Aku tahu, jauh di lubuk hatimu yang paling dalam kau menyalahkanku sepenuhnya. Aku tahu, kamu selama ini berfikir bahwa akulah penyebab semua kehancuran dan perpisahan kita. Aku tahu, kamu berfikir dulu aku pernah menyakitimu, menyia-yiakanmu, meninggalkanmu. Ya, itu kan yang ada di benakmu? Tapi tahukah kamu apa yang sebenarnya terjadi di antara kita? Bukankah kamu hanya berfikir aku melukaimu karna aku selalu mementingkan teman laki-lakiku daripada dirimu. Dan itulah kenapa kamu memilih pergi dan berhenti mempertahankanku untuk kemudian menemukan penggantiku yang lebih sempurna. Tahukah kamu, meninggalkanmu adalah hal paling menyakitkan untukku?
Pernahkah kamu berfikir apa aku pernah berada di posisi yang menyulitkan. Apa kamu tahu bagaimana rasanya berusaha agar teman dekatku tidak berfikir bahwa kehadiranmu membawaku pada perubahan yang membuatku lupa dengannya? Apa kamu tahu bagaimana rasanya berusaha agar kamu tidak merasa dinomorduakan olehku semenjak aku dekat dengannya lagi? Jika kamu terluka, tidakkah kamu tahu bahwa aku jauh lebih dulu terluka? Kita tidak bisa menyelamatkan dua orang sekaligus. Lantas bagaimana jika aku bilang itu bisa, karna yang dikorbankan adalah diriku sendiri. Hanya demi membuat kalian tidak saling menyalahkan, aku berusaha mati-matian untuk adil dengan kekasihku dan juga temanku.
Jika kamu berfikir aku menomorduakan dirimu dan mementingkan dirinya, mengapa tidak kamu ingat ini; aku tetap denganmu saat disekolah, aku tetap mendatangi kos-kosanmu sepulang sekolah hanya untuk menemanimu bermain ps dengan teman-temanmu, aku tetap makan berdua denganmu, aku tetap pulang sekolah denganmu, aku tetap mengangkat telpon darimu, aku tetap membalas pesan darimu secepat mungkin. Lantas bagian mana yang kau fikir aku menomorduakanmu, sayang? Lantas bagian mana yang kau fikir aku jauh lebih memilih dia daripada kamu, kekasih yang ku harapkan menjadi yang pertama dan terakhir untukku.
Kamu cemburu, aku tahu. Tapi aku hanya berbicara dengannya, aku tidak melakukan apapun yang kau tuduhkan. Jika cemburu menjadi alasanmu, tidakkah kamu tahu bahwa aku jauh lebih cemburu darimu? Kamu bebas berbicara dengan teman wanita manapun, tapi berbicara dengan satu teman laki-laki saja aku kau larang. Aku pun cemburu ketika melihatmu bercanda dengan teman wanita. Aku ingat kita pernah membeli rubik, lantas beberapa teman wanita di kelas sering meminjam rubikmu. Apa kau tahu bahwa aku cemburu ketika kamu mengajarkan mereka yang meminta di ajarkan cara memainkankan rubik itu olehmu? Bisakah kamu ingat baik-baik, sayang, apa aku pernah bilang bahwa aku tak suka kau terlalu dekat dengan mereka? Apa aku pernah bilang kepadamu bahwa aku cemburu? Aku yakin akan ketulusanmu untukku, aku hanya berfikir mereka hanya sekedar teman dan tidak akan mungkin merebutmu dariku.
Memang, salahku karna aku tak pernah berkata apapun tentang perasaanku. Aku tak pernah bilang bahwa aku cemburu. Aku tak pernah bilang bahwa aku tidak suka jika barang-barangmu disentuh oleh wanita lain selainku. Aku tidak pernah bilang jika aku marah. Aku bahkan tidak pernah bilang kalau aku kecewa setiap kali kamu mengingkari janji denganku hanya untuk bermain ps ataupun bermain futsal dengan teman-temanmu. Bahkan, aku tidak mengatakan aku mencintaimu sesering yang kau ucapkan padaku. Aku tidak mengatakan rindu sesering yang kau katakan padaku. Aku akui kesalahanku adalah tak pernah bisa jujur atas perasaanku padamu. Dan aku fikir aku hanya ingin memahamimu tanpa harus menuntut apapun darimu.
Aku hanya ingin menjadi yang terbaik untukmu. Kamu selalu menganggap aku cuek dan tak perduli. Setiap kali kita bertengkar, aku selalu pergi. Maaf jika menurutmu aku lari, tapi tahukah kamu bahwa aku hanya tidak ingin ada orang lain yang melihat amarahmu yang meluap-luap. Aku tidak ingin teman-teman berfikir bahwa kamu tidak bisa memperlakukanku dengan benar. Aku diam ketika kamu membentakku saat amarah menguasaimu, aku diam ketika kamu melontar segala tuduhan yang tidak aku lakukan, aku diam ketika beberapa kata-kata yang kasar kau ucapkan. Aku diam meski aku terluka dengan semua ucapmu. Maafkan aku jika memang kamu menganggap akulah yang memulai segalanya. Tapi tidak bisa kau lihat bahwa akulah yang paling terluka, jauh sebelum aku melukaimu.
Kamu berfikir akulah yang bermain-main, keseriusan dan komitmen mungkin tidak terlihat di dalam diriku. Tapi jika memang seperti itu, lantas mengapa aku menyanggupi ketika kamu memintaku berjanji menunggumu selama enam tahun? Jika memang aku mempermainkanmu, lantas mengapa aku mengiyakan segala janji yang kau ingin aku buat sendiri untuk kita, masa depan kita, pernikahan kita? Apa kau terlalu terluka dan kecewa? Tapi sudahkah kamu memikirkan luka dan kecewa yang juga ada di dalam hatiku?
Kamu berfikir aku selalu saja marah-marah dan menyalahkanmu. Aku harap kau ingat-ingat lagi, sejak kapan aku mulai tak tahan menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk dalam dada. Untuk ketidaksetiaanmu padaku. Untuk semua pengingkaran janjimu padaku. Untuk semua omong kosong yang kau ajukan untukku. Untuk semua kebohongan yang kau ciptakan untukku. Untuk segala yang kau sembunyikan di belakangku. Bisakah kau ingat apa yang telah terjadi di antara kita selama 4 tahun ini? Bisakah kau ingat bahwa aku berusaha memahami segala keadaanmu. Aku mengkhawatirkanmu setiap detik. Aku di bunuh waktu atas ketidakhadiranmu di sisiku dan setiap kali aku temukan kamu, kamu tengah berbahagia dengan wanita lain selainku.
Maaf jika semua amarahku nyatanya membuatmu pergi. Tapi tidak bisakah kau ingat sekali lagi, apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu bahkan ketika kata-kata kasarmu menghujaniku? Apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu ketika segala bentakan dan tuduhan kau lontarkan padaku? Apa aku pernah benar-benar meninggalkanmu ketika kamu tak pernah mempercayaiku dan menganggap semua jawaban atas pertanyaanmu hanyalah kebohonganku? Aku tak pernah membohongimu, sayang. Ku letakkan kejujuran di atas cinta kita meski kau tak percaya.
Maaf jika kemarahan dan egoku tak dapat aku tahan. Maaf jika segala yang ku lakukan justru membuatmu pergi meninggalkanku dan mengubur dalam-dalam semua janji yang kau buat sendiri. Maaf jika emosiku tak dapat ku bungkam. Mungkin seharusnya aku diam ketika semua ketakutan menyergapku. Mungkin seharusnya aku memendam semua rasa yang berkecamuk dalam dada seperti yang sebelumnya aku lakukan, sehingga mungkin kamu akan tetap disini. Mungkin seharusnya aku menahan diri dari segala ketakutanku bahwa kamu akan meninggalkanku (lagi), dan diam-diam kamu mendekati wanita lain yang jauh lebih bisa berada di sampingmu daripada aku yang hanya mampu mengirimkan doa-doa keselamatanmu.
Mungkin memang seharusnya aku menahan segala ketakutan bahwa kamu akan kembali melukaiku dengan cara yang sama. Mungkin seharusnya aku memendam ketakutanku atas ketidaksetiaanmu padaku. Atau sebenarnya mungkin aku yang sadar dari awal, aku bukanlah seseorang yang kau harapkan, yang kau dambakan, dan yang ingin kau perjuangkan dan kau pertahankan kehadirannya. Mungkin sebenarnya aku sadar, dari awal aku tak pernah menjadi pilihan dan prioritas utamamu. Mungkin sebenarnya aku sadar bahwa aku tak pernah spesial di matamu. Ampuni aku yang menghancurkan segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar