/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Minggu, 22 Februari 2015

Tak Ada yang Tersisa

Malam yang menyejukkan dengan taburan bintang di langit, apa ada yang lebih baik dari semua itu? Di sebuah tempat, aku menunggu seseorang; sahabat karib, teman terbaik. Terdengar jelas suara langkah kaki yang telah ku hafal dengan baik.

          “lama gak ketemu!”  sapaku.

          “hai Dit!”

          (aku tersenyum mendengar suaranya)

         “Ditaaa!”  Adit menyebut namaku dengan tegas dan berdiri di sampingku.

          “apa?”

          “gw dateng, dan lo masih aja mempertahankan posisi lo”

          “emang seharusnya gimana?”  aku menoleh ke-arahnya.

          “yaa setidaknya lo berbalik arah buat ngeliat gw!”

          (aku kembali tersenyum)

          “gimana kabar lo?”

          “baik, lo sendiri?”

          “menurut lo?”  aku kembali melemparkan pertanyaan.

Diam. Hanya suara semilir angin yang berhembus diantara kita berdua, seakan-akan sibuk dengan pemikiran masing-masing; entah apa.

          “ada apa?”  Adit mulai bertanya.

          “gak ada apa-apa. Emang ada apa?”

          “ada hawa yang beda.”

          “hawa? Hawa apa?”

          “hawa suram yang memancar keluar dari diri lo.”  ledeknya.

          “hahaha, sial.” 

          “Ditaaaa....”

          “iyaa Adiiiiiiitttt....”

          (kami saling menoleh, kemudian tertawa)

          “pasti ada yang terjadi selama gw gak ada, iyaa kan?”

          “Adit, semua baik-baik aja, itu cuma perasaan lo aja.”

          “dan perasaan gw gak mungkin salah kan, dit?”

       “Adit, udah deeh, masih aja hobby menebak-nebak. Gak ada yang terjadi.”

          “terus apa kabar sama hati lo?”

          “hati gw? Baik-baik aja”

          “Ditaa, gw tau kook.”

          “tau apa?”

          “tau kalo lo lagi berusaha nyembunyiin sesuatu dari gw.”

          “nyembunyiin apa?”

Suasana kembali hening. Aku tau apa yang Adit maksud, dan ke arah mana pembicaraannya. Aku hanya tak ingin mengungkitnya saat ini.

          “gw kenal sama lo gak satu-dua hari, gak satu-dua bulan, bahkan tahun.”

          “iyaa gw tau, terus kenapa?”

          “yaa itu berarti lo tau kalo gak ada yang bisa lo sembunyiin dari gw.”

          “nyembunyiin apa siih, Dit?”

          “Ditaaaa.....”  ada nada kesal dari ucapannya.

          “hhhhhhhhh”  aku hanya menghela nafas.

          “lo di putusin lagi kan?”

          “Adit, tolong ralat kata-kata lo. gw gak pernah di putusin, dit.”

          “gak pernah di putusin, cuma ditinggalin? Itu sama aja, Dita.”

          “seharusnya itu bukan lagi jadi hal yang mengherankan buat lo!”

          “yaa emang bukan.”

          “trus letak permasalahannya dimana?”

          “yaa di diri lo.”

          “Adiiiitttt....”

          “Ditaaa....”  Adit memotong perkataanku terlebih dahulu.

“dia selalu ninggalin gw di persimpangan. Apa dia anggep perasaan gw cuma sebagai candaan?”  aku meninggikan nada suaraku.

“gw percaya lo udah berusaha sebaik mungkin, Dita.”

“apa ada yang salah di diri gw?”

“Dita, jangan bilang begitu!”

“lo juga ninggalin gw, Dit. Lo pergi dan gw laluin semuanya sendiri.”

“maaf.”  Suaranya terdengar lirih.

“udahlah, Dit. Gw gak mau ngungkit semuanya.”

Aku tahu dan aku berusaha memahami kesibukanmu. Aku mengetahui, setelah ini, kau pun akan pergi lagi, berkutat dengan dunia barumu yang tidak akan pernah bisa aku masuki.

          “gw cuma punya waktu buat ketemu lo sekarang.”

          “gw tau. Setelah ini lo bakal pergi lagi kan?”

          “Dita, selama gw disini, lo bisa keluarin semua yang lo rasain.”

          “apa gw harus cerita sama lo?”

          “iyaa, selama lo masih nganggep gw temen lo.”

          (aku hanya menanggapinya dengan tersenyum)

Angin tak berhenti berhembus, menyejukkan hati yang sedang kacau, dan pikiran yang berkecamuk. Kami hanya terdiam, merasakan semilir angin dan melihat banyak bintang yang hadir menemani kami.

          “Ditaaa...”

          “yaaaa....”

          “trus sekarang gw bisa ngelakuin apa buat lo?”

          “lo bisa meluk gw, Dit.”

          “apa itu bisa bikin lo tenang.”

“setidaknya itu bisa bikin gw ngerasa sedikit lebih baik.”  Aku tersenyum ke arahnya.

(Adit tersenyum, kemudian memelukku)


Tak ada yang lebih baik dari pelukkan yang kau hadirkan untuk menenangkanku. Aku merasa memilikimu ketika aku berada dalam dekapanmu, tapi setelah kau melepasnya, aku kembali tersadar, kau harus pergi (lagi) memasuki dunia barumu yang tidak ada aku di dalamnya. Duniaku sepi sejak kau pergi. Aku menjajaki kehidupanku tanpamu. Tapi peluk yang kau hadirkan malam itu, membuatku merasa aku masih memiliki tempat dalam pikiranmu. Sahabatku, tak ada yang tersisa sejak dia memilih pergi dan kau pun pergi, dan aku sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>