Pagi ini sudah kau putuskan,
jalan mana yang mungkin terbaik untuk kita berdua. Perpisahan, sebagai
satu-satunya jalan yang kau pilih. Aku melayangkan banyak pertanyaan yang
mungkin membuat bibirmu kelu untuk menjawabnya. Tapi sayang, aku hanya ingin
tahu kebenarannya, kebenaran mengenai isi hati dan pikiranmu, karena aku tahu,
tidak mungkin selamanya aku menerka-nerka dan menebak-nebak apa yang kau
rasakan dan kau pikirkan.
Kamu tak (lagi) menyayanginya,
itu kata-katamu yang masih menjadi pertanyaan besarku, kenapa dua hari yang lalu
kamu mulai membuka facebook miliknya
lagi, dan kau tahu itu menyakitiku. “aku bosan, dan aku jenuh” pembelaanmu yang
sesungguhnya telah aku ketahui sejak lama, mengingat sikapmu telah banyak
berubah. Tapi, jika bosan, kenapa harus dia yang kau cari? Apa kau
merindukannya? Atau bahkan masih menyimpan secercah harapan untuknya?
Pertanyaan yang tak akan pernah ku dapatkan jawabannya. Dan, segalanya mulai
kembali berbeda, aku asing dengan duniaku sendiri.
Masih teringat jelas di pikiranku
ketika kamu bekata bahwa kamu tidak akan menyakitiku lagi, meninggalkan aku
untuk kedua kalinya, ataupun mengulangi semua kesalahanmu di masa lalu. Tapi
hari ini segalanya terbukti, ketakutan yang menyelimutiku selama ini mulai menunjukkan
kebenarannya. Lalu aku bisa apa, sayang? Memaksamu untuk tetap tinggal dan
menetap? Aku bukan orang yang suka memaksakan segalanya sesuai keinginanku,
meskipun beberapa orang mengatakan aku adalah orang yang perfectionist.
Andai kamu tahu, aku jauh lebih
berharap bisa kau jadikan tujuan daripada persinggahan ataupun pelarian. Iyaa,
itulah yang aku rasakan. Ketika kamu mulai jenuh denganku, kamu pergi begitu
saja tanpa meninggalkan kata-kata yang bisa membuatku merasa segalanya akan
baik-baik saja meskipun kamu tak ada. Dan kau datang setiap kali aku mulai bisa
melupakan semua yang pernah terjadi di antara kita, terbiasa tanpa kehadiranmu,
dan segalanya hancur ketika kau mengulurkan tanganmu (lagi) dan berharap aku
akan meraihnya kembali, seperti saat pertama kali kamu ucapkan janji kita akan
bersatu sampai tua nanti.
Aku ingin menangis, meluapkan
segala amarahku karenamu. Tapi aku tak bisa. Aku harus selalu dan selalu
terlihat baik-baik saja di hadapan keluargaku, dan itu seperti sebuah tuntutan
yang harus aku jalani. Kamu melempariku dengan jutaan rasa sakit yang tak dapat
aku tahan deraannya. Aku sudah berjalan sejauh ini, berusaha bertahan dalam
banyak rasa yang berkecamuk dalam dada. Aku sudah berjuang mempertahankanmu
selama ini, menutup hati untuk setiap laki-laki manapun yang berusaha memasuki,
dan segalanya tak berarti.
Apa yang aku perjuangkan adalah
apa yang kamu sia-siakan, selalu dan selalu seperti itu. Kata bosan dan jenuh
yang keluar dari bibir manismu membuatku hancur seketika, dan pertahananku
roboh tak tersisa. Apa kamu pikir aku tak bosan? Apa menurutmu aku tidak jenuh?
Ketahuilah, aku jauh lebih bosan, aku jauh lebih jenuh, dan aku sangat lelah.
Apa kamu pikir menunggumu selama tiga tahun lamanya tidak membuatku merasa
lelah? Aku lelah, sayang. Aku letih dalam penantian yang setiap detiknya
membunuhku. Dan kau tak mau tahu.
Perpisahan yang kamu pilih
sebagai jalan buntu bagi hubungan kita berdua, aku terima. Tiga tahun lagi kau
akan kembali? Iyaa, itulah akhir penantianku untuk janji di masa lalu. Janji
bahwa aku akan menunggumu 6 tahun lagi sejak 3 tahun yang lalu. Aku masih
memegang janji itu di hatiku. Janji yang selama ini berusaha keras aku
tunjukkan kepadamu, bahwa aku masih berjuang menepati janjiku.
Perpisahan yang kamu pilih mungkin
tidaklah salah. Tapi mungkin aku yang salah telah mengambil cara untuk bunuh
diri dengan menerima kehadiranmu lagi. Telah aku
terima semua masa lalu yang kembali terulang di hari ini. Telah aku relakan
kamu pergi dari kehidupanku seperti yang kau mau. Hal yang harus ku terima, kau
pergi untuk kedua kalinya.
Kamu tepat memilih hari kapan
kita berpisah, tepat seminggu setelah anniversarry
kita ke-4. Tepat seperti perpisahan pertama kita 3 tahun yang lalu. Selamat tinggal,
sayang. Selamat menjalani hari-hari tanpa kehadiranku. Aku, belajar tanpamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar