Malam yang menyejukkan dengan
taburan bintang di langit, apa ada yang lebih baik dari semua itu? Di sebuah
tempat, aku menunggu seseorang; sahabat karib, teman terbaik. Terdengar jelas
suara langkah kaki yang telah ku hafal dengan baik.
“lama
gak ketemu!” sapaku.
“hai
Dit!”
(aku
tersenyum mendengar suaranya)
“Ditaaa!” Adit menyebut namaku dengan tegas dan berdiri
di sampingku.
“apa?”
“gw
dateng, dan lo masih aja mempertahankan posisi lo”
“emang
seharusnya gimana?” aku menoleh
ke-arahnya.
“yaa
setidaknya lo berbalik arah buat ngeliat gw!”
(aku
kembali tersenyum)
“gimana
kabar lo?”
“baik,
lo sendiri?”
“menurut
lo?” aku kembali melemparkan pertanyaan.
Diam. Hanya suara semilir angin
yang berhembus diantara kita berdua, seakan-akan sibuk dengan pemikiran
masing-masing; entah apa.
“ada
apa?” Adit mulai bertanya.
“gak
ada apa-apa. Emang ada apa?”
“ada
hawa yang beda.”
“hawa?
Hawa apa?”
“hawa
suram yang memancar keluar dari diri lo.”
ledeknya.
“hahaha,
sial.”
“Ditaaaa....”
“iyaa
Adiiiiiiitttt....”
(kami
saling menoleh, kemudian tertawa)
“pasti
ada yang terjadi selama gw gak ada, iyaa kan?”
“Adit,
semua baik-baik aja, itu cuma perasaan lo aja.”
“dan
perasaan gw gak mungkin salah kan, dit?”
“Adit, udah deeh, masih aja hobby menebak-nebak. Gak ada yang terjadi.”
“Adit, udah deeh, masih aja hobby menebak-nebak. Gak ada yang terjadi.”
“terus
apa kabar sama hati lo?”
“hati
gw? Baik-baik aja”
“Ditaa,
gw tau kook.”
“tau
apa?”
“tau
kalo lo lagi berusaha nyembunyiin sesuatu dari gw.”
“nyembunyiin
apa?”
Suasana kembali hening. Aku tau
apa yang Adit maksud, dan ke arah mana pembicaraannya. Aku hanya tak ingin
mengungkitnya saat ini.
“gw
kenal sama lo gak satu-dua hari, gak satu-dua bulan, bahkan tahun.”
“iyaa
gw tau, terus kenapa?”
“yaa
itu berarti lo tau kalo gak ada yang bisa lo sembunyiin dari gw.”
“nyembunyiin
apa siih, Dit?”
“Ditaaaa.....” ada nada kesal dari ucapannya.
“hhhhhhhhh” aku hanya menghela nafas.
“lo
di putusin lagi kan?”
“Adit,
tolong ralat kata-kata lo. gw gak pernah di putusin, dit.”
“gak
pernah di putusin, cuma ditinggalin? Itu sama aja, Dita.”
“seharusnya
itu bukan lagi jadi hal yang mengherankan buat lo!”
“yaa
emang bukan.”
“trus
letak permasalahannya dimana?”
“yaa
di diri lo.”
“Adiiiitttt....”
“Ditaaa....” Adit memotong perkataanku terlebih dahulu.
“dia
selalu ninggalin gw di persimpangan. Apa dia anggep perasaan gw cuma sebagai
candaan?” aku meninggikan nada suaraku.
“gw
percaya lo udah berusaha sebaik mungkin, Dita.”
“apa ada
yang salah di diri gw?”
“Dita,
jangan bilang begitu!”
“lo juga
ninggalin gw, Dit. Lo pergi dan gw laluin semuanya sendiri.”
“maaf.” Suaranya terdengar lirih.
“udahlah,
Dit. Gw gak mau ngungkit semuanya.”
Aku tahu dan aku berusaha
memahami kesibukanmu. Aku mengetahui, setelah ini, kau pun akan pergi lagi,
berkutat dengan dunia barumu yang tidak akan pernah bisa aku masuki.
“gw
cuma punya waktu buat ketemu lo sekarang.”
“gw
tau. Setelah ini lo bakal pergi lagi kan?”
“Dita,
selama gw disini, lo bisa keluarin semua yang lo rasain.”
“apa
gw harus cerita sama lo?”
“iyaa,
selama lo masih nganggep gw temen lo.”
(aku
hanya menanggapinya dengan tersenyum)
Angin tak berhenti berhembus,
menyejukkan hati yang sedang kacau, dan pikiran yang berkecamuk. Kami hanya
terdiam, merasakan semilir angin dan melihat banyak bintang yang hadir menemani
kami.
“Ditaaa...”
“yaaaa....”
“trus
sekarang gw bisa ngelakuin apa buat lo?”
“lo
bisa meluk gw, Dit.”
“apa
itu bisa bikin lo tenang.”
“setidaknya
itu bisa bikin gw ngerasa sedikit lebih baik.” Aku tersenyum ke arahnya.
(Adit
tersenyum, kemudian memelukku)
Tak ada yang lebih baik dari
pelukkan yang kau hadirkan untuk menenangkanku. Aku merasa memilikimu ketika
aku berada dalam dekapanmu, tapi setelah kau melepasnya, aku kembali tersadar,
kau harus pergi (lagi) memasuki dunia barumu yang tidak ada aku di dalamnya. Duniaku
sepi sejak kau pergi. Aku menjajaki kehidupanku tanpamu. Tapi peluk yang kau
hadirkan malam itu, membuatku merasa aku masih memiliki tempat dalam pikiranmu. Sahabatku, tak ada yang tersisa sejak dia memilih pergi dan kau pun pergi, dan
aku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar