/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Jumat, 06 Februari 2015

Jalan Buntu

Pagi ini sudah kau putuskan, jalan mana yang mungkin terbaik untuk kita berdua. Perpisahan, sebagai satu-satunya jalan yang kau pilih. Aku melayangkan banyak pertanyaan yang mungkin membuat bibirmu kelu untuk menjawabnya. Tapi sayang, aku hanya ingin tahu kebenarannya, kebenaran mengenai isi hati dan pikiranmu, karena aku tahu, tidak mungkin selamanya aku menerka-nerka dan menebak-nebak apa yang kau rasakan dan kau pikirkan.


Kamu tak (lagi) menyayanginya, itu kata-katamu yang masih menjadi pertanyaan besarku, kenapa dua hari yang lalu kamu mulai membuka facebook miliknya lagi, dan kau tahu itu menyakitiku. “aku bosan, dan aku jenuh” pembelaanmu yang sesungguhnya telah aku ketahui sejak lama, mengingat sikapmu telah banyak berubah. Tapi, jika bosan, kenapa harus dia yang kau cari? Apa kau merindukannya? Atau bahkan masih menyimpan secercah harapan untuknya? Pertanyaan yang tak akan pernah ku dapatkan jawabannya. Dan, segalanya mulai kembali berbeda, aku asing dengan duniaku sendiri.


Masih teringat jelas di pikiranku ketika kamu bekata bahwa kamu tidak akan menyakitiku lagi, meninggalkan aku untuk kedua kalinya, ataupun mengulangi semua kesalahanmu di masa lalu. Tapi hari ini segalanya terbukti, ketakutan yang menyelimutiku selama ini mulai menunjukkan kebenarannya. Lalu aku bisa apa, sayang? Memaksamu untuk tetap tinggal dan menetap? Aku bukan orang yang suka memaksakan segalanya sesuai keinginanku, meskipun beberapa orang mengatakan aku adalah orang yang perfectionist.


Andai kamu tahu, aku jauh lebih berharap bisa kau jadikan tujuan daripada persinggahan ataupun pelarian. Iyaa, itulah yang aku rasakan. Ketika kamu mulai jenuh denganku, kamu pergi begitu saja tanpa meninggalkan kata-kata yang bisa membuatku merasa segalanya akan baik-baik saja meskipun kamu tak ada. Dan kau datang setiap kali aku mulai bisa melupakan semua yang pernah terjadi di antara kita, terbiasa tanpa kehadiranmu, dan segalanya hancur ketika kau mengulurkan tanganmu (lagi) dan berharap aku akan meraihnya kembali, seperti saat pertama kali kamu ucapkan janji kita akan bersatu sampai tua nanti.


Aku ingin menangis, meluapkan segala amarahku karenamu. Tapi aku tak bisa. Aku harus selalu dan selalu terlihat baik-baik saja di hadapan keluargaku, dan itu seperti sebuah tuntutan yang harus aku jalani. Kamu melempariku dengan jutaan rasa sakit yang tak dapat aku tahan deraannya. Aku sudah berjalan sejauh ini, berusaha bertahan dalam banyak rasa yang berkecamuk dalam dada. Aku sudah berjuang mempertahankanmu selama ini, menutup hati untuk setiap laki-laki manapun yang berusaha memasuki, dan segalanya tak berarti.


Apa yang aku perjuangkan adalah apa yang kamu sia-siakan, selalu dan selalu seperti itu. Kata bosan dan jenuh yang keluar dari bibir manismu membuatku hancur seketika, dan pertahananku roboh tak tersisa. Apa kamu pikir aku tak bosan? Apa menurutmu aku tidak jenuh? Ketahuilah, aku jauh lebih bosan, aku jauh lebih jenuh, dan aku sangat lelah. Apa kamu pikir menunggumu selama tiga tahun lamanya tidak membuatku merasa lelah? Aku lelah, sayang. Aku letih dalam penantian yang setiap detiknya membunuhku. Dan kau tak mau tahu.


Perpisahan yang kamu pilih sebagai jalan buntu bagi hubungan kita berdua, aku terima. Tiga tahun lagi kau akan kembali? Iyaa, itulah akhir penantianku untuk janji di masa lalu. Janji bahwa aku akan menunggumu 6 tahun lagi sejak 3 tahun yang lalu. Aku masih memegang janji itu di hatiku. Janji yang selama ini berusaha keras aku tunjukkan kepadamu, bahwa aku masih berjuang menepati janjiku.


Perpisahan yang kamu pilih mungkin tidaklah salah. Tapi mungkin aku yang salah telah mengambil cara untuk bunuh diri dengan menerima kehadiranmu lagi. Telah aku terima semua masa lalu yang kembali terulang di hari ini. Telah aku relakan kamu pergi dari kehidupanku seperti yang kau mau. Hal yang harus ku terima, kau pergi untuk kedua kalinya.


Kamu tepat memilih hari kapan kita berpisah, tepat seminggu setelah anniversarry kita ke-4. Tepat seperti perpisahan pertama kita 3 tahun yang lalu. Selamat tinggal, sayang. Selamat menjalani hari-hari tanpa kehadiranku. Aku, belajar tanpamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>