Hai bintang yang tertutup awan.
Hai malam yang hitam legam.
Ada saat dimana, rasa tak nyaman hinggap di dalam dada, menusuk dan merasuk dengan tekanan yang begitu menyakitkan. Ada saat dimana harapan yang diimpikan, lenyap dalam nyata yang tak ingin di singgah. Ada saat dimana angan menjadi lebih menyenangkan dari sekedar realita yang banyak mengandung tipu daya. Ada saat dimana kata "andai" menjadi lebih berharga dari pada "sebenarnya".
Di sudut kamar dengan langit-langit yang terlihat begitu lusuh, aku meringkuk. Bukan karena berpikir kapan angin kencang akan merobohkan atap rumah, ataupun kapan rumah setengah layak ini di rebut paksa oleh orang yang memaksakan keinginannya. Namun satu yang mampu merobohkan segala pertahanan yang ada dalam diri dengan seketika, dan hal itu yang selalu orang-orang sebut dengan "keyakinan".
Aku ragu. Ragu yang begitu mengepung jiwa tak pernah mampu aku buat lumpuh. Berusaha menutup mata dengan segala yang ada di sekitar, membekukan perasaan hanya karena lelah dengan luka yang selalu dengan mudah orang-orang torehkan, menulikan telinga dari semua suara yang terdengar menyakitkan, menekankan beribu kalimat hanya untuk menguatkan, menahan segala lelah yang menyerbu datang. Segalanya sungguh menyulitkan.
Kenapa harus mereka yang mudah? Kenapa harus aku yang susah? Kenapa mereka bisa? Kenapa aku tidak bisa? Kenapa mereka diizinkan? Kenapa aku tidak diperbolehkan? Kenapa harus mereka? Kenapa harus aku? Kenapa yang aku pertanyakan begitu memuakkan. Dan kenapa-kenapa lainnya yang akan timbul setelahnya begitu menjijikan. Aku..... lelah.
Aku berdiri dengan sisa-sisa keyakinan yang berusaha ku teguhkan. Berusaha percaya pada apa yang sebelumnya aku percayakan. Aku ingin kepercayaanku tidak menipis lebih dari yang sebelumnya. Aku ingin bicara dan berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin berlari dan kabur, tapi tak ada yang di tuju. Sejenak, tak bisakah aku bersandar dalam lelah? Tak bisakah takdir berpihak sedikit saja?
Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak berguna? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak bisa melakukan apa-apa? Adakah yang tahu bagaimana rasanya, bersembunyi di balik wajah datar dan tak perduli? Adakah yang tahu bagaimana rasanya tak punya pijakan di saat kerapuhan tak lagi dapat di tahan? Aku..... tak tahan.
Adakah yang tahu, ketika satu-satunya harapanmu memilih pergi? Adakah yang tahu, ketika satu-satunya pijakan memilih menyerah dan tak bertahan? Adakah yang tahu, ketika kau tak memiliki genggaman untuk menguatkan?
Untuk segalanya, segala yang tak pernah bisa aku lakukan, segala yang tak pernah bisa aku pertahankan. Aku..... minta maaf.
Untuk semua, semua yang tak pernah menyerah untuk menghadang, aku mohon..... berhentilah.
Berhentilah merapuhkanku, merapuhkan kami.
Berhentilah menjatuhkanku, menjatuhkan kami.
Berhentilah menyakitiku, menyakiti kami.
Aku, Kami. Kami yang tak dapat berdiri kokoh.
Aku Mohon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar