/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Jumat, 06 Mei 2016

Lima Belas Bulan Berlalu

Malam dan hari yang cukup sepi. Di kamarku yang gelap aku menyendiri, lagu don't you remember dari Adele berkumandang mengisi sela-sela kesunyian kamarku. Aku harap, hujan tidak terjadi di kamarku. Aku tidak tahu kenapa sampai detik ini, lagu itu masih sanggup membuat ingatanku tentangmu menguat, dan tentang kepergianmu yang tanpa aku ketahui dengan jelas alasannya-- begitu kuat menelusup memoriku. Aku benci saat-saat dimana aku bisa lebih membenci diriku sendiri daripada membenci orang lain, dan terutama kamu. Yaa, kamu-- dan akan selalu tentang kamu, entah sampai kapan. Aku telah berusaha untuk menahan diri agar tidak lagi menulis semua tentangmu, tentang kepergianmu, dan juga tentang betapa luka yang ku dapatkan karna kehilanganmu masih menganga tanpa ada tanda-tanda kesembuhan. Tapi Tuan, apakah yang aku dapatkan saat aku menahan diri untuk tidak menulis lagi semua tentang kita? Maukah kamu mengetahui bahwa yang aku dapatkan hanyalah rasa sakit yang semakin menjalar ke setiap aliran darah dan ke setiap ujung syarafku? Kenapa Tuan? Kenapa kehilangan sosok murahan sepertimu bisa begitu menyakitkan? Kenapa kepergian manusia yang tak punya hati sepertimu bisa begitu memilukan?

Sudah terhitung sejak keputusanmu meninggalkanku lima belas bulan yang lalu. Lima belas bulan yang ku jalani dengan penuh derita. Dan kini lagu don't you remember dari Adele berganti, lagu I'm not the only one dari Sam Smith kini menemani malamku, menemaniku menulis tentang betapa masih terlukanya aku mengingatmu. Lagu yang justru mengingatkanku tentang bagaimana kau menyembunyikan wanita itu dariku, yang kemudian kau tinggalkan aku demi bersamanya. Ya, lagu yang semakin membuatku teringat akan hari dimana kamu memutuskan untuk meninggalkanku demi wanita yang belum lama kau kenal-- kini membuatku semakin muak akan kenangan yang kau berikan di hari anniversarry kita yang ke empat. Tentu saja aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Yaa, ini memang bukan salahmu, juga bukan salahnya, tapi ini salahku yang sudah terlalu menganggapmu menjadi bagian terpenting di hidupku-- yang sudah menganggapmu menjadi duniaku, hingga kau pergi dan aku.......... aku menjadi tak menentu. Ini bukan salahmu, tentu saja. Jika saja aku tak menganggap segala yang kau janjikan adalah keseriusan, aku takkan menjadi gadis yang hampir kehilangan kewarasannya hanya karna kepergian seseorang yang tak punya hati sepertimu.

Aku pikir aku bisa melupakanmu dengan segala kesibukkan kuliahku yang semakin memadatkan waktu. Aku pikir aku bisa segera melenyapkanmu dari ingatanku dengan tugas-tugas kuliahku. Aku pikir dengan judul-judul skripsi yang ku siapkan dan yang akan dilanjutkan dengan pembuatan proposal skripsi bisa membuatku meng-enyahkanmu dari duniaku. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika namamu masih saja berotasi di otakku sebelum aku beranjak tidur? Tapi apa yang bisa aku lakukan jika bayanganmu masih saja mampir di setiap mimpiku? Apa yang harus aku lakukan , Tuan, dengan kehadiranmu di setiap lelapku yang selalu saja membuatku terbangun dari tidur dalam keadaan yang sama? Dengan air mata yang hinggap di mata, apa yang bisa aku lakukan untuk segala yang..... ah, sudahlah. Beribu kali aku jelaskan dan aku ceritakan padamu pun takkan bisa membuatmu mengerti. Bukankah laki-laki sepertimu takkan pernah bisa memahami siksa hati yang kau ciptakan untuk gadis sepertiku? Bukankah memang sudah hobbimu berlari dari satu wanita ke wanita yang lain? Bukankah memang sudah kebiasaanmu singgah dari satu hati ke hati yang lain? Bukankah kau memang tak pernah bisa bertahan pada satu hati, Tuan?

Maukah kamu mengetahui satu hal saja? Bahwa aku tumbuh dengan harapan setiap detiknya. Aku menanamkan harapan yang sama di setiap jengkal kehidupanku, dan itu adalah harapan betapa aku tidak menginginkan pertemuan kita terjadi. Maafkan aku, Tuan, bukan aku tidak menghargai setiap hal yang kau beri untuk membahagiakanku dulu, tapi aku hanya tidak menginginkan hal berharga apapun darimu menelusup di setiap memori ingatanku. Mengingat betapa aku mencintaimu setiap detik. Mengingat betapa aku merindukanmu di setiap hela nafasmu. Mungkin laki-laki sepertimu hanya bisa berpikir betapa berlebihannya aku terhadapmu, tapi tidak pernahkah kau lihat cinta yang begitu melekat memang tak pernah lepas dari sebuah kata berlebihan seperti yang pikirkan. Maafkan aku, Tuan yang kini telah mampu mencapai kesuksesannya, maafkan aku karna aku tak bisa menelaah maksud awalmu memasuki kehidupanku. Ya, andai saat itu aku tidak tergiur dengan harapan suci yang kau berikan, mungkin aku takkan jadi segila ini hidup tanpamu. Aku mulai meyakinkan diriku betapa kau sudah bahagia dengan kekasihmu yang baru, dan aku menjadi semakin berusaha lebih keras untuk meyakinkan hatiku bahwa kepulanganmu menjadi sesuatu yang mustahil untuk aku rindu.

Aku menjadi semakin takut saat malam mulai menyelimutiku, aku mulai terbiasa menahan kantuk hanya untuk menunda tidurku, aku menjadi semakin takut setiap kali aku terbangun dan mengingat kau hadir di mimpiku. Sungguh, aku tidak ingin tidur malam ini. Sungguh, aku benci ketika aku harus tersadar dari tidurku dalam keadaan air mata yang sudah berlinang. Kamu tentu tidak tahu betapa aku ingin berteriak dan menangis setiap kali kau mampir di setiap lelapku. Kamu tentu tidak tahu betapa mimpi tentangmu selalu mengingatkanku untuk tidak lagi mencintaimu seperti dulu. Tapi mungkin kamu juga tidak tahu betapa aku ingin berhenti mencintaimu. Aku benci harus tetap mencintaimu disaat kau membuangku dengan begitu keji. Lihatlah, Tuan, betapa keadaan mempermainkanku dengan begitu kejam. Mungkin memang sudah niat takdir untuk menghempaskanku dengan sangat kasar. Atau kamu memang seseorang yang suka menjadikan keadaan sebagai wadah untuk membuat alasan untuk kemudian pergi meninggalkan? Jika takdir tidak mengizinkanmu pulang, lantas mengapa takdir tetap tak menghilangkan rasa yang telah datang? Kenapa, Tuan? Kenapa bahkan setelah lima belas bulan berlalu rasaku untukmu masih tetap sama seperti dulu? Kenapa, Tuan? Kenapa seperti itu? Bukankah sungguh tak adil untukku, saat kau bisa begitu bahagia tanpaku, lantas aku masih tetap sengsara karna kehilanganmu. Jelaskan padaku, Tuan. Jelaskan kenapa aku masih begitu merasakan hangat peluk yang telah lama kau tinggalkan! Tak bisakah aku mendapat sedikit saja jawaban?



Selamat malam untukmu, Tuan
Dari wanita yang kau tinggalkan tanpa alasan, 
yang diam-diam masih mengharapkanmu pulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>