/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/nature/nat-4/nat322.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Setiap kata berasal dari air mata yang sama..

Rabu, 23 Maret 2016

Dearest

Ayah. Sosok yang memiliki begitu banyak makna, tapi tak ku temukan makna itu dalam duniaku. Cinta pertama yang ku miliki sejak aku terlahir di fana. Tapi dimana kau? Tak ada. Ragamu tak lagi bisa ku sentuh, wujudmu tak bisa lagi ku lihat, dan suaramu tak lagi dapat ku dengar. Ayah, Cinta sejati yang murni. Amarahmu yang membuktikan kenakalanku, kini tak lagi ku saksikan sejak enam setengah tahun yang lalu. Rangkulanmu tak bisa lagi ku rasakan sejak kau pergi. Seharusnya kau tetap disini.

Ayahanda, seharusnya sosokmu tetap ada, tetap setia, tetap menjaga tubuh kecil ini yang tak sekuat perlindunganmu. Seharusnya tak kau tinggalkan aku secepat itu. Seharusnya kau tak pergi saat aku baru memasuki usia remaja, sehingga takkan kau biarkan aku terperosok pada jurang kegelapan. Seharusnya tak kau biarkan aku berdiri dalam keputus-asaan saat ini. Seharusnya kau ada untuk mengajarkanku menjadi wanita yang tangguh, tapi kau pergi meninggalkan banyak ketakutan dalam duniaku.

Ayahanda kekasihku, kepergianmu membuatku takut akan kesalahan-kesalahan yang akan aku lakukan. Ketakutanku akan memilih jalan, memilih pasangan, menentukan arah tujuan, kau tinggalkan aku sendirian dengan segala ketakutan yang kau timbulkan karna ketidak-hadiranmu. Keputus-asaan yang keadaan ciptakan, lantas bagaimana caraku meniadakan? Bagaimana aku bertahan dalam setiap terpaan keresahan? Karna seharusnya kau ada untuk ajarkan aku segalanya, segala yang tak ku bisa.

Duhai cinta pertamaku, bukankah seharusnya kau masih disini, memarahi setiap laki-laki yang berusaha mendekati putri kecilmu? Melindungiku dari setiap bahaya yang ada? Bukankah seharusnya kau ajarkan aku terlebih dahulu, segala sesuatu yang bersifat semu. Bukankah seharusnya kau beritahu aku terlebih dahulu, bahwa tak sembarang laki-laki boleh mendekatiku? Bukankah seharusnya kau tidak pergi secepat itu? Meninggalkanku dengan segala hal yang belum ku tahu? Bukankah seharusnya tak kau biarkan ada satu orang pun yang bisa melukai hati putrimu?

Wahai ayahanda tercinta, sosok yang selalu mengorbankan segalanya demi sebuah bahagia untukku, bidadari kecilmu. Kau pergi di saat aku masih sangat membutuhkanmu. Kau tinggalkan aku di saat aku memerlukan perlindunganmu. Kau tak ada untuk menuntunku kembali saat aku hilang arah. Tak kau tunjukkan dimana letak cahaya bahagia yang selalu ingin kau berikan itu. Karna tak mungkin kau biarkan aku jatuh, terbelenggu dan terinjak. Karna tak kau berikan aku kekuatan yang selalu kau pancarkan untuk melindungiku.

Duhai ayah, andai kau tahu, meski kau berada di dunia yang berbeda, aku berharap kau kembali, berharap kau tetap ada di sisi. Karna tak ada yang dapat diharapkan dari seorang gadis yang beranjak dewasa tanpa bimbingan ayahnya, kakak laki-laki pun tak punya. Segala sesuatu yang ada, perlahan menghilang tak bersisa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Blue Flying Butterfly>