/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Senin, 07 Desember 2015

10 Bulan Setelah Kepergianmu

Desember. Tidak terasa tahun yang baru akan segera kembali terlewati. Jelas saja aku tak pernah menginginkan semua yang terjadi di saat tahun baru sebelumnya muncul di ingatanku. Aku tak ingin lagi mengingat pernah ada kamu dalam duniaku. Aku tak pernah ingin mengingat aku pernah kau buat sangat bahagia sebelum akhirnya kau buat terluka. Jelas saja aku tak pernah ingin mengingat aku pernah kau buat merasa istimewa sebelum akhirnya aku menyadari bahwa aku tak berharga. Jelas saja aku tak pernah menginginkan segalanya terjadi seperti ini.

Sejak saat itu. Sejak kau memilih pergi dari kehidupanku dan memilih wanita yang tak pernah ku tahu jelas asal usulnya, aku masih diam-diam menangisimu, aku masih diam-diam merindukanmu, meskipun terkadang aku diam-diam membencimu. Siapa yang bisa menyangka bahwa kau yang terlihat begitu tulus menyayangiku, nyatanya adalah orang yang paling berani melukaiku. Siapa yang bisa menyangka bahwa kamu yang terlihat begitu menginginkanku, nyatanya hanya sebuah drama yang berhasil kau mainkan dengan begitu lihai.

11 bulan telah berlalu sejak hilangnya kabarmu. 10 bulan telah berlalu sejak kau mengatakan bosan dan ingin sendiri. 9 bulan telah berlalu sejak aku mengetahui kenyataan bahwa keputusanmu pergi dariku adalah keinginanmu untuk memiliki wanita lain yang kau cintai. Bulan-bulan telah berlalu sebagaimana mestinya, lantas bagaimana dengan luka yang ku tanggung deritanya? Jika bulan demi bulan telah berlalu sebagaimana mestinya, lantas mengapa kesedihan tak juga berlalu seperti yang seharusnya? Kenapa lara masih saja merana?

Aku masih saja memimpikanmu. Kamu tak pernah mampu aku gapai, bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku ingat, beberapa kali mimpi yang hampir sama hinggap dalam tidurku. Aku menggunakan dress berwarna putih polos berlengan pendek, rambutku terurai begitu saja, apa aku terlihat cantik saat berada di mimpi itu? Aku tak yakin. Aku berada di tempat yang sangat gelap, aku sendiri, dan ada banyak jalan mengelilingiku. Mana arah yang harus aku pilih, aku tak tahu. Aku berteriak apakah ada orang selain aku disana, tapi tak ada jawaban.

Aku melihat sosok yang tak aku kenal berjalan di salah satu jalan yang ada di depanku, tapi ketika aku terbangun dan mengingat mimpi itu, aku tahu sosok yang ku lihat itu adalah kamu. Aku ingat, aku berteriak memanggilmu padahal aku tak mengenalmu (dalam mimpi itu), aku mengejarmu, tapi entah kenapa meskipun aku sudah berlari, kamu tetap berada sangat jauh dariku. Hingga aku lelah mengejar sosok yang dalam mimpi tidak aku kenali, aku berbalik arah, aku kembali ke tempat dimana aku berada sebelumnya. Aku menangis dalam ketakutan yang sangat dalam. Aku tak ingin berada di tempat gelap itu sendirian.

Mimpi yang menghampiriku, apakah mengibaratkan posisiku dalam realita? Apa aku benar-benar tak mampu beranjak dari tempat ini? Apa aku memang tidak mempunyai keberanian untuk menentukan arah mana yang harus aku tuju semenjak kau memilih pergi dariku? Apa aku memang benar-benar berada dalam kegelapan meskipun aku berjalan di siang hari? Apakah mimpi itu adalah bukti ketakutan yang menyelimuti? Apa aku benar-benar takut untuk melangkah? Apa aku benar-benar takut untuk melanjutkan hidup setelah kehilanganmu?

Apakah wajar atau tidak bahwa aku masih dalam kekalutan yang sangat dalam meskipun telah lama kau pergi? Aku akui kekalahanku. Aku pernah sangat memperjuangkanmu di saat kamu mati-matian tidak memperdulikanku. Aku pernah sangat mencintaimu di saat kamu mati-matian mencintai wanita lain. Aku pernah sangat menganggap serius hubungan kita disaat kamu menganggap hubungan kita tak berharga. Aku pernah sangat menjadikanmu segalanya disaat kamu tak pernah menganggapku ada. Aku pernah sangat menginginkanmu disaat kamu membuangku tanpa kata.

Aku tak tahu harus apa ketika aku selalu berusaha mempercayai dusta yang kau buat. Aku tak tahu harus apa ketika semua kenangan yang selalu ku abadikan dalam ingatan, nyatanya harus aku musnahkan. Aku tidak tahu harus apa ketika harapan yang sinarnya selalu berusaha aku nyalakan, nyatanya harus aku padamkan. Aku tidak tahu harus apa ketika cerita kita berakhir dengan sia-sia. Aku akui, aku masih berada dalam kekacauan yang teramat menyedihkan.





Dari wanita yang pernah kau buang tanpa kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>