/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Senin, 24 Oktober 2016

Untitle

Hai sepi.

Hai sunyi.

Hai senyap.

Hai hening.

Hai hampa.

Hai semua lawan dari bising dan ramai.

Aku menyapa sepi, sunyi, senyap, dan semua hal yang mungkin maknanya sama. Tapi bagaimana bisa aku menyapa semuanya, jika aku adalah hampa itu sendiri? Bukankah, sebuah kediaman memang tak pernah akan bisa berbaur dengan riuh? Maka, aku yang diam, akan dengan senang hati membenci ramai.

Entah sejak kapan, aku kembali pada aktivitas awalku; menuliskan segala perasaan yang tak akan pernah bisa terucapkan pada laman kosong ini. Menciptakan banyak kata yang sesungguhnya tak pernah aku ingini karena ia berasal dari perasaan yang juga tak diingini. Entah sejak kapan, aku mulai berpikir untuk kembali pada teman tak kasat mata ini. Bercerita pada laman kosong yang hanya bisa membuat segala bentuk perasaanku menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh khalayak ramai, sedang aku sendiri membenci ramai.

Menulis seakan aku berbicara dan bercerita, sedangkan realita membuatku enggan berkata. Hanya mengamati apa yang terjadi dalam hening, tanpa komentar apapun, kemudian dilanda bingung yang semakin lama semakin tak menentu. Dihadapkan pada pilihan memang tak pernah menyenangkan, apalagi jika pilihan itu memang tak pernah diharapkan. 

Aku memilih untuk bertahan pada zona nyamanku, yang juga ku pikir merupakan zona aman bagiku. Tapi, aku memang tak pernah bisa menghindar selamanya dari apa yang memang sudah menjadi kewajibanku, bukan? Ketika aku harus menjalankan kewajiban itu, tapi tak bisa memilih melalui apa aku ingin menjalankannya, dan hanya ada satu atau dua yang seakan menawarkan bantuan agar segalanya menjadi mudah. Tapi tidak! segalanya memang akan terlihat mudah, tapi tidak menjadi mudah dengan apa yang aku pikirkan. 

Segalanya memang menjadi lebih rumit seperti biasanya setiap kali aku mencari tahu sebelum memilih. Kebimbangan berhasil menggerogoti hati, dan waktu terus menghimpitku. Waktu dan ragu menjadi dua hal yang menyebalkan dan bercampur menjadi satu. Itu memuakkan ketika aku bahkan tidak mempunyai siapapun untuk diajak bicara. Menyebalkan setiap kali kenyataan berhasil menamparku kembali ke dasar jurang, kalau aku memang tidak memiliki apapun untuk dijadikan arah tujuan. 

Aku benci. Benci ketika aku menyadari kalau aku sedang berada di bawah tekanan. Tertekan dengan semua yang tidak aku inginkan memang suatu hal yang tidak aku akui perasaannya. Aku benci. Dan aku lebih membenci lagi ketika aku tidak bisa menangis meski hanya untuk masalah yang sangat kecil mengingat dulu aku bahkan bisa menangis berkali-kali dalam sehari hanya untuk hal sepele. Aku benci ketika aku merasa sangat depresi, padahal seharusnya tidak seperti itu. Aku benci ketika aku seakan membutuhkan obat penenang hanya untuk melupakan apa yang mengganggu pikiran.

Menangis adalah yang bisa aku lakukan hanya jika aku membaca kisah roman picisan, dan itu menggelikan ketika aku bahkan tidak bisa menangis di saat keadaan di sekitar begitu merepotkan sekaligus menyedihkan. Karena saat keadaan seakan terasa mencekam, yang aku dengar adalah nada dingin hati yang terus mengatakan "jangan menangis!", "jangan sedih!", "jangan lemah", "kau sudah terlalu banyak menghabiskan air matamu, dan jangan lakukan lagi!", "jangan perlihatkan kerapuhanmu dengan air mata sialan itu!", "jangan biarkan hatimu terluka lagi!", dan jangan-jangan lainnya yang berhasil merubah wajahku menjadi seorang yang seakan tak berperasaan.

Saat melihat sekitar begitu terluka dengan keadaan, dan banyak air mata yang menggenang berangsur keluar, aku menjadi lebih terlihat menyedihkan karena satu-satunya yang seakan tidak simpati dengan keadaan. Aku hanya bisa menatap kosong entah pada objek apa yang bisa aku jadikan, dan batinku bertanya "kenapa?". "kenapa aku tidak menangis seperti mereka?", "kenapa aku tidak merasakan sedih atau sakit yang sama?", "kenapa aku satu-satunya yang terlihat kejam dengan tidak mengeluarkan air mata?", dan kenapa-kenapa lainnya yang hanya akan membuat kepalaku berat, dan aku tahu, semua pikiran itu takkan singgah sebentar dalam otakku.

Memang menyedihkan ketika kau harus membuat benteng kokoh di dalam hatimu, dan tidak pernah membiarkan siapapun berani menghancurkannya. Memang memilukan ketika sebagian hatimu telah berhasil kau bekukan. Memang mengenaskan ketika kau berhasil terlihat sebagai orang yang tak berperasaan. Tapi tidak! Aku tidak semenyedihkan itu, tidak sememilukan itu, dan tidak semengenaskan itu. Aku senang menjalani peranku. Peran yang tak akan berhasil membuat siapapun berani mengambil kepingan terakhir yang aku miliki. Atau memang sebenarnya aku tidak memiliki apapun lagi.

Sekali lagi, aku membiarkan diriku tertarik kembali ke sisi gelap jalan. Dan berteriak "anybody help me!" adalah hal bodoh yang aku lakukan di saat aku tahu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku sekali lagi ketika aku memang tidak memiliki siapapun yang mengenalku, membacaku semudah dia membaca buku kesukaannya, dan bersedia menjadi arah yang ku tuju ketika aku tidak tahu harus berlari ke arah mana dan pada siapa.

Aku membencinya.


Sabtu, 15 Oktober 2016

Unspoken Words

Hai bintang yang tertutup awan.
Hai malam yang hitam legam.

Ada saat dimana, rasa tak nyaman hinggap di dalam dada, menusuk dan merasuk dengan tekanan yang begitu menyakitkan. Ada saat dimana harapan yang diimpikan, lenyap dalam nyata yang tak ingin di singgah. Ada saat dimana angan menjadi lebih menyenangkan dari sekedar realita yang banyak mengandung tipu daya. Ada saat dimana kata "andai" menjadi lebih berharga dari pada "sebenarnya".

Di sudut kamar dengan langit-langit yang terlihat begitu lusuh, aku meringkuk. Bukan karena berpikir kapan angin kencang akan merobohkan atap rumah, ataupun kapan rumah setengah layak ini di rebut paksa oleh orang yang memaksakan keinginannya. Namun satu yang mampu merobohkan segala pertahanan yang ada dalam diri dengan seketika, dan hal itu yang selalu orang-orang sebut dengan "keyakinan".

Aku ragu. Ragu yang begitu mengepung jiwa tak pernah mampu aku buat lumpuh. Berusaha menutup mata dengan segala yang ada di sekitar, membekukan perasaan hanya karena lelah dengan luka yang selalu dengan mudah orang-orang torehkan, menulikan telinga dari semua suara yang terdengar menyakitkan, menekankan beribu kalimat hanya untuk menguatkan, menahan segala lelah yang menyerbu datang. Segalanya sungguh menyulitkan.

Kenapa harus mereka yang mudah? Kenapa harus aku yang susah? Kenapa mereka bisa? Kenapa aku tidak bisa? Kenapa mereka diizinkan? Kenapa aku tidak diperbolehkan? Kenapa harus mereka? Kenapa harus aku? Kenapa yang aku pertanyakan begitu memuakkan. Dan kenapa-kenapa lainnya yang akan timbul setelahnya begitu menjijikan. Aku..... lelah.

Aku berdiri dengan sisa-sisa keyakinan yang berusaha ku teguhkan. Berusaha percaya pada apa yang sebelumnya aku percayakan. Aku ingin kepercayaanku tidak menipis lebih dari yang sebelumnya. Aku ingin bicara dan berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin berlari dan kabur, tapi tak ada yang di tuju. Sejenak, tak bisakah aku bersandar dalam lelah? Tak bisakah takdir berpihak sedikit saja? 

Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak berguna? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak bisa melakukan apa-apa? Adakah yang tahu bagaimana rasanya, bersembunyi di balik wajah datar dan tak perduli? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak punya pijakan di saat kerapuhan tak lagi dapat di tahan? Aku..... tak tahan.

Adakah yang tahu, ketika satu-satunya harapanmu memilih pergi? Adakah yang tahu, ketika satu-satunya pijakan memilih menyerah dan tak bertahan? Adakah yang tahu, ketika kau tak memiliki genggaman untuk menguatkan? 

Untuk segalanya, segala yang tak pernah bisa aku lakukan, segala yang tak pernah bisa aku pertahankan. Aku..... minta maaf.

Untuk semua, semua yang tak pernah menyerah untuk menghadang, aku mohon..... berhentilah.

Berhentilah merapuhkanku, merapuhkan kami.

Berhentilah menjatuhkanku, menjatuhkan kami.

Berhentilah menyakitiku, menyakiti kami.

Aku, Kami. Kami yang tak dapat berdiri kokoh.

Aku Mohon.




Selasa, 04 Oktober 2016

Hai kamu! (Hai aku!)

Hai malam.
Hai mendung.
Hai ragu.
Hai bimbang.
Hai takut.
Hai semua yang mengekung jiwa.

Bagaimana jika dalam kehidupanmu, bukan dirimulah yang menguasai? Bagaimana jika dalam setiap detik yang kau lewati, bukan dirimulah yang melewati? Bagaimana jika dalam duniamu, tak pernah ada kesempatan yang bisa kau ambil dengan tenang dan tanpa tantang? Bagaimana jika kau selalu diberikan pilihan yang tak pernah kau inginkan? Bagaimana jika, ketika kau memiliki satu-satunya pilihan yang kau inginkan dan harapkan, tapi kemudian satu-satunya pilihan itu sendiri yang memilih pergi dan meninggalkan?!

Hai, jiwa yang selalu berusaha melarikan diri! Hai, jiwa yang selalu diam-diam menangis dalam hati! Hai, jiwa yang selalu memendam setiap teriakan yang meronta meminta keluar! Hai, kamu yang berusaha meninggalkan dirimu yang dulu hanya demi mengubur luka yang sakitnya tak pernah mereda! Hai, kamu yang lupa bagaimana caranya tertawa dengan bahagia! Hai, kamu yang tak lagi ingat caranya tersenyum tulus tanpa pura-pura! Hai, hati yang membeku! Hai!

Kamu! Iya, kamu! Kamu yang telah lama berlari untuk memenuhi apa yang telah menjadi wajibmu, pada akhirnya menulislah tempat pulangmu, putih kosonglah yang menjadi tujuanmu, kata-katalah yang menjadi sandaran letihmu. Hai, kamu! Redamlah segala ragu yang memenuhi relungmu, kuburlah takutmu dalam malam yang menghantarkan hangat dan dingin secara bersamaan, pisahkan raga dan jiwa sejenak dalam lelap hingga mereka ingat siapa yang terlebih dahulu membutuhkan!

Hai, kamu yang hampa! Kamu yang mencintai hening dan sepi, kamu yang merindui tenang dan damai. Senyap telah menjadi duniamu, bukan? Maka, kembalilah pada duniamu, lepaskan topeng yang kau gunakan saat berada pada keramaian dan kegaduhan. Dunia tak sejahat itu untuk melulu membiarkanmu berada dalam paksa yang tak ingin kau rasa. Jika memang menulislah satu-satunya kehidupan yang kau punya, maka menulislah. Jika kau tak bisa menggapai jiwa yang ingin kau jadikan cita, kaburlah pada apa yang ingin kau baca dan berlarilah pada apa yang kau ingin buat cerita.

Hai, jiwa! Beristirahatlah!



***

Tell yourself that everything will be fine. Because no one knows you, loves you, and understands you as you do.



Cute Blue Flying Butterfly>