Kamu hadir hari ini menemuiku dan atas permintaanku. Aku berniat memberikanmu sesuatu yang aku miliki; sebuah lampu musik kesayanganku yang dihadiahkan olehnya sebagai kado ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Kenapa harus kamu? Karna aku ragu memberikannya kepada orang lain, karna hanya kamu satu-satunya orang yang aku percayai hingga saat ini. Ketika semua orang yang aku percayai, mengkhianatiku, aku kehilangan kepercayaan kepada semua orang yang aku kenali, dan satu-satunya kepercayaan yang masih ada hanyalah kepercayaanku kepadamu.
Kamu sampai dirumahku, melihatku dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Aku menyambut kehadiranmu dengan wajah penuh kesedihan, mata yang sembab, dan pipi yang dipenuhi dengan air mata yang mengering. Terlihat jelas di matamu, sebuah tanda tanya mengapa aku sampai seperti itu, kau melihatku dengan tatapan kasihan.
"kenapa?" kau mulai bertanya.
"gapapa." jawabku.
"bohong. itu kenapa nangis?"
"siapa yang nangis siih!"
"kenapa?" kau terus menanyakan hal yang sama.
"gapapa."
"bisa banget siih malingin muka kaya gitu pas lagi di tanya!"
"di bilangin gapapa juga, lagian siapa yang nangis tahu." aku berbohong.
"mana lampu yang mau di kasih ke gw?"
"ada di atas, di kamar."
"yaudah ambil giih, gw ikut ke atas yaa?"
"yaudah ke atas aja."
Aku mengambil lampu itu dari lemari, kemudian memasangnya, dan menunjukkannya kepadamu. Aku tahu kau menginginkannya setelah melihatnya.
"lucu juga yaa?" katamu.
"itu kado ulang tahun dari dia." pernyataanku.
"ini kado dari dia? trus kenapa di kasih ke gw?" kau mulai mengajukan pertanyaan yang membingungkanku menjawabnya.
"gapapa." tak ada jawaban lain yang bisa aku lontarkan.
"sini ikut gw." kau menarikku menuju kamar.
"kenapa siiih?"
"sekarang gw tanya sama lu, kalo ini pemberian dia, kenapa lu kasih ke gw?"
"yaa terus mau di kasih ke siapa lagi?" aku berusaha menahan air mataku.
"sekarang gw tanya sama lu, apa yang lu rasain pas gw nyalain lampu ini?" nada suaramu terdengar pelan tapi begitu tegas di telingaku. Kemudian kau menyalakan lampu musik itu.
aku tak kuasa menahan air mata yang kian membendung, aku hanya bisa menangis membelakangimu.
"sekarang jawab pertanyaan gw, ada apa?"
"gak ada apa-apa, beneran." aku berusaha membela diriku sendiri.
"gw banting yaa niih lampu?"
"Adit, jangaaaannn!" air mataku mulai mengalir, dan aku terduduk di kasur.
"yaudah jawab, kalo gak di jawab juga gw banting beneran ini lampu!"
"Adit, jangaaann, jangan di banting." aku hanya bisa menangis.
"bangun, songong kan gw lagi ngomong lu malah duduk."
Aku berdiri menghampirinya, tepat di hadapannya, dengan tatapan sendu aku menatapnya.
"ada apa?" kau kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
"gw gatau mau jawab apa."
"Dita, pacaran kalo berantem itu wajar, gw juga begitu sama cewe gw."
"gw udah putus sama dia."
"kapan?"
"akhir januari kita anniv yang ke-4 tahun, seminggu setelah itu dia bilang bosen dan mau sendiri dulu. tapi sekarang dia mungkin udah punya pacar, Dit."
aku memalingkan wajahku darinya, bersandar di tembok kamar, dan menangis tanpa ada jawaban untuk pernyataanmu.
"kuat, Dita, kuat. lu gak boleh begini terus. ayo, lu harus kuat, gak boleh nangis."
aku hanya terdiam, entah apa yang harus aku katakan padamu.
"yaudah, kalo udah putus, yaudah. lu anak baik, Dita, pasti lu bakal dapetin yang lebih baik dari dia."
"iyaa."
Kau memelukku yang hanya bisa menangis. Aku berharap, aku bisa kuat seperti yang kau katakan. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku percayai setelah aku kehilangan kepercayaan kepada orang-orang di sekelilingku.
Kita menonton film kartun bersama. Aku kuat jika ada kamu, tapi saat kau pergi, aku kembali rapuh. Nyaman rasanya berada di sampingmu ketika aku benar-benar tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Hingga waktunya kau untuk pulang.
"Dit, lampunya kok gak di bawa?" tanyaku.
"gw gak bawa tas, Dita. ribet aahh bawanya. Fiyan aja tuuh suruh bawa.
"oohh yaudah, di jaga yaa, Yan."
"iyaa gw jagain." tegas Fiyan.
Aku merasakan ada keraguan di hatimu untuk membawa lampu musik yang aku berikan. Seharusnya, aku tidak memberitahumu bahwa itu adalah hadiah pemberian darinya. Mengingat sebelumnya kau menginginkan lampu musik itu, tapi kau menolaknya dengan cara yang begitu halus. Aku mengerti apa yang kau rasakan, ketidaknyamananmu jika harus mengambil barang pemberiannya dari tanganku. Aku mengerti apa yang kau pikirkan, kau tidak bisa mengambilnya, karna kau tahu, itu adalah benda berharga kesayanganku yang di hadiahkan olehnya. Tak apa, Aku memahamimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar