru. Maafkan aku jika amarah masih menguasaiku. Maafkan aku bahkan jika aku masih membenci diri sendiri. Maafkan aku jika aku masih enggan menyayangi diri sendiri. Aku hanya tidak tahu harus apa ketika masa lalu terlintas dalam ingatanku.

Untuk semua kesalahan yang tak termaafkan. Untuk semua masa lalu yang tak terelakkan. Maukah kau berjanji untuk tidak meninggalkan? Karna yang aku tahu hanya, aku tak sanggup jika harus melewatinya sendirian. Untuk semua luka lama yang tak tersembuhkan. Maukah kau tetap menemaniku meski semua orang menganggap amarahku hanyalah sifat kekanak-kanakkanku? Maukah kamu tetap memahami semua luka dan beban yang ku tanggung sendiri? Hingga seseorang yang mau menerima masa laluku dan bertanggung jawab atas masa depanku datang.



Tinta hitam masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>